
DOYANDUIT – Harga Bitcoin (BTC), mata uang kripto terbesar di dunia, kembali mengalami tekanan signifikan menjelang akhir September 2025. Berdasarkan data CoinMarketCap pada Minggu, 28 September 2025 pukul 11:56 WIB, harga Bitcoin tercatat berada di level $109.430,54, melemah sekitar 1,85% dalam sebulan terakhir.
Saat ini, kapitalisasi pasar (market cap) Bitcoin mencapai $2,18 triliun, sementara volume perdagangan dalam 24 jam terakhir berada di angka $25,21 miliar, dengan tingkat likuiditas yang cukup tinggi di level 53,21%.
Jumlah Bitcoin yang sudah beredar (circulating supply) mencapai 19,92 juta BTC dari total pasokan maksimum 21 juta BTC, yang sekaligus menjadi salah satu faktor kelangkaan aset ini di masa depan.
Penurunan harga Bitcoin ini juga menyeret total nilai pasar kripto global di bawah $4 triliun, memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Tak hanya Bitcoin, aset kripto besar lainnya seperti Ethereum (ETH) dan Solana (SOL) juga mengalami koreksi harga yang signifikan.
Kondisi ini turut menekan saham-saham perusahaan yang terkait erat dengan industri kripto, seperti MicroStrategy (MSTR) yang dikenal memiliki cadangan Bitcoin terbesar, serta penerbit stablecoin Circle (CRCL) yang sama-sama anjlok sekitar 10% dalam sepekan terakhir.
Sementara itu, saham Coinbase Global (COIN), salah satu bursa kripto terbesar, melemah sekitar 7%.
Penyebab Utama: Likuidasi Posisi Leverage dan Tekanan Pasar
Penurunan tajam ini dipicu oleh sell-off besar-besaran yang dimulai pada 21 September 2025, saat lebih dari $1,5 miliar posisi leverage-long Bitcoin terpaksa dilikuidasi.
Likuidasi terjadi ketika investor yang meminjam dana untuk bertaruh bahwa harga Bitcoin akan naik dipaksa menutup posisinya karena harga bergerak berlawanan. Proses ini memicu efek domino yang menyeret harga aset kripto lain ikut turun.
Menurut Sean Farrell, Kepala Strategi Aset Digital di Fundstrat, indikator pasar menunjukkan meningkatnya sentimen defensif. Ia menjelaskan:
“Dalam jangka pendek, sulit untuk merasa terlalu optimis. Namun, saya yakin kita akan segera menemukan titik stabil yang dapat mempersiapkan pasar untuk kuartal keempat yang lebih positif,” ungkap Farrell.
Selain itu, Polymarket, platform prediksi berbasis blockchain, mencatat bahwa 60% pelaku pasar memperkirakan harga Bitcoin akan turun di bawah $100.000 sebelum akhir 2025.
Hal ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek jangka pendek Bitcoin.
Faktor Unik dalam Siklus Pasar Saat Ini
Siklus pasar kripto kali ini memiliki karakteristik berbeda dibanding periode sebelumnya, terutama karena pertumbuhan pesat ETF Bitcoin spot.
Produk seperti iShares Bitcoin Trust (IBIT) dari BlackRock dan Fidelity Wise Origin Bitcoin Fund (FBTC) menjadi magnet bagi investor institusional.
Sejak diluncurkan pada Januari 2024, kedua ETF tersebut telah mengelola lebih dari $150 miliar aset, setara dengan 6% dari total pasokan Bitcoin yang beredar.
Kehadiran ETF ini memberikan likuiditas tambahan ke pasar, namun juga meningkatkan risiko volatilitas ketika terjadi perubahan sentimen yang drastis. Farrell menambahkan bahwa pola aliran dana ETF memengaruhi pergerakan harga Bitcoin.
Biasanya, awal bulan menunjukkan kinerja yang lebih positif, sedangkan paruh kedua bulan cenderung mengalami tekanan akibat aksi ambil untung dan penyesuaian portofolio oleh investor besar.
Dampak bagi Investor dan Strategi yang Disarankan
Bagi investor, situasi saat ini merupakan ujian kesabaran. Volatilitas tinggi bukan hal baru di dunia kripto, namun penurunan harga Bitcoin di bawah $110.000 memberikan sinyal bahwa pasar masih dalam fase koreksi.
Para analis menyarankan agar investor tidak terburu-buru mengambil keputusan emosional. Meski pasar terlihat lemah, beberapa indikator historis menunjukkan potensi pemulihan dalam waktu dekat.
Dalam sejarah Bitcoin, periode sekitar 1.064 hari setelah peristiwa halving sering kali menjadi fase di mana harga mencapai titik tertinggi baru. Hal serupa terjadi pada 2016 dan 2020, yang kemudian diikuti dengan rekor harga tertinggi.
Jika pola ini terulang, Bitcoin diperkirakan akan mencapai puncak harga pada Oktober 2025, meskipun setelah itu volatilitas ekstrem masih mungkin terjadi.
Dalam siklus sebelumnya, setelah mencapai titik tertinggi, harga Bitcoin bisa jatuh 70-80% dari puncaknya, menciptakan peluang sekaligus risiko besar bagi investor.

Prospek Jangka Panjang
Meski kondisi pasar saat ini penuh ketidakpastian, prospek jangka panjang Bitcoin tetap menjanjikan. Adopsi institusional yang terus meningkat, perkembangan teknologi blockchain, serta minat publik yang tetap tinggi menjadi faktor pendorong utama nilai Bitcoin di masa depan.
Bagi investor jangka panjang, penurunan harga seperti sekarang dapat dilihat sebagai peluang akumulasi, terutama jika mereka memiliki keyakinan terhadap fundamental Bitcoin. Namun, penting untuk selalu menerapkan strategi manajemen risiko yang bijak dan tidak hanya mengandalkan prediksi jangka pendek.
Farrell menutup analisanya dengan pandangan optimis:
“Saya percaya kita akan segera menemukan pijakan yang kuat, dan ini akan menjadi dasar bagi kuartal keempat yang lebih positif,” kata Farrell.
Kesimpulan
Penurunan harga Bitcoin di bawah $110.000 menjadi pengingat bahwa pasar kripto tetap sangat volatile dan rentan terhadap perubahan sentimen mendadak.
Faktor-faktor seperti likuidasi posisi leverage, pergeseran sentimen investor, serta peran besar ETF Bitcoin spot memengaruhi dinamika harga saat ini.
Dengan kapitalisasi pasar yang mencapai $2,18 triliun dan suplai Bitcoin yang semakin mendekati batas maksimum 21 juta BTC, kelangkaan tetap menjadi nilai fundamental yang mendukung harga jangka panjang.
Bagi investor, kunci utama adalah kesabaran dan disiplin. Memahami siklus pasar dan mengelola risiko dengan tepat akan membantu mereka melihat gejolak saat ini bukan sebagai ancaman, melainkan peluang strategis menjelang akhir 2025.