
DOYANDUIT – Base, jaringan Layer-2 berbasis Ethereum yang dikembangkan oleh Coinbase, tengah menjadi sorotan setelah para pemimpinnya secara terbuka menyatakan mulai menjajaki peluncuran token jaringan sendiri.
Hal ini merupakan perubahan besar, mengingat Coinbase sebelumnya menegaskan tidak ada rencana untuk menerbitkan token bagi Base.
Dalam acara BaseCamp 2025 di Stowe, Vermont, Jesse Pollak selaku pencipta Base mengatakan bahwa timnya kini sedang “mulai mengeksplorasi” kemungkinan peluncuran token.
Ia menyebut, langkah ini bukan sekadar rencana teknis, tetapi bagian dari pembaruan filosofi jaringan.
“Base adalah jembatan, bukan pulau,” ujar Pollak dalam sesi yang disiarkan langsung seperti dikutip dari cryptonews, menekankan visi Base untuk memperkuat konektivitas dalam ekosistem Ethereum.
Langkah ini muncul hanya beberapa hari setelah Linea, jaringan Layer-2 milik Consensys, mendistribusikan lebih dari 9,3 miliar token LINEA kepada penggunanya melalui acara token generation.
Keberhasilan itu tampaknya memicu spekulasi bahwa Base bisa saja menempuh jalur serupa, meski Coinbase sendiri menekankan belum ada keputusan resmi.
Mengapa Ini Penting: Peluang Airdrop dan Desentralisasi
Bagi komunitas kripto, sinyal ini dipandang sebagai peluang besar, khususnya kemungkinan airdrop token Base di masa depan.
Biasanya, proyek blockchain yang meluncurkan token jaringan akan memberikan sebagian pasokan awal kepada pengguna awal (early adopters) atau pengembang aktif sebagai insentif.
CEO Coinbase, Brian Armstrong, menegaskan lewat akun X bahwa rencana ini masih tahap awal:
“Kami sedang mengeksplorasi token jaringan Base. Ini bisa menjadi alat hebat untuk mempercepat desentralisasi dan mendorong pertumbuhan kreator serta pengembang. Untuk saat ini, belum ada rencana definitif,” tulis Armstrong pada 15 September 2025.
Hingga kini, Base telah beroperasi tanpa token asli sejak diluncurkan pada 2023. Coinbase menilai token tidak diperlukan untuk mencapai tujuan awalnya: menjadi jaringan yang aman, murah, dan ramah pengembang.
Namun, dengan perkembangan pesat yang dicapai, strategi tersebut mulai ditinjau ulang.
Tonggak Baru: Jaringan Base Kian Berkembang
Pertumbuhan Ekosistem dan TVL
Menurut data DeFiLlama, total nilai terkunci (TVL) di Base sempat mencapai rekor tertinggi US$5,06 miliar, sebelum turun tipis ke US$4,99 miliar.
Angka ini menempatkan Base sebagai blockchain terbesar keenam berdasarkan TVL. Protokol peminjaman seperti Morpho dan Aave menyumbang lebih dari 60% TVL tersebut, sementara stablecoin di jaringan Base memiliki kapitalisasi pasar gabungan sekitar US$4,3 miliar.
Selain itu, Base juga mencatat lebih dari 971.000 alamat aktif dalam 24 jam, dengan total aset lintas rantai mencapai US$21,1 miliar.
Inovasi Teknologi dan Produk
Base aktif meluncurkan fitur baru untuk memperluas infrastruktur. Pada ETHDenver 2025, mereka memperkenalkan:
- Flashblocks untuk mempercepat waktu blok menjadi 200 milidetik
- Base Appchains untuk mendukung dApp dengan lalu lintas tinggi
- Smart Wallet Sub Accounts agar onboarding pengguna lebih sederhana
Base juga mengakuisisi tim pengembang Iron Fish untuk memperkuat kemampuan zero-knowledge (privasi data on-chain).
Jembatan Base–Solana dan Program Pengembang
Salah satu pengumuman besar di BaseCamp 2025 adalah peluncuran jembatan open-source antara Base dan Solana, yang kini telah tersedia di testnet. Jembatan ini memungkinkan pengguna:
- Memindahkan aset lintas rantai (ERC-20 ke SPL dan sebaliknya)
- Menyetor dan menggunakan token SOL dalam aplikasi Base
- Meningkatkan likuiditas kedua ekosistem
Coinbase menyebut jembatan ini akan diluncurkan di mainnet dalam beberapa minggu mendatang.
Tak hanya itu, Base juga menyiapkan putaran kedua program Base Batches mulai 29 September. Program ini memberikan pendanaan, pendampingan, dan akses distribusi global kepada pengembang, yang akan dipamerkan dalam demo day di Devconnect Argentina.

Tantangan: Gangguan Jaringan dan Lonjakan Aktivitas
Meski mencatat pertumbuhan pesat, Base sempat menghadapi gangguan besar pada 5 Agustus 2025, ketika produksi blok berhenti selama lebih dari 30 menit.
Coinbase mengungkap bahwa masalah ini disebabkan kegagalan pergantian sequencer dalam kluster high-availability saat lonjakan aktivitas on-chain.
Sebuah sistem otomatis bernama Conductor mencoba mengalihkan kendali ke sequencer cadangan, tetapi gagal karena node baru belum sepenuhnya siap. Akibatnya, jaringan tak dapat menghasilkan blok hingga tim Base turun tangan secara manual.
Gangguan ini terjadi di tengah lonjakan penggunaan. Pada 27 Juli 2025, Base bahkan melampaui Solana dalam jumlah token baru harian, dengan lebih dari 54.000 token diluncurkan dalam satu hari.
Sejak peluncuran ulang aplikasinya, yang mengintegrasikan platform seperti Zora dan Farcaster, Base telah mencatat 1,6 juta token terpasang dan hampir 3 juta trader menghasilkan volume sekitar US$470 juta.
Menatap Masa Depan Base
Spekulasi tentang airdrop Base memang belum mendapat konfirmasi resmi, namun sinyal dari Pollak dan Armstrong menunjukkan adanya pergeseran arah strategis.
Dengan jaringan yang kian matang, ekosistem pengembang yang berkembang, dan infrastruktur yang terus diperluas, peluncuran token bisa menjadi langkah logis berikutnya.
Jika Base benar-benar meluncurkan token, ini bukan hanya kabar baik bagi pengguna awal, tetapi juga bisa menjadi katalis penting untuk desentralisasi lebih lanjut di jaringan tersebut, selaras dengan visi Coinbase untuk membangun ekonomi on-chain global yang terbuka.
Bagi para pelaku kripto, perkembangan ini patut dicermati. Meskipun belum ada janji airdrop, peluang untuk menjadi bagian dari fase awal pertumbuhan Base bisa menjadi pengalaman berharga, sekaligus potensi keuntungan di masa depan.