
DOYANDUIT – Sebuah fenomena menarik tengah terjadi di pasar aset digital. Menurut laporan Arkham Intelligence, seorang investor besar atau whale Bitcoin dengan aset lebih dari 5 miliar dolar AS mulai mengalihkan kepemilikan BTC-nya ke Ethereum (ETH).
Langkah ini dilakukan secara bertahap di bursa Hyperliquid, di mana 2.000 BTC, setara lebih dari 216 juta dolar, dikonversi ke ETH.
Setelah serangkaian transaksi kecil antara 1 hingga 1,5 BTC, tercatat lebih dari 42.750 ETH berpindah dari dompet sang whale. Fenomena ini bukan sekadar aksi individual, melainkan bagian dari tren yang lebih luas.
Arah modal besar mulai bergeser dari Bitcoin, yang selama ini dikenal sebagai aset kripto paling dominan, ke Ethereum yang kini semakin menunjukkan utilitas dan prospek jangka panjang.
Faktor Pendorong Peralihan ke Ethereum
Upgrade Teknologi: Dencun dan Pectra
Ethereum berhasil meluncurkan upgrade besar, yakni Dencun dan Pectra, yang menurunkan biaya transaksi (gas fee) hingga 90%.
Efisiensi ini menjadi daya tarik utama bagi institusi yang membutuhkan infrastruktur blockchain hemat biaya, khususnya di sektor decentralized finance (DeFi) dan tokenisasi aset dunia nyata (real-world asset/RWA).
Menurut data pasar, rasio ETH/BTC mencapai level 0,71 pada kuartal ketiga 2025. Angka ini menegaskan adanya pergeseran modal yang menilai Ethereum lebih unggul dari sisi utilitas dibandingkan Bitcoin yang berfokus pada kelangkaan.
Mekanisme Proof-of-Stake dan Staking Yield
Sejak beralih ke mekanisme proof-of-stake (PoS), Ethereum berhasil mencatatkan imbal hasil staking mencapai 89,25 miliar dolar AS secara tahunan.
Hingga kini, lebih dari 31,4 juta ETH atau 26% dari suplai beredar telah terkunci dalam staking dengan tingkat imbal hasil 1,9% hingga 3,5%.
Langkah whale yang langsung mengalihkan 450.000 ETH ke antrean validator setelah pembelian, semakin memperkuat posisi staking sebagai instrumen investasi.
Data Beacon Chain menunjukkan antrean penarikan kini menyentuh lebih dari 906.000 ETH, menandakan tren akumulasi yang masih berlanjut.

Peran Regulasi dan ETF
Salah satu momentum terbesar datang dari sisi regulasi. Pemerintah Amerika Serikat melalui CLARITY Act dan GENIUS Act secara resmi mengklasifikasikan Ethereum sebagai utility token. Status hukum yang lebih jelas ini membuka pintu masuk bagi lembaga keuangan besar.
ETF berbasis Ethereum mencatat arus masuk mencapai 27,6 miliar dolar AS hingga kuartal ketiga 2025. Bahkan, ETF ETHA milik BlackRock berhasil meraih 600 juta dolar hanya dalam dua hari.
Menurut laporan Coin World, “Inflow besar-besaran ini memperlihatkan antusiasme institusi terhadap Ethereum, tidak hanya sebagai aset simpanan nilai tetapi juga instrumen penghasil imbal hasil.”
Hyperliquid: Bursa dengan Volume Meningkat
Bursa Hyperliquid yang menjadi arena transaksi whale ini mengalami lonjakan aktivitas. Volume perdagangan harian tercatat menembus 3,4 miliar dolar, dengan posisi terbuka (open interest) melewati 14 miliar dolar.
Aktivitas spot dan derivatif yang meningkat di bursa ini menegaskan perannya sebagai pusat akumulasi Ethereum.
Institusi besar seperti BlackRock dan Grayscale juga ikut melakukan pembelian di saat harga ETH terkoreksi, menambah keyakinan pasar bahwa Ethereum kini menempati posisi ganda: sebagai penyimpan nilai dan sebagai aset produktif.
Ethereum di Ambang Dominasi Baru
Dengan upgrade teknologi yang signifikan, dukungan regulasi, pertumbuhan staking, serta lonjakan investasi melalui ETF, Ethereum tampak semakin memantapkan diri sebagai infrastruktur kunci dalam ekonomi digital.
Dominasi pasar ETH mencapai 13,8% pada akhir 2025, sementara dominasi Bitcoin turun ke 56,6%. Perpindahan modal besar yang dilakukan whale Bitcoin ke Ethereum bukan sekadar strategi individu, melainkan cerminan tren baru di pasar kripto global.
Jika tren ini berlanjut, Ethereum berpotensi menyaingi, bahkan melampaui, dominasi Bitcoin di masa depan.