IHSG Anjlok 1,31 Persen, Harga Minyak dan Bursa Asia Jadi Beban Pasar

14 September 2026 09:00
Bagikan :
 IHSG tertekan hingga 1,31 persen pada perdagangan Senin (14/9/2026), seiring pelemahan bursa Asia dan lonjakan harga minyak dunia. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot hingga 1,31 persen ke level 6.453 pada perdagangan Senin (14/9/2026), setelah dibuka melemah 0,11 persen di 6.533,87. Tekanan datang ketika mayoritas bursa Asia berada di zona merah, harga minyak dunia melonjak, dan pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun 7,51 poin dari posisi penutupan sebelumnya. Namun tekanan jual semakin besar setelah pasar berjalan beberapa menit.

Mengacu data perdagangan pukul 09.44 WIB, IHSG berada di level 6.461 atau turun 1,21 persen. Indeks sempat menyentuh level terendah 6.453.

Koreksi tersebut memperpanjang tren negatif IHSG. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melemah selama empat hari perdagangan berturut-turut, dengan penurunan mencapai 2,64 persen dalam sepekan terakhir.

Tekanan pasar juga terlihat dari banyaknya saham yang bergerak turun. Sebanyak 463 saham melemah, sedangkan 173 saham menguat dan 327 saham lainnya bergerak stagnan.

Nilai transaksi mencapai Rp4,30 triliun dengan volume perdagangan 8,96 miliar saham.

Hampir Semua Sektor Masuk Zona Merah

Pelemahan IHSG berlangsung cukup merata di berbagai sektor.

Indeks Basic Materials menjadi sektor dengan tekanan terbesar, turun 2,59 persen. Berikutnya IDX Energy terkoreksi 2,17 persen dan IDX Infrastructure melemah 1,87 persen.

Tekanan juga menjalar ke sejumlah saham berkapitalisasi besar yang memiliki pengaruh terhadap pergerakan indeks.

Beberapa saham yang menjadi pemberat IHSG antara lain:

  • BUMI turun 2,83 persen.
  • EMAS anjlok 12,29 persen.
  • BBCA melemah 0,40 persen.
  • TPIA terkoreksi 2,93 persen.
  • ANTM turun 2,75 persen.

Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan, hampir seluruh indeks sektoral sudah berada di zona merah. Hanya sektor industri yang mampu bertahan di wilayah positif.

Bursa Asia Ikut Tertekan

Tekanan terhadap IHSG terjadi bersamaan dengan pelemahan sejumlah pasar saham utama Asia.

Nikkei Jepang turun 0,76 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 0,29 persen, sedangkan KOSPI Korea Selatan jatuh lebih dalam hingga 2,11 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan sentimen negatif tidak hanya terjadi di pasar domestik.

Investor Asia menghadapi kombinasi tekanan dari pergerakan harga komoditas, prospek kebijakan moneter Amerika Serikat, serta meningkatnya kekhawatiran mengenai stabilitas pasokan energi global.

Di pasar valuta asing, rupiah juga ikut tertekan. Mata uang Garuda berada di level Rp17.653 per dolar AS.

Pergerakan rupiah menjadi perhatian tambahan bagi pasar saham karena pelemahan mata uang domestik dapat meningkatkan tekanan terhadap aset-aset berisiko ketika dolar AS menguat.

Harga Minyak Naik ke USD102-107 per Barel

Salah satu sentimen utama yang menekan pasar adalah lonjakan harga minyak mentah dunia.

MNC Sekuritas mencatat harga minyak berada dalam kisaran USD102-107 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah serangan terhadap Arab Saudi dan sebuah kapal di kawasan Teluk memunculkan kembali kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi global.

Lonjakan harga minyak menjadi persoalan bagi pasar karena dapat memperbesar tekanan inflasi.

Investor kini harus memperhitungkan potensi dampak kenaikan harga energi terhadap biaya produksi, distribusi, serta kebijakan bank sentral global.

Kekhawatiran tersebut semakin kuat setelah inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan pada Agustus.

Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Sentimen negatif juga datang dari perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve atau The Fed.

MNC Sekuritas mencatat probabilitas kenaikan fed funds rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen mencapai 86,7 persen.

Jika The Fed menaikkan suku bunga, biaya dana global berpotensi meningkat. Kondisi tersebut biasanya menjadi perhatian bagi pasar saham, terutama aset berisiko di negara berkembang.

Bagi Indonesia, perubahan ekspektasi suku bunga AS juga dapat berpengaruh terhadap arus modal asing dan nilai tukar rupiah.

Tekanan IHSG Saat Ini

Sejumlah faktor yang menjadi perhatian investor pada perdagangan Senin antara lain:

Sentimen Dampak ke Pasar
Bursa Asia melemah Memperburuk sentimen regional
Harga minyak USD102-107 Meningkatkan kekhawatiran inflasi
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed Menekan aset berisiko
Rupiah Rp17.653/USD Menambah tekanan pasar domestik
IHSG turun 4 hari beruntun Menunjukkan tekanan jual masih kuat

Pergerakan IHSG pada awal pekan menunjukkan pasar masih sensitif terhadap sentimen global. Tekanan tidak hanya datang dari satu faktor, tetapi terjadi bersamaan dengan pelemahan bursa regional, kenaikan harga minyak, tekanan rupiah, dan ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat.

Setelah sempat dibuka di level 6.533,87, IHSG bergerak turun hingga menyentuh 6.453. Pergerakan selanjutnya akan menjadi perhatian investor untuk melihat apakah tekanan jual berlanjut atau mulai mereda setelah koreksi tajam pada awal perdagangan.

Disclaimer: Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

Berita Terbaru
32043
Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Total 26 Hari
harga emas
Harga Emas Dunia Tertekan, Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Suku Bunga
Screenshot 2026-09-15 101601
Anggota DPD RI Kenang Rapat Terakhir dengan Purbaya, Bawa Harapan 6 Program Besar dari Pengangkatan PPPK Paruh Waktu hingga Utang Daerah Dibayar Negara
suahazil nazara
Profil Suahasil Nazara: Guru Besar UI yang Kini Kelola APBN Rp4.000 Triliun, Hartanya Rp138 Miliar
menkeu ri
Empat Dugaan di Balik Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari Kursi Menteri Keuangan