
DOYANDUIT – Ethereum resmi mencatat sejarah baru pada Jumat (9/8/2025) dengan menyalip Mastercard dalam kapitalisasi pasar.
Berdasarkan data CoinMarketCap, nilai pasar Ethereum melonjak hingga 514,5 miliar dolar AS atau setara Rp8.400 triliun, mengungguli Mastercard yang tetap stagnan karena bursa saham tutup di akhir pekan.
Lonjakan ini terjadi setelah volume perdagangan Ethereum dalam 24 jam mencapai 47 miliar dolar AS. Saat itu, harga ETH sempat berada di level 4.253 dolar AS, sebelum turun sedikit ke kisaran 4.300–4.400 dolar AS pada Sabtu (10/8).
Jika harga menembus 4.500 dolar AS, kapitalisasi pasar Ethereum diperkirakan bisa tembus 520 miliar dolar AS.
Ekosistem Kuat Jadi Penopang
Ethereum bukan sekadar aset kripto. Lebih dari 280.000 token ERC-20 berjalan di atas jaringannya, termasuk aset besar seperti USDT, LINK, dan BNB. Ethereum juga menjadi tulang punggung dunia DeFi (decentralized finance) dan pasar NFT yang masih ramai pada 2025.
Inovasi teknologi pasca-Merge membuat biaya transaksi lebih murah dan proses lebih cepat. Kehadiran solusi Layer 2 seperti Arbitrum meningkatkan kapasitas jaringan sehingga menarik minat investor ritel hingga institusi.
Tak hanya itu, jumlah pengguna kripto global diperkirakan akan mencapai 560 juta orang pada 2024, melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan pengguna layanan pembayaran konvensional seperti Mastercard dan Visa.
Riuh di Media Sosial, Visa Jadi Incaran
Kabar keberhasilan Ethereum ini cepat menyebar di media sosial. Banyak pendukung kripto langsung menargetkan Visa sebagai “lawan” berikutnya. Bahkan ada yang optimistis Ethereum bisa masuk daftar 10 aset terbesar dunia.
Namun, sebagian analis mengingatkan bahwa perbandingan ini tidak sepenuhnya seimbang. Valuasi Mastercard dihitung berdasarkan harga saham, sementara nilai Ethereum berfluktuasi mengikuti perdagangan kripto yang berjalan 24 jam tanpa henti.

Dampak di Pasar Global dan Lokal
Mastercard dan Visa selama ini menguasai pasar pembayaran global dengan nilai transaksi triliunan dolar setiap tahun.
Munculnya Ethereum sebagai pesaing menegaskan bahwa aset digital mampu menantang dominasi perusahaan raksasa di sektor keuangan. Saat ini, total kapitalisasi pasar kripto sudah mendekati 3 triliun dolar AS.
Di India, bursa seperti WazirX mencatat volume perdagangan Ethereum yang tinggi. Jumlah pengguna kripto di negara tersebut bahkan diprediksi mencapai 25 juta orang pada 2025, didukung oleh regulasi yang semakin jelas dan transparan.
Prospek dan Tantangan
Jika harga ETH berhasil menembus 4.500 dolar AS, jarak kapitalisasi pasar dengan Mastercard akan semakin lebar. Namun, risiko volatilitas harga dan potensi perubahan regulasi tetap menjadi ancaman.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa keuangan terdesentralisasi memiliki daya saing tinggi. Meski begitu, persaingan antara aset digital dan keuangan tradisional masih jauh dari kata selesai.
Pandangan Tokoh Industri
Michael Saylor, Chairman Strategy dan pendukung Bitcoin, menilai lonjakan Ethereum adalah bagian dari perkembangan positif di dunia kripto.
“Ada ledakan inovasi di seluruh ekonomi kripto, dan ini baik untuk semua pihak di industri aset digital,” ujarnya kepada Bloomberg.
Meski begitu, Saylor menegaskan fokus utamanya tetap pada Bitcoin. Menurutnya, sebagian besar modal di industri kripto masih mengalir ke BTC, yang kini mendominasi 60,18% pasar kripto.
Di sisi lain, minat terhadap Ether di kalangan institusi meningkat tajam. Nilai aset Ether yang dimiliki perusahaan publik kini mencapai 11,77 miliar dolar AS, dengan BitMine Immersion Technologies menjadi pemegang terbesar, yakni 833.100 ETH senilai 3,2 miliar dolar AS.
Ethereum kini telah membuktikan dirinya sebagai kekuatan besar di pasar keuangan global. Pertanyaannya, apakah ini hanya euforia sesaat atau langkah awal menuju dominasi jangka panjang?