IHSG Anjlok ke 6.172, Investor Wait and See usai BI Rate Naik dan Sinyal RAPBN 2027

21 Mei 2026 11:00
Bagikan :
IHSG turun tajam hari ini, investor cermati BI Rate dan kebijakan ekspor SDA. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis pagi, 21 Mei 2026.

Hingga sekitar pukul 10.55 WIB, indeks terkoreksi cukup dalam sebesar 2,31% ke level 6.172,64. Penurunan ini sekaligus memperpanjang tren pelemahan pasar setengah bulan terakhir.

Tekanan jual terlihat hampir merata di berbagai sektor. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 409 emiten melemah, sementara hanya 180 saham yang berhasil menguat dan 132 lainnya stagnan.

Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga sudah mencapai sekitar Rp4 triliun pada sesi pertama perdagangan.

Sentimen RAPBN 2027 Bikin Investor Menahan Diri

Salah satu faktor yang cukup diperhatikan pelaku pasar datang dari penyampaian asumsi dasar RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah menargetkan defisit anggaran tahun 2027 berada di kisaran 1,8% hingga 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, sejumlah asumsi makro ekonomi juga diumumkan, antara lain:

Asumsi Makro RAPBN 2027 Target
Pertumbuhan ekonomi 5,8%–6,5%
Inflasi 1,5%–3,5%
Kurs rupiah Rp16.800–17.500 per dolar AS
Suku bunga SBN 10 tahun 6,5%–7,3%

Di lapangan, pelaku pasar biasanya langsung membaca asumsi RAPBN sebagai petunjuk arah kebijakan ekonomi jangka menengah. Ketika proyeksi kurs dan suku bunga terlihat cukup tinggi, sebagian investor cenderung memilih mode “wait and see”.

Bagian yang paling banyak diperbincangkan justru rencana pemerintah mewajibkan ekspor komoditas sumber daya alam melalui BUMN tertentu sebagai pengekspor tunggal.

Kebijakan itu disebut akan dimulai dari komoditas:

  • CPO
  • Batu bara
  • Paduan besi

Bagi investor, kebijakan semacam ini sering memunculkan ketidakpastian baru, terutama pada saham-saham berbasis komoditas dan energi.

Dalam beberapa kasus sebelumnya, pasar biasanya membutuhkan waktu untuk menilai dampak riil terhadap margin perusahaan dan arus ekspor.

Kenaikan BI Rate Jadi Tekanan Tambahan

Pasar saham juga masih merespons keputusan Bank Indonesia yang menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026.

Kenaikan ini berada di atas ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan suku bunga hanya bertahan di level 5%.

Menurut Bank Indonesia, langkah tersebut dilakukan untuk:

  • menjaga stabilitas rupiah,
  • mengendalikan risiko inflasi,
  • serta mempertahankan target inflasi pemerintah.

Meski secara makro kebijakan ini dianggap penting, pasar saham biasanya kurang nyaman dengan kenaikan suku bunga mendadak.

Dari pengalaman di beberapa periode sebelumnya, saham perbankan memang kadang masih mampu bertahan. Namun sektor yang sensitif terhadap pembiayaan dan likuiditas cenderung lebih cepat tertekan.

MSCI dan FTSE Russell Ikut Membebani Pasar

Selain faktor domestik, sentimen eksternal juga ikut memperburuk suasana perdagangan.

MSCI diketahui mengeluarkan sejumlah saham dari indeks MSCI Standard dan Small Cap Index. Langkah ini memicu aksi jual investor asing, terutama pada saham-saham yang sebelumnya banyak dipegang dana global.

Sementara itu, FTSE Russell masih menunda peningkatan status pasar Indonesia.

Di kalangan analis pasar modal, penundaan upgrade ini dianggap cukup mempengaruhi psikologis investor asing. Sebab, status pasar yang lebih tinggi biasanya bisa membuka aliran dana baru ke Bursa Efek Indonesia.

Saham-Saham yang Paling Aktif Diperdagangkan

Beberapa saham dengan nilai transaksi dan aktivitas tertinggi pada sesi perdagangan pagi antara lain:

Saham Harga Pergerakan
BBCA Rp5.950 -0,42%
BUMI Rp165 -4,62%
BRPT Rp1.515 -11,92%
BBRI Rp3.040 0,00%
DSSA Rp635 -10,56%
PTRO Rp3.530 -11,75%
BMRI Rp4.230 0,00%

Menariknya, saham perbankan besar seperti BBRI dan BMRI relatif masih mampu bertahan dibanding sektor energi dan industri proses yang mengalami tekanan lebih dalam.

Sementara itu, saham-saham berbasis komoditas justru menjadi salah satu yang paling banyak dilepas investor pagi ini.

Sektor Utilitas dan Industri Jadi yang Paling Tertekan

Jika melihat heatmap sektoral, tekanan terbesar terjadi pada sektor utilitas yang anjlok hingga 9,82%.

Beberapa sektor lain juga mengalami koreksi cukup dalam:

  • Industri proses: -6,88%
  • Mineral non-energi: -6,19%
  • Layanan konsumen: -5,00%
  • Mineral energi: -4,56%

Kondisi ini menunjukkan tekanan pasar tidak hanya terjadi pada satu sektor tertentu, tetapi sudah menyebar cukup luas.

Dalam situasi seperti sekarang, banyak investor mulai lebih selektif memilih saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat.

Daftar Saham Top Gainers dan Top Losers

Top Gainers

Saham Kenaikan
SOTS +25,00%
APLI +19,49%
SULI +16,30%
ALKA +15,74%
KOBX +15,38%

Top Losers

Saham Penurunan
LCKM -14,95%
TPIA -14,66%
WBSA -14,65%
ASPR -14,65%
NTBK -14,43%

Pergerakan saham lapis dua dan lapis tiga juga terlihat cukup liar pada sesi perdagangan kali ini. Situasi seperti ini biasanya membuat trader jangka pendek lebih aktif berburu momentum, meski risikonya juga jauh lebih tinggi.

IHSG Masih Dibayangi Ketidakpastian

Tekanan terhadap IHSG saat ini datang dari kombinasi faktor domestik dan global sekaligus. Mulai dari kenaikan suku bunga, perubahan indeks global, hingga arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Dalam beberapa hari ke depan, pasar kemungkinan masih bergerak fluktuatif sambil menunggu respons investor asing dan perkembangan nilai tukar rupiah.

Bagi investor jangka panjang, kondisi seperti ini biasanya menjadi fase penting untuk kembali mengevaluasi portofolio dan manajemen risiko.

Sementara trader harian kemungkinan akan tetap fokus memantau sentimen cepat yang bisa menggerakkan pasar secara tiba-tiba.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050