
DOYANDUIT – Pasar saham Korea Selatan baru saja mengalami salah satu periode paling liar dalam sejarah modernnya.
Dalam waktu sekitar satu bulan, indeks KOSPI sempat kehilangan hampir 30% nilainya dari puncak Juni 2026. Ribuan miliar dolar kapitalisasi pasar menguap, ratusan ribu investor ritel terkena likuidasi paksa, dan pemerintah terpaksa turun tangan membatasi produk investasi berisiko tinggi.
Yang menarik, penyebab utamanya bukan resesi atau krisis perbankan.
Pusat badai justru berada di sektor yang selama dua tahun terakhir dianggap sebagai mesin pertumbuhan dunia: kecerdasan buatan atau AI.
Ketika AI Menjadi Tulang Punggung Bursa Korea
Awal 2026 menjadi masa keemasan bagi saham teknologi Korea Selatan.
Dua raksasa semikonduktor, Samsung Electronics dan SK Hynix, menikmati lonjakan permintaan chip memori yang digunakan dalam pengembangan AI generatif. Permintaan terhadap High Bandwidth Memory (HBM) meningkat tajam seiring ekspansi pusat data AI di Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya.
Investor berbondong-bondong masuk.
Masalahnya, arus dana tersebut terlalu terkonsentrasi.
Bank of Korea memperingatkan bahwa Samsung dan SK Hynix telah mewakili lebih dari separuh kapitalisasi dan aktivitas perdagangan pasar saham Korea Selatan. Ketika dua saham ini bergerak, seluruh pasar ikut terguncang.
Investor Muda Berbondong-bondong Masuk
Di tengah mahalnya harga rumah dan sulitnya mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan tinggi, banyak generasi muda Korea Selatan melihat saham sebagai jalan tercepat untuk meningkatkan kondisi finansial mereka.
Euforia AI memperkuat keyakinan tersebut.
Tidak sedikit investor yang menggunakan margin, pinjaman, hingga produk leverage untuk memperbesar potensi keuntungan. Dalam praktiknya, keuntungan memang bisa berlipat saat pasar naik.
Sayangnya, kerugian juga berlipat saat pasar turun.
Sejumlah analis menyebut fenomena ini sebagai kombinasi antara FOMO (fear of missing out) dan keyakinan bahwa tren AI akan terus naik tanpa hambatan.
ETF Leverage Mempercepat Gejolak
Situasi berubah drastis setelah Korea Selatan meluncurkan ETF leverage saham tunggal untuk Samsung dan SK Hynix pada 27 Mei 2026.
Produk ini memungkinkan investor memperoleh eksposur dua kali lipat terhadap pergerakan harga saham harian. Dalam waktu kurang dari satu bulan, dana ritel yang masuk mencapai sekitar 8,2 triliun won.
Popularitasnya meledak.
Namun di balik potensi keuntungan besar, terdapat risiko yang tidak dipahami banyak investor pemula.
Mengapa ETF Leverage Menjadi Masalah?
| Faktor | Dampak |
|---|---|
| Leverage 2x | Keuntungan dan kerugian berlipat |
| Rebalancing harian | Memaksa jual beli otomatis |
| Konsentrasi pada dua saham | Risiko sistemik meningkat |
| Dana pinjaman investor | Memicu likuidasi massal |
Menurut sejumlah regulator dan ekonom Korea, ETF leverage bukan penyebab utama kejatuhan pasar, tetapi menjadi penguat gejolak yang sudah ada.
Ketika harga saham turun, produk ini harus melakukan penyesuaian posisi secara otomatis sehingga tekanan jual semakin besar.
KOSPI Masuk Fase Kepanikan
Pada Juli 2026, sentimen mulai berubah.
Kekhawatiran mengenai valuasi AI yang terlalu tinggi, persaingan chip dari China, dan aksi ambil untung investor global membuat saham teknologi mulai terkoreksi. Tekanan jual semakin besar.
Dalam beberapa hari perdagangan, KOSPI mengalami penurunan tajam hingga mencatat performa bulanan terburuk sejak krisis keuangan global 2008.
Indeks ini akhirnya turun sekitar 22% sepanjang Juli dan hampir 30% dari puncaknya pada Juni.
Samsung dan SK Hynix ikut terseret.
Produk ETF leverage yang sebelumnya menjadi primadona mendadak berubah menjadi sumber kerugian besar bagi investor ritel.
Bahkan 13 dari 14 ETF leverage terkait kedua saham tersebut sempat diperdagangkan di bawah harga peluncurannya.
Pemerintah Akhirnya Turun Tangan
Melihat volatilitas yang semakin sulit dikendalikan, regulator Korea Selatan mengumumkan sejumlah langkah darurat.
Di antaranya:
- Menghentikan peluncuran ETF leverage saham tunggal baru.
- Melarang promosi produk leverage untuk sementara.
- Menaikkan syarat setoran minimum menjadi 30 juta won.
- Memperketat persyaratan investor yang ingin menggunakan produk berisiko tinggi.
Meski demikian, pemerintah memutuskan tidak menghapus produk yang sudah beredar karena khawatir justru memicu kepanikan yang lebih besar. Nilai investasi yang sudah terlanjur masuk ke produk tersebut mencapai lebih dari 10 triliun won.
Rebound Terbesar dalam Sejarah KOSPI
Yang mengejutkan, setelah mengalami tekanan besar selama beberapa hari, pasar Korea Selatan langsung mencatat salah satu pemulihan paling spektakuler.
Pada 31 Juli 2026, indeks KOSPI melonjak hampir 18% dalam satu hari. Kenaikan ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah indeks tersebut.
Lonjakan dipicu oleh laporan keuangan Microsoft dan sejumlah perusahaan teknologi Amerika yang kembali meningkatkan belanja AI. Investor kembali optimistis bahwa permintaan chip AI masih kuat.
Namun analis mengingatkan bahwa volatilitas belum sepenuhnya berakhir.
Posisi leverage investor masih tinggi dan persaingan chip AI global semakin ketat.
Pelajaran dari Krisis AI Korea Selatan
Peristiwa ini menunjukkan bahwa teknologi yang menjanjikan tidak selalu berarti harga saham akan terus naik.
Fundamental bisnis Samsung dan SK Hynix sebenarnya masih relatif kuat. Yang runtuh adalah ekspektasi pasar yang terlalu tinggi serta penggunaan utang dan leverage yang berlebihan.
Dalam banyak gelembung aset sepanjang sejarah, pola yang muncul hampir selalu sama:
- Muncul teknologi baru yang revolusioner.
- Investor berbondong-bondong masuk.
- Harga melonjak cepat.
- Utang meningkat.
- Koreksi besar akhirnya terjadi.
AI kemungkinan tetap menjadi industri strategis dalam jangka panjang.
Namun pengalaman Korea Selatan memperlihatkan bahwa ketika euforia bertemu leverage, pasar bisa berubah arah jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan investor.