
DOYANDUIT – Bank Indonesia (BI) menempatkan stabilitas ekonomi sebagai prioritas kebijakan menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi.
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan arah tersebut seusai pengambilan sumpah jabatan di Gedung Mahkamah Agung (MA), Jakarta, Rabu (2/9/2026), dengan dampak langsung pada strategi bank sentral menjaga fondasi ekonomi sebelum membuka ruang pertumbuhan lebih luas.
Destry menegaskan, bauran kebijakan BI ke depan akan diarahkan pada prinsip 3I+S, yakni impactful, inklusif, integratif, dan sinergi.
Menurut Destry, tekanan dari dinamika ekonomi global masih berpotensi memengaruhi perekonomian domestik. Karena itu, respons kebijakan jangka pendek BI akan lebih dulu diarahkan untuk memastikan stabilitas tetap terjaga.
“Kita tahu pergolakan global masih penuh dengan ketidakpastian sehingga berimplikasi langsung pada kebijakan jangka pendek kami. Kami harus menjaga stabilitas terlebih dahulu, karena fondasi ekonomi yang stabil akan membuka ruang pertumbuhan yang jauh lebih luas,” tuturnya.
Stabilitas Jadi Fondasi Kebijakan BI
Pernyataan tersebut menunjukkan posisi stabilitas sebagai pijakan utama kebijakan bank sentral dalam menghadapi kondisi global yang bergerak cepat.
Perubahan kondisi keuangan global dapat memengaruhi berbagai aspek perekonomian Indonesia, mulai dari nilai tukar, arus modal, tekanan harga, hingga kondisi pembiayaan.
Karena itu, ruang untuk mendorong pertumbuhan tetap harus berjalan bersama dengan kemampuan menjaga ketahanan ekonomi domestik.
Destry menyebut mandat yang diterima BI akan dijalankan secara optimal melalui bauran kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada dampak, tetapi juga memperhatikan keterhubungan antarsektor dan koordinasi antarotoritas.
“Amanah dan mandat yang dibebankan ini menjadi tanggung jawab kami untuk dijalankan secara optimal. Ke depan, kami terus memfokuskan kebijakan yang memenuhi prinsip 3I plus S, yaitu bersifat impactful, inklusif, integratif, serta bertumpu pada Sinergi Merah Putih,” ujar Destry.
Prinsip 3I+S Jadi Arah Bauran Kebijakan
Prinsip 3I+S yang disebut Destry mencakup empat pendekatan dalam pelaksanaan kebijakan BI.
- Impactful, kebijakan diarahkan agar memberikan dampak nyata terhadap perekonomian.
- Inklusif, kebijakan diupayakan menjangkau kelompok dan sektor ekonomi secara lebih luas.
- Integratif, kebijakan moneter dan berbagai instrumen pendukungnya ditempatkan dalam kerangka yang saling terhubung.
- Sinergi, pelaksanaan kebijakan diperkuat melalui koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait.
Kerangka tersebut menjadi penting karena tantangan ekonomi domestik tidak seluruhnya dapat diselesaikan hanya melalui instrumen bank sentral.
Salah satu persoalan yang secara langsung disebut Destry adalah inflasi. Pengendalian harga, menurut dia, membutuhkan kerja bersama antara BI, pemerintah, dan otoritas terkait.
Inflasi Jadi Pekerjaan Bersama
Destry menegaskan BI tidak akan menghadapi persoalan struktural ekonomi secara sendirian. Koordinasi dengan pemerintah menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas, terutama ketika tekanan terhadap perekonomian berasal dari berbagai sisi.
“Mengenai stance policy ke depan, kami tetap mengutamakan stabilitas melalui kolaborasi dan Sinergi Merah Putih. Pengendalian masalah domestik seperti inflasi menjadi PR bersama yang akan terus kami selesaikan lewat penguatan sinergi dengan pemerintah serta otoritas terkait,” kata Destry.
Penekanan pada inflasi menunjukkan bahwa stabilitas harga tetap menjadi salah satu perhatian utama dalam bauran kebijakan BI.
Ketika tekanan harga dapat dikendalikan, daya beli masyarakat lebih terjaga dan dunia usaha memiliki lingkungan ekonomi yang lebih mudah diproyeksikan.
Tantangan BI Datang dari Global dan Domestik
BI kini menghadapi tantangan dengan karakter yang saling berkaitan. Gejolak global dapat memberi tekanan terhadap perekonomian Indonesia, sementara persoalan domestik seperti inflasi membutuhkan respons lintas lembaga.
Kondisi tersebut membuat arah kebijakan bank sentral tidak cukup hanya dilihat dari keputusan moneter. Koordinasi fiskal, pengendalian inflasi daerah, stabilitas sistem keuangan, serta kebijakan sektor riil ikut menentukan seberapa kuat ekonomi nasional menghadapi tekanan eksternal.
Destry menempatkan stabilitas sebagai langkah awal sebelum pertumbuhan didorong lebih jauh.
Fondasi yang stabil, menurut dia, justru diperlukan agar kebijakan ekonomi memiliki ruang lebih besar untuk menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Dengan mandat tersebut, perhatian pasar dan pelaku usaha selanjutnya akan tertuju pada bagaimana prinsip 3I+S diterjemahkan BI ke dalam kebijakan konkret, terutama ketika tekanan global kembali berubah dan kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya memperkuat pertumbuhan nasional.