
DOYANDUIT – Awal pekan lalu, Bitcoin sempat memulai gelombang naik di atas zona US$116.500. Bahkan, harga berhasil menembus resistensi di US$116.800 dan US$117.500 sebelum tekanan jual kembali muncul. Puncaknya terbentuk di sekitar US$117.920, lalu harga berbalik turun tajam.
Penurunan ini membawa Bitcoin di bawah level US$116.500 hingga US$115.500, bahkan sempat menyentuh titik rendah di US$114.237.
Menurut data teknikal, harga kini tengah berkonsolidasi di bawah level 23,6% Fibonacci retracement dari penurunan tersebut.
Secara teknis, Bitcoin diperdagangkan di bawah US$115.500 dan rata-rata pergerakan 100 jamannya. Grafik juga menunjukkan adanya garis tren menurun dengan resistensi di kisaran US$115.200.
Jika harga gagal menembus US$116.000, potensi penurunan baru bisa terjadi dengan support terdekat di US$114.250, lalu US$113.500, dan berlanjut ke US$112.500.
Update harga Bitcoin per 22 September 2025 pukul 10:48 WIB:
- Harga: US$114.691,68
- Harian: −0,55%
- Mingguan: −0,52%
- 1 tahun: +80,92%
- 5 tahun: +996,02%
- Sejak awal: +1.550%
Dampak Pemotongan Suku Bunga The Fed
Koreksi harga Bitcoin ini menarik, sebab terjadi di tengah kabar penting dari Amerika Serikat. Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan lalu, Federal Reserve resmi memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,0%–4,25%.
Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa langkah ini bukan awal dari siklus pemotongan berkelanjutan. Ia menyebutnya sebagai “pemotongan manajemen risiko”, dengan alasan pasar tenaga kerja yang mulai melemah.
“Pemotongan ini bukan sinyal tren baru. Kami akan menilai kebijakan dari pertemuan ke pertemuan berdasarkan data terbaru,” ujar Powell.
Namun, berbeda dengan Nasdaq yang justru melonjak 1,7%, harga Bitcoin malah melemah hingga di bawah US$115.000. Hal ini menegaskan bahwa reli kripto tak selalu sejalan dengan kebijakan moneter, terutama ketika sentimen investor masih rapuh.
Pasar Tenaga Kerja Jadi Perhatian
Latar belakang keputusan The Fed ini terletak pada data ketenagakerjaan. Non-farm payrolls Juli menunjukkan penambahan pekerjaan jauh di bawah ekspektasi. Bahkan, laporan Agustus mencatat hanya 22.000 pekerjaan baru, angka terendah sepanjang sejarah modern AS.
Meski tingkat pengangguran masih di kisaran 4,3%, kondisi pasar tenaga kerja dinilai rentan memburuk cepat. Karena itulah, langkah pre-emptive diambil agar perlambatan ekonomi tidak semakin tajam.
Proyeksi The Fed: Optimisme Jangka Panjang
Meskipun investor kripto sempat berharap pemotongan berlanjut, Powell menepisnya. The Fed masih optimistis pertumbuhan ekonomi akan berjalan di atas rata-rata tahun depan.
Ekspektasi pasar yang semula memperkirakan tiga pemotongan pada 2026, kini menyusut menjadi dua.
Data dari CME FedWatch Tool juga menunjukkan pasar masih menilai akan ada dua kali pemotongan tambahan pada Oktober dan Desember 2025, tetapi peluang untuk 2026 menipis.
Dengan inflasi yang masih di atas target 2%, setiap tanda perbaikan di sektor ketenagakerjaan bisa membuat The Fed menunda pemangkasan lebih lanjut.

Perbandingan dengan Altcoin
Berbeda dengan Bitcoin yang stagnan, pasar altcoin menunjukkan dinamika beragam. Ethereum (ETH) justru turun 4,25% dalam seminggu, meski ada dukungan dari ETF spot AS. Solana (SOL) yang sempat reli 20% dua pekan lalu, terkoreksi 2,25%.
Sebaliknya, Binance Coin (BNB) melonjak hampir 11,80%, dipicu rumor kembalinya Changpeng Zhao (CZ) sebagai CEO.
Bahkan beberapa token kecil yang terdaftar di bursa Korea Selatan seperti Euler (EUL), Plume (PLUME), dan Toshi (TOSHI) mengalami lonjakan singkat.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa altcoin lebih dipengaruhi faktor spesifik proyek atau sentimen komunitas, bukan semata kebijakan moneter global.
Agenda Ekonomi Pekan Ini
Ke depan, pasar kripto akan mencermati serangkaian data ekonomi dan pidato pejabat The Fed. Data penting yang ditunggu termasuk:
- PMI Jasa dan Manufaktur AS (Selasa)
- Data inflasi PCE dan pengeluaran pribadi (Jumat)
Selain itu, pidato sejumlah pejabat The Fed bisa menjadi pemicu volatilitas. Misalnya, Stephen Miran, anggota FOMC yang sempat mendorong pemotongan 50 basis poin, dijadwalkan berbicara Senin ini. Pernyataannya bisa memberi sinyal arah kebijakan lebih agresif.
Di hari yang sama, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack dan Presiden The Fed Richmond Tom Barkin juga dijadwalkan berpidato. Sementara pidato Jerome Powell dan Michelle Bowman pada Selasa diperkirakan akan sangat berpengaruh terhadap sentimen investor.
Pergerakan harga Bitcoin pekan ini menegaskan bahwa kebijakan moneter global masih menjadi salah satu pendorong utama volatilitas pasar kripto.
Pemotongan suku bunga oleh The Fed yang semula diharapkan memicu reli justru direspons negatif oleh pasar, menunjukkan adanya kerentanan dalam sentimen investor.
Meski prospek jangka panjang tetap positif, trader dan investor perlu mencermati dinamika kebijakan moneter, data tenaga kerja, serta pidato pejabat The Fed dalam beberapa hari ke depan.
Semua faktor ini berpotensi menjadi katalis berikutnya yang menentukan arah harga Bitcoin.