
DOYANDUIT – Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah sejumlah indikator on-chain menunjukkan bahwa aset kripto terbesar di dunia ini saat ini diperdagangkan di sekitar nilai wajarnya.
Pada perdagangan terbaru, Bitcoin berada di kisaran USD 87.700 dengan pergerakan yang relatif terbatas dan belum menunjukkan arah tren yang tegas.
Dalam unggahan terbarunya di platform X, analis siklus bernama Root mengungkapkan bahwa berdasarkan On-chain Value Map, harga Bitcoin saat ini tidak dapat dikategorikan sebagai overvalued maupun undervalued.
Model tersebut menempatkan Bitcoin tepat di area “fair value”, sebuah kondisi yang mencerminkan keseimbangan antara permintaan dan pasokan di jaringan.
Mengenal On-Chain Value Map dan Indikator Utamanya
Tiga Komponen Utama Penilaian On-Chain
Model On-chain Value Map dikembangkan dengan menggabungkan tiga metrik penting di jaringan Bitcoin, yaitu:
- Realized Cap
Menghitung kapitalisasi Bitcoin berdasarkan harga terakhir setiap koin berpindah tangan di blockchain. Indikator ini mencerminkan total modal aktual yang masuk ke pasar Bitcoin. - Liquid Supply
Mengukur jumlah Bitcoin yang dimiliki oleh investor aktif, yaitu pemegang yang relatif sering memindahkan koinnya dan berpotensi melepasnya ke pasar. - Coin Days Destroyed (CDD)
Metrik yang melacak aktivitas koin lama yang kembali berpindah. Setiap Bitcoin yang lama tidak bergerak akan mengumpulkan “coin days”, dan saat dipindahkan, nilai tersebut dianggap “dihancurkan”.
Menurut pengamatan banyak analis, lonjakan CDD sering dikaitkan dengan aktivitas distribusi oleh pemegang jangka panjang, karena koin yang lama disimpan biasanya berasal dari investor lama atau pemilik besar.
Apa Arti Fair Value bagi Pasar?
Grafik On-chain Value Map menunjukkan bahwa Bitcoin sempat melampaui zona overvalued saat mencetak rekor harga tertinggi pada Oktober lalu. Namun, setelah koreksi signifikan, harga kembali turun dan kini berada tepat di area nilai wajar.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar sedang berada dalam fase konsolidasi. Tidak ada tekanan beli atau jual ekstrem yang mendominasi, sehingga arah pergerakan selanjutnya masih sangat terbuka.
Bitcoin Bergerak Sideways Selama Periode Libur Akhir Tahun
Rentang Harga yang Masih Terjaga
Menjelang akhir tahun, pergerakan Bitcoin terlihat stagnan. Pada malam Natal, harga BTC bergerak di kisaran USD 86.000–87.000, melanjutkan tren sideways yang telah berlangsung sejak akhir November.
Selama lebih dari satu bulan, Bitcoin terjebak dalam rentang USD 80.000 hingga USD 94.000, tanpa mampu menembus level resistance utama. Dalam dua pekan terakhir, harga bahkan lebih sering bergerak di zona tengah, antara USD 84.000–90.000.
Analis Ted Pillows menyebut kondisi ini sebagai “no trading zone”. Ia menilai kegagalan Bitcoin untuk merebut kembali area USD 90.000 dapat membuka peluang pengujian ulang support di kisaran USD 84.000.
Namun, selama level support dan resistance tersebut tidak ditembus, pergerakan harga diperkirakan akan tetap terbatas.
Sentimen Pasar Kripto Sepanjang Desember Dinilai Datar
Analis dan trader Daan Crypto Trades menilai bahwa Desember menjadi bulan yang relatif membosankan bagi pasar kripto. Ia mencatat tidak adanya narasi besar maupun pergerakan signifikan yang mampu mendorong volatilitas.
“Tidak ada tema utama, tidak ada lonjakan besar. Hanya rangkaian hari naik yang diikuti hari turun,” ujarnya. Ia juga menyoroti kinerja altcoin yang cenderung melemah, sementara Bitcoin dan Ethereum bergerak stabil tanpa dorongan kuat.
Meski demikian, ia mengakui bahwa secara risk-adjusted return, tahun ini bukanlah periode terbaik bagi Bitcoin, meskipun sempat mencetak rekor harga baru.
Namun, ia menambahkan bahwa fase seperti ini sering kali menjadi momen distribusi dari pemegang lama ke pasar yang lebih luas.
Menurutnya, penyebaran kepemilikan yang lebih merata merupakan perkembangan struktural yang positif, terlepas dari pergerakan harga jangka pendek.

Menuju 2026, Breakout atau Breakdown?
Q1 2026 Dinilai Jadi Titik Penentuan
Sejumlah pengamat sepakat bahwa awal 2026 akan menjadi fase krusial bagi Bitcoin. Daan Crypto Trades menyebut kuartal pertama 2026 sebagai momen di mana Bitcoin harus “membuktikan dirinya”, apakah siklus saat ini masih berlanjut atau justru mendekati akhir.
Dua Skenario yang Dipantau Pasar
Beberapa analis memetakan dua kemungkinan besar:
- Skenario Koreksi Lebih Dalam
Ted Pillows menilai Bitcoin berpotensi mengulang pola 2021–2022. Dalam skenario ini, BTC diperkirakan sempat reli ke area USD 100.000 di awal 2026, sebelum mengalami penurunan lanjutan menuju kisaran USD 60.000–70.000. - Skenario Breakout ke Level Baru
Di sisi lain, analis Eljaboom melihat adanya pola falling wedge multi-bulan yang mirip dengan formasi akhir 2024 hingga pertengahan 2025. Pola tersebut sebelumnya memicu reli besar di kuartal berikutnya.
Jika pola historis kembali terulang, Bitcoin berpotensi menguji batas bawah formasi terlebih dahulu sebelum akhirnya menembus ke atas dan mencetak level tertinggi baru pada kuartal kedua 2026.
Pasar Menunggu Pemicu Baru
Data on-chain menunjukkan bahwa Bitcoin saat ini berada di area nilai wajar, mencerminkan kondisi pasar yang relatif seimbang. Pergerakan harga yang cenderung datar menandakan investor masih bersikap menunggu, baik terhadap faktor makro maupun katalis internal industri kripto.
Dengan distribusi kepemilikan yang terus berlangsung dan struktur pasar yang kian matang, arah pergerakan Bitcoin menuju 2026 akan sangat ditentukan oleh momentum berikutnya.