Rupiah Berpotensi Tertekan Pekan Depan, RDG BI Jadi Penentu Arah

20 September 2026 13:00
Bagikan :
Rupiah melemah 0,83 persen secara mingguan ke Rp17.758 per dolar AS pada perdagangan 18 September 2026. (magnific)

DOYANDUIT – Pergerakan rupiah memasuki pekan perdagangan 21-25 September 2026 dengan tekanan yang masih cukup kuat. Fokus pasar akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September serta arah imbal hasil US Treasury yang dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi rupiah.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.758 per dolar AS pada Jumat (18/9/2026), melemah tipis 0,03 persen dari perdagangan sebelumnya.

Penurunan harian tersebut sekaligus memperpanjang tren pelemahan rupiah menjadi tujuh sesi perdagangan berturut-turut. Dalam sepekan, rupiah terkoreksi 0,83 persen dari posisi Rp17.611 per dolar AS pada Jumat (11/9/2026).

Pergerakan berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan tekanan serupa.

Pada Jumat (18/9/2026), JISDOR berada di Rp17.745 per dolar AS, melemah 0,04 persen dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, posisi tersebut turun 0,76 persen dari Rp17.611 per dolar AS.

RDG BI Jadi Perhatian Utama

Pekan depan memiliki agenda penting bagi pasar valuta asing domestik karena BI akan menggelar RDG bulanan pada 22-23 September 2026.

Kalender resmi BI mencatat RDG September dijadwalkan berlangsung selama dua hari. Hari pertama digunakan untuk mengevaluasi kondisi ekonomi dan mengintegrasikan pilihan bauran kebijakan, sedangkan keputusan kebijakan ditetapkan pada hari kedua.

Posisi terakhir BI-Rate yang tercatat adalah 5,75 persen. Pada RDG 18-19 Agustus 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level tersebut, dengan Deposit Facility 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen.

Dengan demikian, keputusan pada 22-23 September akan menjadi salah satu informasi utama yang dicermati pasar untuk membaca arah kebijakan moneter Indonesia berikutnya.

Ekspektasi penahanan suku bunga juga telah muncul di pasar. Sejumlah ekonom yang dikutip media sebelumnya memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga pada RDG September.

Yield US Treasury Masih Jadi Risiko Eksternal

Selain keputusan BI, pergerakan yield US Treasury menjadi faktor penting bagi rupiah.

Kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar, terutama ketika investor global menimbang kembali imbal hasil dan risiko masing-masing pasar.

Tekanan tersebut menjadi lebih relevan bagi rupiah karena mata uang domestik sedang berada dalam tren pelemahan.

Pergerakan yield obligasi AS juga masih sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan Federal Reserve, data ekonomi Amerika Serikat, serta perkembangan inflasi dan harga energi global. Pada pekan ini, yield Treasury AS sempat bergerak pada level tinggi sehingga menjadi perhatian pasar obligasi global.

Rupiah Menghadapi Dua Arah Tekanan

Ada dua perkembangan yang akan menentukan ruang gerak rupiah pekan depan.

Dari dalam negeri, pasar akan menunggu keputusan dan komunikasi BI setelah RDG. Setiap perubahan ekspektasi mengenai arah BI-Rate dapat memengaruhi imbal hasil aset rupiah dan aliran dana portofolio.

Dari eksternal, investor akan mencermati pergerakan dolar AS dan yield Treasury. Jika imbal hasil aset AS kembali meningkat, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat ikut menguat.

Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah berpotensi tetap volatil sepanjang pekan.

Harga Minyak Belum Banyak Membantu Rupiah

Penurunan harga minyak mentah dunia juga belum otomatis menjadi katalis kuat bagi rupiah.

Harga Brent dalam bahan acuan tersebut berada di sekitar US$103 per barel dan turun 0,45 persen secara harian pada akhir pekan.

Secara teori, penurunan harga minyak dapat memberikan ruang bagi negara pengimpor minyak karena mengurangi tekanan biaya impor. Namun, dampaknya terhadap nilai tukar tidak berdiri sendiri.

Pasar valuta asing tetap memperhitungkan faktor yang lebih luas, termasuk arah suku bunga domestik, kondisi dolar AS, arus modal, dan sentimen risiko global.

Rupiah Masuk Pekan dengan Tren Pelemahan

Jika menggunakan data Bloomberg, rupiah telah melemah dari Rp17.611 per dolar AS pada 11 September menjadi Rp17.758 pada 18 September.

Kenaikan angka kurs tersebut berarti diperlukan lebih banyak rupiah untuk membeli satu dolar AS dibandingkan pekan sebelumnya.

Tekanan juga terlihat pada JISDOR, yang bergerak dari Rp17.611 menjadi Rp17.745 per dolar AS dalam periode yang sama.

Dengan kondisi tersebut, ruang pergerakan rupiah pada pekan depan akan sangat bergantung pada bagaimana pasar merespons keputusan BI dan perkembangan pasar obligasi Amerika Serikat.

RDG BI pada 22-23 September menjadi titik perhatian terdekat. Setelah keputusan diumumkan, pelaku pasar akan membaca bukan hanya level BI-Rate, tetapi juga sinyal mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Di saat yang sama, pergerakan yield US Treasury dan dolar AS tetap menjadi faktor eksternal yang dapat memperbesar atau meredakan tekanan terhadap rupiah.

Untuk pembaca pasar, level Rp17.700-an menjadi area yang patut diperhatikan karena rupiah menutup pekan ini setelah tujuh sesi berturut-turut melemah. Perubahan sentimen setelah RDG BI akan menjadi salah satu penentu apakah tekanan tersebut berlanjut atau mulai mereda.

Berita Terbaru
rupiah
Rupiah Berpotensi Tertekan Pekan Depan, RDG BI Jadi Penentu Arah
ojk
Dua Aturan Baru OJK Terbit, Pengawasan Bursa Mineral Beralih dari Bappebti Mulai 2027
batas minimal harga saham
OJK Terbitkan POJK 13/2026, Kepemilikan Bursa Efek Kini Bisa di Luar Anggota Bursa
Screenshot 2026-09-19 144042
IHSG Melemah 1,53 Persen, Net Sell Asing Tembus Rp74,36 Triliun
IHSG hari ini (11)
10 Saham Anjlok dan Melonjak Paling Tajam Pekan Ini, SAPX Turun 39,41 Persen