
DOYANDUIT – Ethereum kembali menjadi sorotan utama setelah berhasil melampaui performa Bitcoin dalam satu bulan terakhir. Data dari CoinGecko mencatat bahwa harga Ethereum naik lebih dari 17% dalam 30 hari terakhir, sementara Bitcoin justru mencatatkan penurunan sebesar 5,5%.
Performa positif ini ditopang oleh arus masuk dana ke produk Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis Ethereum yang mencapai lebih dari $1,2 miliar hingga akhir Agustus 2025. Padahal, beberapa pekan sebelumnya, Ethereum sempat mencatatkan arus keluar hingga $237,7 juta pada pertengahan bulan.
“Ethereum offers a dynamic growth story,” ujar Xu Han, Direktur Liquid Fund di HashKey Capital, seperti dikutip dari Decrypt.
Menurutnya, faktor yang membuat Ethereum lebih menarik bagi institusi meliputi tokenomics deflasi pasca-Merge, adopsi Layer-2, serta model staking yang memberikan imbal hasil.
Rekor Harga Baru dan Peningkatan Aktivitas Staking
Tidak hanya mencatatkan inflow besar di ETF, Ethereum juga berhasil menorehkan sejarah baru di pasar spot. Pada 25 Agustus 2025, harga Ethereum menembus level tertinggi sepanjang masa di $4.945, melampaui rekor sebelumnya pada November 2021 yang berada di $4.878.
Kenaikan harga ini turut dipicu oleh meningkatnya aktivitas staking. Data dari Beaconchain menunjukkan bahwa pada awal Agustus, jumlah Ethereum yang terkunci untuk staking mencapai 35.750 ETH atau setara $169 juta.
Meski pertumbuhannya mulai melambat dalam beberapa pekan terakhir, tren ini tetap memperlihatkan minat tinggi dari investor yang mengincar keuntungan jangka panjang melalui imbal hasil staking.
Prospek ETF Staking Masih Ditunggu
Walaupun minat investor terhadap Ethereum terus tumbuh, hingga saat ini Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) belum memberikan persetujuan untuk produk Ethereum staking ETF. Beberapa manajer aset besar, termasuk BlackRock, masih menunggu lampu hijau dari regulator.
Jika persetujuan ini diberikan, analis menilai potensi inflow dana akan semakin besar karena investor institusional mendapatkan jalur lebih mudah untuk berpartisipasi dalam ekosistem Ethereum.

Solana Mengikuti Tren, Namun Hadapi Tantangan
Sementara Ethereum mendominasi perhatian, aset kripto lain seperti Solana (SOL) juga mencatat pertumbuhan positif.
Sejak pertengahan Agustus, Solana naik sekitar 7%, didukung lonjakan volume perdagangan di decentralized exchange (DEX) sebesar 31% hingga mencapai $5,1 miliar, menurut data DeFiLlama.
Namun, di balik kenaikan tersebut, Solana menghadapi tantangan dalam hal jumlah pedagang aktif.
Banyak trader ritel mulai meninggalkan spekulasi di token meme berbasis Solana, sehingga jumlah pengguna harian di platform DEX justru mengalami penurunan.
Penutup
Kebangkitan Ethereum di tengah stagnasi pasar kripto global menunjukkan bagaimana kapital institusional dapat menggerakkan sentimen pasar.
Dengan inflow ETF yang solid, rekor harga baru, serta prospek regulasi yang mungkin lebih ramah di masa depan, Ethereum semakin menegaskan posisinya sebagai aset kripto dengan fundamental kuat.
Sementara itu, Bitcoin harus menghadapi kenyataan bahwa dominasinya mulai tergerus. Di sisi lain, Solana memperlihatkan potensi pertumbuhan, meski masih dibayangi fluktuasi minat dari trader ritel.
Jika tren ini berlanjut, tidak menutup kemungkinan bahwa Ethereum akan semakin memperluas jarak keunggulannya dibandingkan Bitcoin, sekaligus membuka jalan baru bagi produk investasi berbasis kripto di kancah global.