
DOYANDUIT – Harga Bitcoin hari ini Jumat, 2 Januari 2026 pukul 10.00 WIB bergerak di kisaran USD 88.800-an dengan volatilitas yang cenderung terbatas. Di balik pergerakan yang terlihat “tenang” ini, analis on-chain justru menyoroti sinyal yang lebih dalam: permintaan Bitcoin sedang melemah.
Menurut CryptoQuant, faktor inilah yang seharusnya menjadi dasar membaca siklus Bitcoin, bukan sekadar performa harga.
Julio Moreno, Head of Research CryptoQuant, menegaskan bahwa banyak pelaku pasar keliru dalam mendefinisikan siklus Bitcoin.
“Sebagian besar orang fokus pada pergerakan harga untuk menentukan siklus, padahal yang seharusnya diperhatikan adalah permintaan,” ujarnya dalam unggahan di X.
Pendekatan ini memberi sudut pandang berbeda tentang mengapa Bitcoin tampak sulit keluar dari fase konsolidasi.
Memahami Indikator Apparent Demand Bitcoin
Apa Itu Apparent Demand?
CryptoQuant mengukur permintaan Bitcoin menggunakan indikator bernama Apparent Demand. Indikator ini membandingkan dua komponen utama:
- Miner issuance, yaitu jumlah Bitcoin baru yang dicetak setiap hari melalui reward blok.
- Supply tidak aktif 1 tahun, yang merepresentasikan Bitcoin yang tidak bergerak selama setahun dan dianggap sebagai “persediaan” atau inventory.
Dengan kata lain, Apparent Demand menunjukkan apakah produksi Bitcoin diserap pasar atau justru menumpuk sebagai stok yang tidak bergerak.
Pola Historis Siklus Bitcoin
Berdasarkan data historis lebih dari satu dekade, CryptoQuant menemukan pola yang cukup konsisten:
- Setiap siklus Bitcoin sebelumnya memasuki fase bear market ketika Apparent Demand jatuh ke zona negatif.
- Kondisi ini terjadi baik pada skala bulanan (30 hari) maupun tahunan.
Pada siklus saat ini, indikator Apparent Demand 30 hari telah turun ke zona merah. Artinya, permintaan bulanan Bitcoin kini lebih rendah dibanding pasokan yang masuk ke pasar.
Sementara itu, indikator tahunan masih berada di wilayah positif, namun trennya menurun. Jika tren ini berlanjut, indikator tahunan berpotensi ikut masuk ke zona negatif, sebuah sinyal yang secara historis bersifat bearish.
ETF Bitcoin: Bukan Satu-satunya Faktor Penekan
Sejak hadirnya ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat, permintaan tidak lagi hanya datang dari pasar on-chain. Namun, data terbaru dari Glassnode menunjukkan bahwa arus bersih ETF Bitcoin spot AS selama 30 hari terakhir masih berada di zona negatif.
Hal ini menandakan bahwa minat beli dari jalur ETF belum cukup kuat untuk mendorong harga naik signifikan. Meski begitu, para analis mengingatkan bahwa ETF bukanlah pemain utama dalam dinamika harga saat ini.
Pasar Derivatif Masih Mengendalikan Harga Bitcoin
Volume Futures Jauh Lebih Dominan
Analis CryptoQuant lain yang dikenal dengan nama Darkfost menyoroti pasar derivatif sebagai kunci utama mengapa Bitcoin bergerak sideways.
Menurutnya, volume perdagangan futures Bitcoin telah turun tajam sejak November, dari sekitar USD 123 miliar per hari menjadi USD 63 miliar.
Meski turun hampir setengahnya, angka ini tetap jauh lebih besar dibandingkan:
- Volume ETF spot Bitcoin: sekitar USD 3,4 miliar per hari
- Volume pasar spot Bitcoin: sekitar USD 6 miliar per hari
Dengan skala tersebut, pasar futures masih mendominasi pembentukan harga Bitcoin.
Net Taker Volume dan Tekanan Jual
Darkfost juga menyoroti indikator net taker volume, yang digunakan untuk melihat apakah pasar didominasi pembeli agresif atau penjual agresif. Secara historis:
- Saat net taker volume negatif, Bitcoin cenderung memasuki fase koreksi.
- Kondisi ini menunjukkan volume jual lebih dominan dibanding beli.
Sejak Juli, indikator ini umumnya berada di wilayah negatif. Meski sempat membaik pada awal Oktober dan mendorong Bitcoin mencetak rekor tertinggi baru, tekanan jual kembali mendominasi tak lama kemudian.
Saat ini, net taker volume memang membaik dari sekitar -USD 489 juta menjadi -USD 93 juta. Darkfost menyebut ini sebagai “sinyal positif”, namun belum cukup kuat untuk mengubah kondisi pasar secara keseluruhan. Likuiditas dinilai masih lemah dan belum mampu mendorong breakout harga.
Peran Long-Term Holder dalam Tekanan Pasar
Selain faktor derivatif, penjualan dari pemegang jangka panjang (long-term holders atau LTH) juga ikut memengaruhi performa Bitcoin. Dalam beberapa pekan terakhir, muncul indikasi bahwa tekanan jual dari LTH mulai melambat.
Namun, analis Glassnode CryptoVizArt mengingatkan bahwa ini lebih merupakan perlambatan tempo, bukan perubahan arah.
“LTH tidak berhenti menjual. Mereka masih membelanjakan sekitar 7.300 BTC per hari dan merealisasikan profit di bawah USD 200 juta per hari,” jelasnya. Menurutnya, yang berubah hanyalah laju distribusi, bukan perilaku dasarnya.
Darkfost menambahkan perspektif lain. Dari sisi perubahan suplai, distribusi LTH dinilai mulai seimbang.
Jumlah Bitcoin yang matang menjadi LTH kini kurang lebih setara dengan Bitcoin yang dijual oleh LTH dan dibeli oleh pemegang jangka pendek. Kondisi ini menunjukkan tekanan distribusi besar kemungkinan sudah mereda untuk sementara.
Permintaan Tetap Jadi Kunci Arah Bitcoin
Julio Moreno kembali menekankan bahwa memahami siklus Bitcoin tanpa melihat permintaan adalah pendekatan yang keliru.
“Permintaan Bitcoin menyusut secara bulanan dan melambat signifikan secara tahunan, bahkan hampir memasuki wilayah negatif,” ujarnya.
Pandangan ini memperkuat kesimpulan bahwa stagnasi harga Bitcoin bukan sekadar akibat arus keluar ETF atau sentimen jangka pendek, melainkan refleksi dari permintaan yang belum pulih secara menyeluruh.
Bagi investor dan pengamat pasar, membaca data permintaan memberikan konteks yang lebih jujur tentang kondisi pasar saat ini.
Data on-chain, ETF, derivatif, dan perilaku pemegang jangka panjang menunjukkan satu benang merah: permintaan Bitcoin sedang melemah. Selama permintaan belum kembali menguat, harga BTC berpotensi tetap bergerak dalam fase konsolidasi.