
DOYANDUIT – Tekanan di pasar keuangan dinilai masih belum mereda. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 60 poin, nilai tukar rupiah yang kembali bergerak di atas Rp17.800 per dolar AS, hingga berlanjutnya arus keluar dana asing menjadi sejumlah indikator yang dinilai perlu dicermati investor.
Situasi tersebut menjadi sorotan ekonom dan pengamat pasar modal Ferry Latuhihin dalam video terbaru yang diunggah melalui kanal YouTube-nya.
Dalam ulasan berdurasi sekitar 10 menit itu, ia mengaku belum melihat sinyal yang cukup kuat untuk kembali agresif berinvestasi di pasar saham.
“Saya tidak melihat ada indikator-indikator yang bagus untuk melakukan investasi di pasar modal kita dalam kondisi ekonomi yang seperti ini,” kata Ferry Latuhihin melalui kanal YouTube-nya.
IHSG, Rupiah, dan Arus Modal Asing Jadi Sorotan
Dalam analisanya, tekanan terhadap pasar dinilai tidak hanya berasal dari faktor domestik. Ia juga menyoroti sentimen global yang memengaruhi persepsi investor terhadap Indonesia.
Salah satunya berkaitan dengan penilaian MSCI mengenai aspek information flow, transparansi, dan aksesibilitas pasar modal. Menurutnya, faktor tersebut turut berkontribusi terhadap keluarnya dana asing dari pasar domestik dalam beberapa bulan terakhir.
“Selama lima bulan kita menyaksikan outflow asing keluar dari pasar modal kita,” ujarnya.
Di saat yang sama, rupiah disebut masih berada di bawah tekanan meski Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Berbagai Sentimen Dinilai Membayangi Perekonomian
Sejumlah isu ekonomi, menurut Ferry juga berpotensi memengaruhi kepercayaan investor. Beberapa di antaranya meliputi:
- perkembangan investasi asing;
- kondisi pembiayaan pemerintah;
- likuiditas sektor keuangan;
- dinamika pasar obligasi;
- hingga prospek defisit APBN.
Selain itu, ia juga menyinggung kondisi keuangan PLN dengan menyebut cash flow operation perusahaan berada di kisaran Rp9,9 triliun.
Pasar Obligasi Ikut Disorot
Instrumen Patriot Bond dan Merah Putih Bond turut menjadi perhatian. Dalam pandangannya, instrumen tersebut dinilai kurang menarik apabila menawarkan kupon sekitar 2 persen, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) disebut telah berada di kisaran 7,1 persen.
Karena itu, ia memperkirakan investor akan lebih memilih instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Ia juga mengutip hasil lelang SBN yang menurutnya menunjukkan permintaan investor belum terlalu kuat.
| Indikator | Nilai yang Disebutkan |
|---|---|
| Penawaran masuk | Rp50 triliun |
| Target pemerintah | Rp36 triliun |
| Nilai yang diserap | Rp30 triliun |
| Yield SBN | sekitar 7,1% |
| Kupon Patriot Bond | sekitar 2% |
Alasan Menghindari Saham Perbankan
Menurutnya, bisnis bank bersifat procyclical, sehingga kinerjanya sangat dipengaruhi siklus ekonomi.
“Kalau ekonomi booming maka kinerja bank akan booming. Sebaliknya kalau ekonomi nyungsep juga saham bank akan nyungsep,” ujarnya.
Atas dasar itu, ia menyarankan investor lebih berhati-hati terhadap saham-saham perbankan, khususnya kelompok Himbara.
Dalam video tersebut juga disampaikan kekhawatiran mengenai persepsi investor apabila dunia perbankan dianggap terlalu dipengaruhi kebijakan politik.
“Kemarin mendapat kabar dari eh medsos bahwa Pak Presiden memanggil bos-bos Danantara bahwa mereka katanya mendapat pesan untuk tidak selalu mengejar profit, tapi memikirkan mungkin pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan segalanya. Maka saya khawatir bahwa di sini politik sudah memasuki bisnis perbankan. Oleh karena itu, saya tidak berani bermain saham-saham bank, terutama saham-saham bank Himbara yang notabene adalah BUMN,” katanya.
Menurutnya, kepercayaan merupakan fondasi utama industri perbankan sehingga setiap perubahan persepsi pasar patut diperhatikan.
Proyeksi Semester Kedua Masih Penuh Tantangan
Ferry mengaku belum melihat perubahan sentimen yang cukup kuat untuk mendorong pemulihan pasar dalam waktu dekat.
“Saya tidak melihat ada berita positif untuk market kita dan saya harap Anda berhati-hati bermain saham di pasar modal kita,” katanya.
Ia juga menyampaikan proyeksi pribadi mengenai potensi pelemahan rupiah apabila tekanan ekonomi masih berlanjut.
“Di semester kedua masih saya masih percaya bahwa dolar akan lari kemungkinan ke 20.000 ke dan kemungkinan juga ke 25.000. Itu ya saya, saya bisa salah tentunya, tapi insting saya sebagai ekonom melihat kondisi ini hari ya, adanya PHK adanya investor asing yang kabur ke negara lain tentu itu bukan indikasi yang bagus,” ujarnya.
Investor Perlu Menimbang Berbagai Perspektif
Perbedaan pandangan merupakan hal yang lazim di pasar modal. Sebagian analis memilih bersikap defensif ketika sentimen ekonomi memburuk, sementara sebagian lainnya justru melihat koreksi harga sebagai peluang akumulasi untuk investasi jangka panjang.
Karena itu, analisis yang disampaikan Ferry Latuhihin dapat menjadi salah satu referensi bagi investor, tetapi keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada riset mandiri, kondisi fundamental emiten, profil risiko, serta informasi resmi dari regulator dan perusahaan terkait.