
DOYANDUIT – Bitcoin kembali gagal mempertahankan momentum di atas level psikologis USD 90.000. Hingga hari ini, harga Bitcoin berada di kisaran USD 88.000, dengan kinerja jangka menengah yang masih melemah.
Dalam sepekan terakhir, Bitcoin terkoreksi lebih dari 2 persen, sementara dalam enam bulan terakhir penurunannya sudah menembus dua digit.
Pergerakan ini terjadi di tengah kondisi pasar global yang justru relatif stabil. Indeks saham utama Amerika Serikat hanya terpaut tipis dari rekor tertingginya, menciptakan kontras tajam dengan performa Bitcoin yang masih jauh dari puncak sebelumnya.
Situasi ini memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: apa sebenarnya yang menahan laju Bitcoin?
Likuiditas Global dan Sikap The Fed Jadi Penahan Utama
Pengetatan Neraca Bank Sentral
Salah satu faktor utama yang menekan Bitcoin sepanjang 2025 adalah berkurangnya likuiditas global. Bank sentral Amerika Serikat masih melanjutkan pengurangan neraca keuangannya, yang secara tidak langsung menyedot dana dari pasar aset berisiko.
Meski pada Desember mulai muncul sinyal pelonggaran seiring melemahnya data tenaga kerja dan konsumsi, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin penurunan suku bunga agresif akan terjadi dalam waktu dekat. Ketidakpastian ini membuat investor lebih memilih aset yang dianggap aman.
Selama likuiditas global belum benar-benar longgar, aset berisiko seperti kripto akan kesulitan membangun tren naik yang berkelanjutan.
Investor Lebih Memilih Aset Aman
Di tengah ketidakpastian ekonomi, emas kembali tampil sebagai lindung nilai favorit. Permintaan terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat juga tetap solid, tercermin dari imbal hasil tenor 10 tahun yang bertahan di atas 4 persen.
Kondisi ini mencerminkan meningkatnya sikap risk-off di pasar global. Bitcoin, meskipun sering disebut sebagai aset lindung nilai alternatif, belum mampu menggantikan peran emas dalam jangka pendek. Bagi investor institusional, stabilitas masih menjadi prioritas utama.
Tekanan Harga Bukan dari Panic Selling
Struktur Pasar yang Menekan Harga
Menariknya, data on-chain tidak menunjukkan gelombang jual besar-besaran dari pemegang Bitcoin. Koreksi harga yang terjadi lebih banyak dipicu oleh struktur pasar, khususnya posisi short berbasis stablecoin dan dolar.
Ketika leverage meningkat, pelaku pasar profesional cenderung melakukan lindung nilai dengan menjual Bitcoin di pasar spot. Aksi ini bukan karena sentimen bearish, melainkan demi menjaga keseimbangan posisi. Dampaknya, harga turun tanpa diiringi kepanikan massal.
Fenomena ini menjelaskan mengapa tekanan jual terasa “kosong” dan minim emosi. Banyak investor ritel sudah lebih dulu keluar dari pasar, sehingga volatilitas yang tersisa lebih bersifat teknis.
Dinamika Pasokan Bitcoin Masuki Fase Baru
Distribusi dari Pemegang Lama
Tahun 2025 menjadi periode penting dalam sejarah pasokan Bitcoin. Ratusan miliar dolar Bitcoin yang sebelumnya tidak aktif kembali beredar. Sumbernya berasal dari:
- Penjualan pemegang jangka panjang
- Transaksi besar di pasar OTC
- Penyerapan oleh produk ETF
Dalam 30 hari terakhir, distribusi dari pemegang lama mencapai level tertinggi dalam lebih dari lima tahun. Di saat yang sama, arus dana ETF berubah negatif, menandakan permintaan institusional mulai melemah.
Namun, beberapa analis menilai fase ini mendekati titik jenuh. Distribusi pasokan diperkirakan mereda pada awal 2026, membuka peluang stabilisasi jika permintaan kembali pulih.
Sinyal Bear Market Mulai Terlihat
Permintaan Melemah, Risiko Turun Masih Ada
Firma analitik on-chain menilai Bitcoin telah memasuki fase awal bear market. Pertumbuhan permintaan melambat signifikan sejak Oktober 2025, setelah beberapa gelombang besar sebelumnya—mulai dari euforia ETF hingga narasi perusahaan penyimpan Bitcoin.
Secara historis, ketika permintaan melambat dan gagal pulih, harga cenderung mengikuti. Beberapa level teknikal yang kini menjadi sorotan antara lain:
- USD 70.000 sebagai support menengah
- USD 56.000 sebagai skenario ekstrem jangka panjang
Penurunan ke area tersebut tidak dianggap sebagai kehancuran pasar, melainkan koreksi yang relatif dangkal dibanding siklus sebelumnya.
Pasar Terbelah antara Pesimis dan Optimis
Meski data on-chain cenderung konservatif, proyeksi harga Bitcoin tetap beragam. Sejumlah institusi keuangan besar masih mempertahankan target optimistis untuk 12–24 bulan ke depan, meskipun dengan asumsi volatilitas tinggi.
Perbedaan pandangan ini wajar dalam fase transisi siklus. Sebagian melihat pelemahan saat ini sebagai akhir tren, sementara yang lain menganggapnya sebagai proses penyesuaian sebelum akumulasi baru dimulai.
Untuk perspektif yang lebih seimbang, membaca analisis perbandingan antara Bitcoin dan emas sebagai aset lindung nilai bisa membantu kamu menilai posisi Bitcoin secara objektif.
Fase Sulit, Tapi Belum Tamat
Bitcoin yang kesulitan menembus USD 90.000 mencerminkan kondisi pasar global yang lebih berhati-hati. Tekanan likuiditas, melemahnya permintaan, dan perubahan struktur pasar membuat harga bergerak tanpa arah jelas.
Meski sinyal bear market mulai muncul, data menunjukkan ini lebih menyerupai fase redistribusi akhir siklus, bukan kepanikan total. Volatilitas tinggi kemungkinan masih berlanjut, tetapi fondasi jangka panjang belum sepenuhnya runtuh.