
Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan Senin (14/9/2026). Harga emas spot turun 1,15 persen menjadi USD4.299,52 per troy ons, sekaligus menyentuh level terendah sejak 7 Agustus 2026.
Penurunan tersebut terjadi ketika pasar menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni lonjakan harga minyak dan inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan.
Kombinasi kedua sentimen tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pekan ini.
Analis pasar di American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menilai kenaikan harga minyak mentah berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan mendorong bank sentral memperketat kebijakan moneternya.
“Harga minyak mentah melonjak tajam hari ini, yang mendorong ekspektasi inflasi dan mengindikasikan bahwa bank-bank sentral utama dunia perlu memperketat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi. Kondisi ini menjadi sentimen bearish bagi logam,” ujar Wyckoff, seperti dikutip Reuters.
Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga Tembus 93 Persen
Perubahan ekspektasi pasar terjadi setelah data inflasi AS menunjukkan tekanan harga kembali menguat.
Indeks Harga Konsumen (CPI) AS naik 0,4 persen pada Agustus, setelah hanya tumbuh 0,1 persen pada Juli, berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS.
Data tersebut membuat konsensus pasar yang sebelumnya cenderung memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga mulai berbalik.
Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters kini memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9). Kenaikan berikutnya juga diperkirakan terjadi setidaknya satu kali hingga akhir Maret 2027.
Pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan pekan ini mencapai sekitar 93 persen berdasarkan CME FedWatch Tool.
Bagi emas, prospek suku bunga yang lebih tinggi menjadi tekanan tersendiri. Emas memang kerap digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi aset ini tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbasis bunga.
Ketika suku bunga naik, daya tarik emas dapat berkurang karena investor memiliki alternatif aset dengan imbal hasil yang lebih menarik.
Harga Minyak Melonjak, Risiko Inflasi Kembali Menguat
Tekanan terhadap emas semakin besar setelah harga minyak sempat melonjak sekitar 4 persen pada Senin.
Kenaikan tersebut dipicu serangkaian serangan baru terhadap infrastruktur energi dan sipil Arab Saudi serta serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk.
Situasi itu kembali memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama setelah salah satu jaringan pipa minyak utama Arab Saudi ditutup.
Lonjakan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan biaya energi dan pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.
Di tengah kondisi tersebut, upaya diplomasi di Timur Tengah juga menghadapi hambatan. Pertemuan Iran dengan sejumlah negara Teluk mengenai usulan terkait Selat Hormuz ditunda.
Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Ketidakpastian di kawasan tersebut membuat risiko gangguan pasokan minyak kembali menjadi perhatian pelaku pasar.
Dolar AS Ikut Menekan Harga Emas
Faktor lain yang memperberat tekanan terhadap emas adalah penguatan dolar AS.
Dolar menguat ke level tertinggi dalam dua pekan pada perdagangan Senin. Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Pergerakan dolar dan ekspektasi suku bunga The Fed menjadi dua faktor utama yang terus dicermati investor emas dalam jangka pendek.
Di sisi lain, Bank of Japan (BoJ) juga diperkirakan menaikkan suku bunga pada Jumat (18/9), di tengah kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda.
Dengan tekanan inflasi, harga energi, penguatan dolar, serta ekspektasi pengetatan moneter, ruang pergerakan emas dunia pada pekan ini masih akan sangat bergantung pada keputusan bank sentral dan respons pasar terhadap kebijakan tersebut.