
DOYANDUIT – Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah turun ke kisaran USD 85.000 pada perdagangan terbaru.
Penurunan ini langsung menjawab kekhawatiran banyak investor yang memantau pergerakan pasar kripto sejak awal pekan, ketika tekanan jual muncul secara cepat dan masif.
Dalam hitungan jam, kapitalisasi pasar kripto global menyusut sekitar USD 136 miliar, turun sekitar 3,7 persen ke area USD 2,93 triliun.
Data pasar menunjukkan penurunan ini dipicu oleh kegagalan Bitcoin mempertahankan level psikologis penting di USD 88.000, yang selama ini dianggap sebagai zona penopang jangka pendek.
Menurut pengamatan pelaku pasar sepanjang 2025, setiap pelemahan Bitcoin di bawah area kunci hampir selalu memicu reaksi berantai di altcoin, dan kondisi kali ini tidak menjadi pengecualian.
Altcoin Ikut Tertekan Saat Bitcoin Kehilangan Support
Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama ikut mencatatkan koreksi tajam dalam satu sesi perdagangan.
Beberapa pergerakan harga yang menonjol antara lain:
- Ethereum (ETH) turun sekitar 6,1% ke kisaran USD 2.930
- BNB melemah hampir 3,9% ke area USD 854
- XRP terkoreksi sekitar 6,2–6,5% ke level USD 1,86–1,87
- Solana (SOL) turun sekitar 3,7% ke USD 126
- Dogecoin (DOGE) melemah sekitar 5,5% ke dekat USD 0,13
Secara umum, pergerakan ini mencerminkan sentimen risk-off yang menyelimuti pasar kripto, terutama ketika investor global mulai mengurangi eksposur aset berisiko menjelang rilis data ekonomi penting Amerika Serikat.
Likuidasi Posisi Leverage Memperparah Tekanan Jual
Ratusan Juta Dolar Posisi Long Terhapus
Salah satu pemicu utama kejatuhan harga adalah likuidasi besar-besaran posisi leverage. Data menunjukkan hampir USD 381 juta posisi long terpaksa ditutup otomatis ketika harga bergerak turun cepat.
Mekanisme likuidasi ini menciptakan efek domino. Ketika harga turun, sistem bursa menutup posisi dengan leverage tinggi, yang pada akhirnya menambah tekanan jual di pasar spot.
Seorang analis kripto internasional menjelaskan, “Penggunaan leverage yang agresif membuat pasar kripto jauh lebih volatil dibandingkan pasar saham tradisional.”
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama, indeks S&P 500 hanya melemah sekitar 0,3%, jauh lebih stabil dibandingkan aset digital.
Analis Menilai Pasar Masih Bergerak dalam Fase Konsolidasi
Level Kunci Kapitalisasi Pasar Kripto
Analis kripto Michaël van de Poppe menilai arah pasar secara keseluruhan masih belum sepenuhnya jelas, meskipun koreksi yang terjadi tergolong signifikan.
Ia melihat pola serupa dengan koreksi yang terjadi pada awal 2025, ketika pasar sempat bergerak sideways sebelum kembali pulih secara bertahap. Menurutnya, ada dua level penting yang perlu diperhatikan investor:
- Resistance: sekitar USD 3,2 triliun
- Support: di kisaran USD 2,85 triliun
Jika kapitalisasi pasar mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang pemulihan tetap terbuka.
Tekanan Tambahan dari Sektor Mining Bitcoin
Biaya Produksi Semakin Tinggi
Tekanan pasar juga datang dari sisi fundamental, khususnya sektor penambangan Bitcoin. Rata-rata biaya produksi Bitcoin saat ini diperkirakan mencapai USD 74.600 per BTC, sementara jika dihitung dengan depresiasi peralatan dan biaya operasional penuh, totalnya bisa menembus USD 130.000.
Kondisi ini membuat sejumlah perusahaan tambang mulai mencari sumber pendapatan alternatif. Beberapa di antaranya beralih ke hosting pusat data berbasis AI, sebuah langkah strategis untuk menjaga arus kas di tengah penurunan profitabilitas mining.
Namun, pergeseran ini juga menambah ketidakpastian baru di sektor kripto, terutama terkait pasokan dan tekanan jual dari miner.
Pasar Global Ikut Berpengaruh pada Harga Bitcoin
Investor Menanti Data Ekonomi AS
Penurunan Bitcoin juga terjadi bersamaan dengan melemahnya pasar saham Asia di awal perdagangan. Investor terlihat berhati-hati menjelang rangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang dinilai krusial bagi arah suku bunga The Federal Reserve.
Beberapa faktor global yang menjadi sorotan:
- Pelemahan indeks saham Jepang
- Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq yang bergerak negatif
- Penguatan yen Jepang seiring spekulasi kenaikan suku bunga Bank of Japan
- Penantian data tenaga kerja, inflasi, dan aktivitas bisnis AS
Menurut analis pasar di XS.com, Linh Tran, kegagalan Bitcoin bertahan di atas USD 90.000 setelah sempat mendekati USD 100.000 menunjukkan bahwa sikap hati-hati investor masih mendominasi menjelang akhir tahun.
Optimisme Jangka Menengah: Fondasi Menuju Rekor 2026
Bitfinex: Bitcoin Lebih Solid dari Siklus Sebelumnya
Meski jangka pendek penuh tekanan, sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospek Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang.
Tim riset Bitfinex menilai bahwa kondisi likuiditas global yang membaik berpotensi membuat Bitcoin “lebih solid dari sebelumnya”.
Mereka memperkirakan Bitcoin memiliki peluang untuk kembali mendekati rekor tertinggi di sekitar USD 126.000 pada 2026, didukung oleh beberapa faktor utama:
- Pelonggaran kebijakan moneter global
- Arus dana institusional melalui ETF
- Keterlibatan korporasi dan entitas negara
- Laju penerbitan Bitcoin tahunan yang kini di bawah 1%
Menurut Bitfinex, struktur pasar saat ini semakin didominasi oleh modal jangka panjang yang lebih sabar, sehingga koreksi harga cenderung lebih dangkal dibandingkan siklus sebelumnya.
Area Penting yang Perlu Dipantau
Dari sisi teknikal jangka pendek, Bitcoin masih bergerak di bawah USD 88.000 dan rata-rata pergerakan 100 jam. Beberapa level krusial yang menjadi perhatian trader:
Resistance
- USD 87.150
- USD 87.500
- USD 88.000
- USD 89.000
- USD 90.000 hingga USD 91.500
Support
- USD 85.500
- USD 85.000
- USD 83.500
- USD 82.500
- Support utama di USD 80.000
Selama Bitcoin belum mampu menembus resistance kuat, potensi pergerakan sideways atau koreksi lanjutan masih terbuka.
Koreksi Tajam, Tapi Cerita Belum Berakhir
Penurunan harga Bitcoin ke area USD 85.000 menegaskan bahwa pasar kripto masih sangat sensitif terhadap likuidasi leverage dan dinamika ekonomi global.
Tekanan jangka pendek memang nyata, namun fondasi jangka menengah dinilai masih relatif kuat oleh sejumlah analis.
Dengan memahami faktor teknikal, fundamental, dan sentimen global secara menyeluruh, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih cerdas dan terukur dalam menghadapi volatilitas pasar kripto ke depan.