
DOYANDUIT – Pergerakan harga Bitcoin sepanjang 2025 masih berada dalam tekanan, namun memunculkan perdebatan besar di kalangan analis mengenai fase siklus pasar kripto berikutnya.
Bitcoin (BTC) tercatat diperdagangkan di kisaran USD 87.210–87.410, turun 8,98% sejak awal tahun, dan berpotensi menutup tahun dengan kinerja negatif.
Secara historis, kondisi ini jarang terjadi. Sejumlah analis menyoroti bahwa Bitcoin belum pernah mencatat dua candle tahunan merah secara beruntun, sehingga posisi 2025 dianggap krusial untuk menentukan arah tren jangka panjang.
Pendiri Jan3, Samson Mow, menyebut 2025 justru bisa menjadi fase akhir dari pasar bearish. Dalam pernyataannya di platform X, ia menilai pasar kripto mungkin bersiap memasuki bull run panjang hingga satu dekade ke depan.
“2025 adalah bear market-nya. Jika ini benar, Bitcoin bisa memasuki bull run yang berlangsung sangat panjang,” ujar Samson Mow.
Pandangan Serupa dari Analis Bitcoin
Sentimen serupa disampaikan oleh analis Bitcoin PlanC, yang menilai bahwa tekanan harga saat ini justru menjadi penanda akhir fase penurunan.
“Jika kamu berhasil melewati 2025, berarti kamu sudah melewati bear market,” ungkap PlanC.
Ia menambahkan bahwa secara historis Bitcoin belum pernah mencatat dua tahun berturut-turut dengan kinerja negatif, meskipun 2025 berpeluang ditutup lebih rendah dibandingkan harga pembuka awal tahun.
Namun demikian, optimisme ini belum sepenuhnya disepakati oleh seluruh pelaku pasar.
Sentimen Pasar Kripto Masih di Zona Ketakutan
Tekanan harga Bitcoin juga tercermin dari kondisi psikologis pasar. Sepanjang Desember, sentimen investor cenderung berada di level rendah.
Indeks sentimen Crypto Fear & Greed Index tercatat berada di level 20 dari 100 pada 26 Desember, menandai fase “extreme fear” yang telah berlangsung sejak pertengahan bulan. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap potensi lanjutan koreksi harga.
Beberapa proyeksi optimistis sebelumnya juga belum tercapai. Target harga Bitcoin USD 250.000 yang sempat disampaikan oleh Arthur Hayes dan Tom Lee pada Oktober lalu kini dinilai terlalu agresif untuk direalisasikan dalam waktu dekat.
Prospek Bitcoin 2026 Masih Terbelah
Memasuki 2026, pandangan industri kripto terbelah cukup tajam. Sejumlah analis veteran memperkirakan tekanan masih akan berlanjut.
Trader senior Peter Brandt memperkirakan harga Bitcoin bisa turun hingga USD 60.000 pada kuartal III 2026. Sementara itu, Jurrien Timmer menyebut 2026 berpotensi menjadi “tahun istirahat” bagi Bitcoin, dengan kisaran harga turun ke area USD 65.000.
Di sisi lain, pandangan yang lebih konstruktif juga muncul. CEO Strategy, Phong Le, menilai fundamental Bitcoin sepanjang 2025 relatif tetap kuat, meskipun harga dan sentimen melemah di akhir tahun.
Pandangan optimistis juga datang dari Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, yang sejak pertengahan tahun menyebut 2026 berpeluang menjadi tahun positif bagi Bitcoin.
BlackRock Setor BTC Senilai USD 291,7 juta ke Coinbase
Di tengah perdebatan arah harga, aktivitas institusi besar menunjukkan dinamika menarik. Pada 24 dan 25 Desember, BlackRock tercatat menyetorkan 3.336 BTC ke Coinbase dengan nilai total sekitar USD 291,7 juta.
Langkah ini mencerminkan adanya reposisi aset atau strategi manajemen likuiditas, yang sering kali menjadi indikator penting dalam membaca minat institusional terhadap Bitcoin.
Namun, pasar tetap sensitif terhadap faktor makroekonomi. Pada 10 Oktober lalu, Bitcoin sempat jatuh tajam dari hampir USD 98.000 setelah pernyataan hawkish dari Federal Reserve, yang memicu arus keluar bersih ETF Bitcoin sekitar USD 903 juta.
Level Teknis Penentu Arah Harga Bitcoin
Dari sisi teknikal, analis menilai Bitcoin perlu menutup perdagangan mingguan di atas rentang USD 101.870–USD 106.528 untuk mengubah sentimen bearish menjadi lebih netral atau positif.
Sebaliknya, penurunan di bawah USD 80.600 berpotensi membuka ruang koreksi lanjutan, dengan area USD 74.111 sebagai level dukungan berikutnya.
Level-level ini menjadi perhatian utama pelaku pasar, terutama bagi investor yang mengandalkan pendekatan teknikal jangka menengah.
Tekanan dari Pasokan Bitcoin yang Masih Merugi
Selain faktor harga dan sentimen, data on-chain menunjukkan tantangan tersendiri. Analis komunitas CryptoQuant, Maartunn, mengungkap bahwa sekitar 6,6 juta BTC saat ini berada dalam kondisi “Supply In Loss”, atau dibeli di atas harga pasar saat ini.
Indikator ini mengukur jumlah Bitcoin yang memiliki harga perolehan lebih tinggi dibandingkan harga spot terkini. Saat harga Bitcoin sempat mencetak rekor di atas USD 126.000 pada Oktober, indikator ini sempat turun ke nol. Namun, koreksi harga setelahnya membuat jumlah BTC yang merugi melonjak tajam.
Saat ini, sekitar sepertiga dari total suplai Bitcoin yang beredar berada di bawah cost basis. Tingkat ini disebut sebagai yang tertinggi sejak 2023 dan mencerminkan tekanan psikologis signifikan di pasar.
Distribusi UTXO dan Potensi Volatilitas
Analisis lain menggunakan indikator UTXO Realized Price Distribution (URPD) menunjukkan bahwa suplai Bitcoin yang merugi tersebar tidak merata di berbagai level harga.
Beberapa zona harga memiliki akumulasi suplai besar, sementara area lain relatif tipis. Secara historis, investor yang berada dalam posisi rugi cenderung menunggu harga kembali ke titik impas sebelum melepas asetnya.
Ketika harga mendekati area cost basis tersebut, tekanan jual sering meningkat, sehingga menciptakan volatilitas tambahan. Dengan kondisi suplai underwater yang masih besar, reli harga Bitcoin ke level lebih tinggi berpotensi dihadapkan pada aksi jual bertahap.
Optimisme Jangka Panjang, Risiko Jangka Pendek
Pergerakan Bitcoin sepanjang 2025 menunjukkan fase transisi yang kompleks. Di satu sisi, sejumlah analis menilai ini sebagai bear market terakhir sebelum bull run panjang, bahkan hingga 2035.
Di sisi lain, tekanan harga, sentimen ekstrem, serta besarnya suplai Bitcoin yang masih merugi menunjukkan bahwa risiko volatilitas dan tekanan jual belum sepenuhnya mereda.
Dengan memahami dinamika harga, sentimen, dan data on-chain ini, kamu bisa menilai posisi Bitcoin secara lebih objektif dan mengambil keputusan yang lebih cerdas sesuai dengan profil risiko masing-masing.