
DOYANDUIT – Belakangan, nama Victory Word ramai diperbincangkan di media sosial dan YouTube. Platform ini dipromosikan sebagai sarana “donasi” dengan sistem arisan.
Sekilas, konsepnya tampak sederhana: anggota lama mendapat giliran “cair” dari donasi anggota baru. Namun, semakin ditelusuri, banyak pihak menilai sistem ini tak ubahnya arisan berantai yang dekat dengan skema ponzi.
Dalam sebuah review di channel YouTube Yulaikah Ote, pembuat konten menjelaskan: “Victory Word itu bukan investasi, bukan trading, tetapi ini arisan berantai. Arisan berantai itu mirip ponzi, guys.”
Penjelasan ini memberi gambaran bahwa meskipun tidak menggunakan label investasi, pola kerja Victory Word memiliki risiko yang sama dengan money game.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Sistem Donasi Bergiliran
Untuk bergabung, pengguna harus menyetorkan sejumlah uang sebagai “donasi” bagi anggota lain. Jumlahnya bervariasi, mulai dari 1 dolar (sekitar Rp16.000) hingga puluhan dolar. Semakin tinggi level yang diikuti, semakin besar pula jumlah donasi yang disetorkan.
Setelah itu, sistem akan mengatur giliran pencairan. Anggota yang baru bergabung otomatis berada di antrean paling akhir. Jika ada anggota baru lagi yang masuk, barulah giliran donasi bergeser ke anggota sebelumnya.
Risiko Tertinggi pada Anggota Baru
Masalah muncul ketika tidak ada anggota baru yang mendaftar. Dalam kondisi tersebut, anggota di level bawah tidak akan mendapatkan giliran cair, alias rugi.
Hal ini diperkuat dengan pernyataan dalam video: “Kalau member baru otomatis dia akan lama mendapatkan donasinya. Kalau misalkan tidak ada yang donasi, ya sudah, dia buntung, guys.”
Arisan Berantai dan Skema Ponzi
Secara hukum di Indonesia, skema piramida atau ponzi telah dilarang. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, praktik penjualan berjenjang yang bersifat piramida dianggap ilegal karena lebih mengandalkan perekrutan anggota ketimbang penjualan produk riil.
Arisan berantai seperti Victory Word sejatinya mirip dengan skema ini. Tidak ada barang atau jasa yang benar-benar diperdagangkan, melainkan hanya perputaran dana dari anggota baru ke anggota lama.
Selama aliran anggota baru terus masuk, sistem berjalan. Tetapi ketika berhenti, pihak terbawah akan menanggung kerugian.
Mengapa Banyak yang Tergiur?
Nilai Donasi yang Kecil di Awal
Salah satu alasan banyak orang tertarik adalah karena modal awalnya relatif kecil, hanya sekitar Rp16.000. Bagi sebagian orang, jumlah ini tidak terasa memberatkan sehingga risiko dianggap sepele.
Iming-Iming “Sudah Membayar”
Promotor Victory Word kerap mengklaim bahwa platform ini “sudah terbukti membayar”. Klaim ini memang benar pada awalnya, namun hanya berlaku bagi anggota yang bergabung lebih dulu. Semakin lama, risiko macet akan semakin besar.

Perspektif Etika dan Keagamaan
Selain dari sisi hukum, banyak pihak menilai praktik semacam ini juga tidak sesuai dengan prinsip etis maupun agama.
Dalam ulasan YouTube yang sama, disebutkan: “Victory Word ini bukan website yang layak, bukan website yang berkah, bukan website yang halal untuk mencari uang.”
Artinya, sekalipun ada anggota yang berhasil “cair”, keuntungan tersebut bukan hasil dari transaksi sah, melainkan dari kerugian orang lain.
Kesimpulan
Victory Word mungkin terlihat seperti arisan digital yang ringan dan menguntungkan di awal. Namun, pola kerjanya sangat menyerupai arisan berantai atau bahkan skema ponzi. Secara hukum, praktik semacam ini dilarang dan berisiko menimbulkan kerugian terutama bagi anggota baru.
Alih-alih mencoba platform semacam ini, lebih aman memilih instrumen keuangan resmi dan diawasi lembaga berwenang.
Jika tujuan Anda sekadar mencari arisan, tentu lebih baik bergabung dengan arisan konvensional di lingkungan RT atau komunitas nyata yang jelas dan transparan.