
DOYANDUIT – Harga Bitcoin (BTC/USD) kembali melemah pada perdagangan Selasa (21/10/2025), turun 2,65% ke level $107.651 seperti tercatat di bursa Bitstamp pada 16.04 WIB.
Penurunan ini menandai lanjutan tren koreksi yang terjadi selama sepekan terakhir, di mana harga Bitcoin telah kehilangan lebih dari 6,6% nilainya dalam tujuh hari terakhir.
Kondisi pasar masih “risk-off” dipicu oleh kekhawatiran terhadap situasi geopolitik global dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Secara month-to-date, Bitcoin telah turun 6,99%, namun dalam jangka menengah masih mencatat kenaikan 14,87% dalam enam bulan terakhir dan 56,01% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Jeff Mei, Chief Operating Officer di BTSE, menjelaskan bahwa faktor utama pelemahan ini bukan berasal dari aspek teknikal semata, melainkan dari ketidakpastian makro yang semakin meningkat.
“Kami melihat volatilitas jangka pendek akan tetap tinggi selama ketegangan perdagangan antara AS dan China belum menemukan titik temu,” ujarnya seperti dikutip dari The Block.
Ketegangan AS–China dan Aksi Derisking Tekan Pasar Kripto
Menurut laporan The Block, banyak trader saat ini memilih untuk derisking, yaitu mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menjelang pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di Korea Selatan pada akhir Oktober.
“Bisa saja pertemuan itu menghasilkan kesepakatan yang mendorong reli pasar, tapi sepertinya kecil kemungkinan ketegangan akan benar-benar berakhir,” tambah Mei.
Selain Bitcoin, aset kripto lain juga ikut tertekan:
- Ether (ETH) turun 4,77% menjadi $3.855
- BNB melemah 5,36%
- Solana (SOL) merosot 4,26%
Sementara itu, Spot Bitcoin ETF mencatat arus keluar bersih sebesar $40,5 juta, memperpanjang tren negatif selama empat hari berturut-turut. Produk serupa untuk Ethereum juga mencatat outflow sebesar $145,7 juta.
ETF milik BlackRock (IBIT) mengalami arus keluar terbesar, mencapai $100,7 juta, meski sebagian kompensasi terjadi lewat aliran masuk ke ETF yang dikelola oleh Fidelity, Grayscale, Bitwise, VanEck, dan Invesco.
Vincent Liu, Chief Investment Officer di Kronos Research, menilai bahwa data ETF tidak selalu mencerminkan permintaan riil pasar.
“Dalam beberapa kasus, harga Bitcoin tetap naik meskipun ada arus keluar ETF. Ini menunjukkan kompleksitas struktur pasar dan keterlambatan pelaporan yang sering mengaburkan sinyal sebenarnya,” jelasnya.

Indeks Ketakutan Naik, Pasar Tunggu Keputusan The Fed
Berdasarkan Fear and Greed Index milik The Block, sentimen pasar kripto saat ini berada di level 29, menandakan kondisi “fear” atau ketakutan di antara pelaku pasar. Ketidakpastian terkait kebijakan suku bunga dan dinamika geopolitik menjadi dua faktor utama penyebabnya.
Investor kini menantikan rilis data Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan pada Jumat mendatang. Data inflasi tersebut akan menjadi acuan penting bagi kebijakan suku bunga Federal Reserve.
CME Group’s FedWatch Tool menunjukkan peluang 98,9% bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Jika benar terjadi, langkah ini bisa memberikan dukungan jangka pendek bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Namun, analis memperingatkan bahwa volatilitas bisa meningkat setelah keputusan tersebut diumumkan.
“Pasar kripto saat ini sangat sensitif terhadap kebijakan moneter dan perkembangan politik. Bahkan satu pernyataan dari pejabat AS atau China bisa mengubah arah pasar dalam hitungan menit,” ujar Mei.
Volatilitas Jadi Pola Baru Pasar Kripto 2025
Secara historis, Bitcoin dikenal sebagai aset dengan volatilitas tinggi. Namun pada 2025, fluktuasi harga ini semakin intens karena faktor eksternal seperti geopolitik dan kebijakan moneter global.
Menurut banyak pengamat, fenomena ini menandakan bahwa pasar kripto mulai bergerak sejalan dengan dinamika ekonomi global, bukan hanya dipengaruhi oleh sentimen komunitas atau tren adopsi teknologi.
“Kita sedang menyaksikan fase di mana pasar kripto dan pasar keuangan tradisional saling berkaitan erat. Pergerakan aset digital kini mencerminkan reaksi langsung terhadap kebijakan global dan kondisi ekonomi dunia,” kata Vincent Liu
Meski demikian, banyak investor jangka panjang melihat koreksi ini sebagai peluang. Dengan tingkat adopsi yang terus meningkat dan inovasi yang berlanjut, Bitcoin tetap dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi global.