
DOYANDUIT – Harga Bitcoin (BTC) berpotensi mencatat kuartal pertama terburuk dalam delapan tahun terakhir. Berdasarkan data pasar terbaru 2026, BTC sudah melemah sekitar 22,3% sejak awal tahun.
Di awal Januari, Bitcoin diperdagangkan di kisaran $87.700. Kini harganya turun mendekati $68.000, atau terkoreksi sekitar $20.000 dalam waktu kurang dari tiga bulan.
Jika tren ini berlanjut hingga akhir Maret, Q1 2026 bisa menjadi yang terburuk sejak 2018. Saat itu, Bitcoin anjlok hampir 50% dalam tiga bulan pertama.
Menariknya, dalam 13 kuartal pertama terakhir, Bitcoin memang tujuh kali mencatatkan performa negatif. Tahun 2025 turun 11,8%, tahun 2020 melemah 10,8%, dan 2018 menjadi rekor terburuk dengan minus 49,7%.
Analis kripto Daan Trades Crypto menilai:
“Kuartal pertama memang dikenal volatil. Secara historis, apa yang terjadi di Q1 tidak selalu menentukan arah jangka panjang.”
Artinya, koreksi awal tahun bukan berarti tren tahunan akan sepenuhnya bearish.
Bitcoin Masuk Fase Koreksi, Bukan Kerusakan Struktural?
Direktur riset LVRG Research, Nick Ruck, menjelaskan bahwa penurunan harga BTC saat ini lebih mencerminkan fase koreksi normal.
“Penurunan ini lebih merupakan fase korektif biasa, bukan kerusakan fundamental pada tren jangka panjang Bitcoin.”
Menurutnya, tekanan makroekonomi global memang masih membayangi. Namun pola historis menunjukkan Bitcoin sering pulih kuat setelah periode tekanan, terutama didorong adopsi institusional dan siklus halving.
Berdasarkan pengamatan pasar 2026, BTC telah mencatat lima minggu berturut-turut dalam zona merah. Dalam 24 jam terakhir, harga sempat turun ke sekitar $68.670.
Rebound 9% yang Menipu? Leverage Naik Drastis
Pada 12–15 Februari, harga Bitcoin sempat rebound hampir 9%. Namun di balik kenaikan itu, muncul sinyal yang justru meningkatkan risiko.
Selama periode tersebut:
- Open interest futures naik dari $19,59 miliar menjadi $21,47 miliar
- Terjadi kenaikan sekitar $1,88 miliar (naik 9,6%)
- Funding rate melonjak hingga +0,34%
Funding rate positif berarti trader long membayar trader short. Ini menunjukkan mayoritas pasar bertaruh harga akan naik.
Namun lonjakan leverage di tengah tren turun sering menjadi sinyal berbahaya. Jika harga kembali turun, likuidasi besar-besaran bisa mempercepat koreksi.
Sinyal Bearish: Hidden Divergence dan Lonjakan Profit 90%
Dari sisi teknikal, grafik 12 jam menunjukkan adanya hidden bearish divergence.
Kondisinya sebagai berikut:
- Harga membentuk lower high
- RSI justru membentuk higher high
RSI (Relative Strength Index) mengukur momentum beli dan jual. Kombinasi ini biasanya menandakan tren turun masih dominan, meski sempat terjadi kenaikan sementara.
Selain itu, data on-chain juga memperingatkan risiko tekanan jual.
Net Unrealized Profit/Loss (NUPL) Bitcoin naik dari 0,11 menjadi 0,21 dalam sembilan hari — lonjakan sekitar 90%.
Ketika NUPL naik cepat, artinya banyak investor kembali dalam posisi untung secara kertas. Situasi ini sering memicu aksi ambil untung.
Fenomena serupa terjadi awal Februari saat harga di $73.000, lalu dalam satu hari turun ke $62.800 atau minus 14%.
Jika pola ini terulang, risiko tekanan jual lanjutan patut diwaspadai.
Level Kunci Harga Bitcoin: Support dan Resistance Penting
Saat ini, Bitcoin bergerak di sekitar $68.400 dan berada dekat rata-rata pergerakan sederhana 100 jam.
Support Penting:
- $68.000
- $67.350
- $66.500
- $58.880 (zona Fibonacci 0.618)
Jika harga menembus $66.270, pola bear flag berpotensi aktif dan membuka peluang turun ke $58.800.
Resistance Penting:
- $68.800
- $69.500
- $70.000
- $70.840
- $79.290 (invalidasi struktur bearish)
Selama harga belum mampu menembus $79.290 secara kuat, risiko jangka pendek masih condong ke sisi bawah.
Indikator teknikal juga mendukung skenario ini:
- MACD per jam berada di zona bearish
- RSI berada di bawah level 50
Likuidasi Besar dan Volatilitas Tinggi
Bitcoin juga mencatat likuidasi short terbesar sejak September 2024, dengan sekitar $736 juta posisi short terhapus dalam satu hari.
Saat ini BTC berada di kisaran $68.974, naik 5,14% harian dengan volume perdagangan sekitar $41,68 miliar. Namun secara bulanan, penurunan masih mencapai 29,25%.
Volatilitas tinggi seperti ini sering menimbulkan ilusi pembalikan tren. Tetapi tanpa konfirmasi breakout kuat, kenaikan bisa menjadi sekadar relief rally.
Koreksi Sehat atau Awal Penurunan Lebih Dalam?
Harga Bitcoin di Q1 2026 memang berisiko menjadi yang terburuk sejak 2018. Penurunan 22% dalam tiga bulan menunjukkan tekanan nyata.
Namun secara historis, kuartal pertama yang lemah tidak selalu menentukan performa tahunan. Banyak fase koreksi di masa lalu justru menjadi fondasi reli berikutnya.
Meski demikian, kombinasi leverage tinggi, sinyal bearish teknikal, dan lonjakan profit on-chain menunjukkan risiko penurunan lanjutan masih terbuka.
Selama harga belum kembali stabil di atas $70.000 dan menembus $79.290, kehati-hatian tetap diperlukan.
Bagi investor jangka panjang, fase seperti ini sering menjadi momen evaluasi strategi, bukan kepanikan.