Bisnis Data Center RI Meledak, Ini 7 Saham BEI yang Bisa Diperhatikan

14 September 2026 11:00
Bagikan :
Bisnis data center Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan cloud computing, AI, dan ekonomi digital. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Bisnis data center atau pusat data di Indonesia semakin berkembang seiring lonjakan kebutuhan komputasi awan, kecerdasan buatan (AI), digitalisasi perusahaan, dan ekonomi digital.

Per semester I-2026, kapasitas teknologi informasi (IT capacity) data center di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 580 MW. Angka tersebut berpotensi meningkat menjadi sekitar 3,5 GW pada 2030.

Pertumbuhan kapasitas tersebut membuat bisnis pusat data mulai menjadi bagian penting dari strategi ekspansi sejumlah perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, tidak semua emiten yang masuk dalam ekosistem data center memiliki tingkat eksposur yang sama. Ada perusahaan yang menjadikan data center sebagai bisnis utama, sementara lainnya baru menjadikannya sebagai salah satu lini pertumbuhan.

7 Saham Data Center di BEI 2026

Berdasarkan pemetaan bisnis sejumlah emiten BEI per September 2026, setidaknya terdapat tujuh saham yang memiliki keterkaitan langsung dengan bisnis data center.

1. DCII

PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi salah satu emiten dengan eksposur paling langsung terhadap bisnis pusat data di BEI.

Kegiatan usaha perusahaan berfokus pada penyediaan infrastruktur data center untuk kebutuhan hyperscale, cloud, hingga pelanggan korporasi.

Pada 2026, DCI Indonesia terus memperluas kapasitasnya. Salah satunya melalui fasilitas E2 Surabaya yang diresmikan pada April 2026 dan menjadi fasilitas DCI Indonesia pertama di kawasan Indonesia Timur.

Per Agustus 2026, kapasitas data center DCII disebut mencapai sekitar 119 MW, yang tersebar di Cibitung, Karawang, dan Jakarta.

Perusahaan juga mengembangkan fasilitas baru di Bintan dan Surabaya.

Dengan struktur bisnis tersebut, DCII paling mudah dikategorikan sebagai pure-play data center di BEI.

2. EDGE

PT Indointernet Tbk (EDGE) juga memiliki eksposur langsung terhadap industri data center melalui bisnis konektivitas, pusat data, dan komputasi awan.

Indointernet mengoperasikan fasilitas data center EDGE1 dan EDGE2 di Jakarta. Salah satu fasilitas tersebut memiliki kapasitas IT hingga sekitar 6 MW, sementara total kapasitas pusat data yang dioperasikan disebut mencapai sekitar 23 MW.

Eksposur EDGE terhadap bisnis data center juga berkaitan dengan ekosistem Digital Edge.

Pada Januari 2026, Digital Edge mengumumkan rencana investasi US$4,5 miliar untuk membangun CGK Campus di kawasan GIIC, Bekasi.

Kampus data center tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 500 MW, dengan potensi pengembangan mencapai 1 GW. Tahap pertama ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.

Besarnya rencana ekspansi tersebut membuat EDGE menjadi salah satu emiten BEI yang memiliki eksposur langsung terhadap pertumbuhan data center komersial.

3. TLKM

Berbeda dari DCII dan EDGE, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memiliki bisnis yang jauh lebih terdiversifikasi.

Eksposur Telkom terhadap industri pusat data terutama berasal dari NeutraDC, bagian dari strategi perseroan mengembangkan infrastruktur digital.

Bisnis tersebut mencakup pusat data dan layanan yang berkaitan dengan kebutuhan komputasi awan serta perkembangan AI.

Kekuatan TLKM berada pada ekosistem yang lebih luas. Perseroan memiliki jaringan telekomunikasi, konektivitas, layanan digital, hingga infrastruktur yang dapat menopang pertumbuhan bisnis data center.

Artinya, kontribusi data center terhadap TLKM tidak dapat disamakan dengan emiten pure-play seperti DCII.

4. DSSA

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi salah satu emiten yang semakin memperbesar eksposurnya terhadap bisnis digital dan data center.

DSSA selama ini dikenal memiliki bisnis yang terdiversifikasi, termasuk pertambangan batu bara, energi, dan infrastruktur.

Namun, Grup Sinar Mas melalui DSSA juga semakin agresif mengembangkan bisnis digital.

Pada Juli 2026, DSSA melakukan penambahan modal sekitar Rp8,53 triliun kepada PT Bali Media Telekomunikasi melalui anak usahanya, PT DSST Mas Gemilang.

Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan bisnis digital perusahaan.

Dengan portofolio usaha yang luas, eksposur data center DSSA belum sebesar DCII atau EDGE. Namun, kemampuan pendanaan dan ekosistem bisnis yang dimiliki membuat DSSA menjadi salah satu emiten yang menarik dalam perkembangan infrastruktur digital.

5. MLPT

PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) memiliki bisnis utama di bidang solusi teknologi informasi.

Perusahaan menyediakan berbagai layanan dan infrastruktur teknologi untuk kebutuhan korporasi, termasuk solusi yang berkaitan dengan pusat data dan infrastruktur digital.

MLPT termasuk salah satu emiten yang memiliki eksposur terhadap industri data center bersama DCII, EDGE, TLKM, dan DSSA.

Namun, data center bukan satu-satunya sumber bisnis perseroan. Karena itu, pergerakan bisnis MLPT tetap perlu dilihat dalam konteks bisnis teknologi informasi secara keseluruhan.

6. AREA

PT Dunia Virtual Online Tbk (AREA) juga masuk dalam kelompok emiten yang memiliki bisnis langsung berkaitan dengan pusat data.

AREA tercatat di BEI pada April 2024 dan dikenal sebagai penyedia layanan data center.

Skala bisnisnya relatif lebih kecil dibandingkan DCII, TLKM, atau EDGE. Meski begitu, AREA tetap relevan ketika investor memetakan emiten BEI yang memiliki eksposur langsung terhadap pertumbuhan industri pusat data nasional.

7. INET

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menjadi contoh emiten yang sedang memperluas bisnis dari konektivitas menuju data center.

Bisnis utama INET masih berada di sektor konektivitas. Namun, perseroan mulai mengembangkan bisnis pusat data melalui anak usaha PT Sinergi Inti Data Indonesia, dengan kepemilikan INET sebesar 85 persen.

Karena itu, INET lebih tepat ditempatkan sebagai emiten dengan eksposur data center yang sedang berkembang, bukan sebagai perusahaan pure-play pusat data.

Peta Emiten Data Center di BEI

Jika dilihat dari fokus bisnisnya, posisi masing-masing emiten dapat dibedakan sebagai berikut:

Kode Emiten Eksposur Data Center
DCII DCI Indonesia Pure-play data center
EDGE Indointernet Data center, konektivitas, cloud
AREA Dunia Virtual Online Data center
TLKM Telkom Indonesia Data center dan telekomunikasi
DSSA Dian Swastatika Sentosa Diversifikasi ke digital/data center
MLPT Multipolar Technology Solusi IT dan data center
INET Sinergi Inti Andalan Prima Konektivitas dan ekspansi data center

Tidak Semua Saham Infrastruktur Digital adalah Saham Data Center

Pertumbuhan pusat data juga berpotensi memberikan dampak kepada sektor lain.

Emiten kawasan industri seperti KIJA, DMAS, BEST, dan SSIA, misalnya, dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan lahan untuk pembangunan fasilitas data center.

Namun, kondisi tersebut tidak otomatis membuat perusahaan-perusahaan tersebut menjadi emiten data center.

Perbedaannya terletak pada sumber pendapatan dan model bisnis.

Emiten pure-play memperoleh eksposur langsung dari pengoperasian fasilitas pusat data. Sementara emiten kawasan industri lebih banyak mendapatkan manfaat dari sisi penyediaan lahan dan kawasan untuk pembangunan fasilitas tersebut.

DCII dan EDGE Paling Langsung Terpapar

Dari daftar tersebut, DCII dan EDGE merupakan dua nama yang paling mudah dikategorikan sebagai pemain data center komersial dengan eksposur langsung.

DCII memiliki fokus kuat pada pengoperasian fasilitas pusat data, sedangkan EDGE menggabungkan bisnis data center dengan konektivitas dan cloud.

Sementara itu, TLKM, DSSA, MLPT, AREA, dan INET memiliki tingkat eksposur yang berbeda-beda karena pusat data menjadi bagian dari bisnis atau strategi ekspansi masing-masing.

Besarnya peluang industri juga perlu dibaca bersama dengan kebutuhan modal yang sangat besar, tingkat utilisasi fasilitas, kontrak pelanggan, biaya energi, serta kecepatan ekspansi kapasitas.

Dengan proyeksi kapasitas nasional yang berpotensi mencapai 3,5 GW pada 2030, persaingan mendapatkan pelanggan dan membangun fasilitas berkapasitas besar akan menjadi faktor penting dalam menentukan siapa yang paling mampu mengonversi pertumbuhan industri menjadi kinerja bisnis.

Disclaimer: Informasi mengenai saham dalam artikel ini bukan merupakan ajakan membeli atau menjual efek. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Berita Terbaru
32043
Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Total 26 Hari
harga emas
Harga Emas Dunia Tertekan, Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Suku Bunga
Screenshot 2026-09-15 101601
Anggota DPD RI Kenang Rapat Terakhir dengan Purbaya, Bawa Harapan 6 Program Besar dari Pengangkatan PPPK Paruh Waktu hingga Utang Daerah Dibayar Negara
suahazil nazara
Profil Suahasil Nazara: Guru Besar UI yang Kini Kelola APBN Rp4.000 Triliun, Hartanya Rp138 Miliar
menkeu ri
Empat Dugaan di Balik Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari Kursi Menteri Keuangan