
DOYANDUIT – Harga Bitcoin (BTC) bertahan di kisaran USD 89.000 seiring menurunnya aktivitas pasar global akibat libur akhir tahun. Pada Jumat, 26 Desember 2025 pukul 11.23 WIB, Bitcoin tercatat di USD 89.127, menguat sekitar 1,5 persen dalam 24 jam terakhir.
Pergerakan yang cenderung datar ini terjadi ketika sejumlah bursa utama di kawasan Asia Pasifik tutup karena libur. Investor kripto pun mengambil referensi dari sesi perdagangan terakhir, saat indeks saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,35 persen.
Meski mencatat kenaikan harian, Bitcoin masih gagal menembus level psikologis USD 90.000, yang sejak beberapa pekan terakhir menjadi area resistensi kuat.
Volume Tipis dan Resistensi Harga Jadi Sorotan
Pelaku pasar menilai kondisi ini tidak hanya dipengaruhi faktor makro, tetapi juga oleh dinamika likuiditas musiman. Aktivitas perdagangan kripto secara historis memang cenderung melambat menjelang akhir tahun.
Kepala riset CF Benchmarks, Gabriel Selby, menilai Bitcoin masih terjebak di bawah level kunci tersebut.
“Bitcoin kesulitan menembus level USD 90.000 di tengah padatnya agenda rilis data makro. Pergerakan harga juga terlihat membentuk pola bearish wedge dengan potensi risiko ke bawah,” ujar Selby.
Ia menambahkan bahwa periode libur akhir tahun biasanya diiringi penurunan volume transaksi, yang memperkuat kondisi pasar dengan resistensi tinggi dan pergerakan yang tidak stabil.
Kondisi Pasar Kripto Global
Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto utama menunjukkan pergerakan terbatas dengan kecenderungan stabil.
Snapshot Pasar Kripto:
- Bitcoin: USD 89.127 (+1,5%)
- Ethereum: USD 2.965 (+0,6%)
- XRP: USD 1,87 (stagnan)
- Total kapitalisasi pasar kripto: USD 3,07 triliun (+0,9%)
Kenaikan ringan ini mencerminkan sikap pasar yang masih berhati-hati, sembari menunggu katalis baru setelah libur panjang berakhir.
Wall Street Cetak Rekor, Selera Risiko Tetap Terjaga
Sentimen global relatif konstruktif menyusul penguatan bursa Amerika Serikat. Dow Jones dan S&P 500 sama-sama ditutup di level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Rabu dalam sesi yang lebih singkat karena libur.
- Dow Jones: naik 0,60%
- S&P 500: naik 0,32%
Kinerja positif ini memperkuat narasi “Santa Claus rally”, istilah musiman yang merujuk pada kecenderungan arus dana masuk ke pasar aset berisiko menjelang penutupan tahun.
Bagi investor kripto, kondisi ini memberi sinyal bahwa minat terhadap aset berisiko belum sepenuhnya surut, meski belum cukup kuat untuk mendorong reli lanjutan.
Emas dan Perak Menguat di Tengah Ketidakpastian
Di pasar komoditas, pergerakan defensif terlihat semakin menonjol. Perak mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di USD 74,89 per ons, didorong oleh permintaan industri yang kuat dan defisit pasokan.
Analis mengaitkan lonjakan tersebut dengan:
- Peningkatan penggunaan pada panel surya
- Permintaan dari kendaraan listrik
- Kebutuhan logam untuk pusat data
Sementara itu, Jumat ini emas bergerak di kisaran USD 4.500 per ons, mendekati rekor tertingginya, seiring ekspektasi kebijakan suku bunga yang lebih ramah tahun depan dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai.
Tekanan geopolitik, termasuk kebijakan Amerika Serikat terhadap aliran minyak Venezuela, turut memperkuat minat investor pada aset defensif.
Proyeksi Internal Fundstrat BTC Koreksi ke USD 60.000

Di tengah kondisi pasar yang relatif tenang, perhatian pelaku kripto tertuju pada laporan internal dari Fundstrat yang diungkap oleh Wu Blockchain.
Dalam laporan strategi kripto 2026 untuk klien internal, Fundstrat memproyeksikan potensi koreksi signifikan pada paruh pertama tahun depan.
Target harga dalam laporan tersebut antara lain:
- Bitcoin: USD 60.000–65.000
- Ethereum: USD 1.800–2.000
- Solana: USD 50–75
Proyeksi ini berbeda dengan pernyataan publik Tom Lee, pendiri Fundstrat, yang sebelumnya menyebut Ethereum di level USD 3.000 masih sangat undervalued dan pernah memproyeksikan harga ETH mencapai USD 15.000 pada akhir 2025.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Strategi Aset Digital Fundstrat, Sean Farrell, menjelaskan bahwa perbedaan pandangan mencerminkan kerangka analisis yang berbeda untuk klien dan horizon waktu yang berbeda, bukan konflik internal.
Opsi Bitcoin Terbesar Sepanjang Sejarah Jadi Fokus Pasar
Pada 26 Desember, pasar kripto menghadapi kedaluwarsa opsi Bitcoin terbesar dalam sejarah berdasarkan nilai nosional. Nilai opsi Bitcoin yang jatuh tempo diperkirakan mencapai USD 23,7 miliar, dan jika digabung dengan Ethereum serta aset kripto lain, totalnya mendekati USD 28 miliar.
Opsi merupakan kontrak yang memberi hak untuk membeli atau menjual Bitcoin pada harga tertentu sebelum tanggal jatuh tempo. Ketika opsi kedaluwarsa, kontrak harus diselesaikan, sehingga berdampak langsung pada dinamika pasar spot.
Dalam kondisi ini, pelaku pasar besar atau market maker cenderung menjaga harga tetap berada di area tertentu yang dikenal sebagai “max pain”, yakni titik di mana sebagian besar opsi berakhir tanpa nilai.
Mengapa Harga Bitcoin Terlihat “Terkunci”
Selama periode menjelang kedaluwarsa opsi, market maker biasanya:
- Membeli Bitcoin saat harga turun
- Menjual Bitcoin saat harga naik
Strategi lindung nilai ini menciptakan tekanan yang menahan harga dalam rentang sempit. Akibatnya, volatilitas cenderung mereda dan pergerakan harga terlihat stagnan.
Namun, setelah momen kedaluwarsa berlalu, umumnya pada pukul 08.00 UTC hari Jumat, tekanan lindung nilai tersebut menghilang. Kondisi ini sering diibaratkan sebagai “pegas yang dilepas”, di mana volatilitas berpotensi kembali meningkat.
Peluang Volatilitas di Awal Januari
Sejumlah pelaku pasar menilai awal Januari kerap diiringi arus dana baru yang bersifat positif bagi Bitcoin. Meski ada kemungkinan penurunan jangka pendek untuk “memburu likuiditas” melalui pemicu stop-loss, skenario penurunan tajam dinilai relatif kecil.
Pasar dengan likuiditas tipis memang lebih mudah digerakkan, sehingga pergerakan harga bisa tampak ekstrem meski dipicu volume yang tidak besar.
Menjelang pergantian tahun, Bitcoin masih bergerak terbatas di bawah USD 90.000 di tengah volume perdagangan yang menipis, pengaruh libur global, dan kedaluwarsa opsi bernilai jumbo. Pasar tampak menahan napas sambil menunggu katalis baru di awal Januari.