
DOYANDUIT – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih cenderung melemah pada perdagangan pekan ini. Sentimen global kembali mendominasi pasar, mulai dari rencana pengumuman MSCI, memanasnya dinamika geopolitik Amerika Serikat-Iran, hingga kebijakan kenaikan royalti komoditas logam.
Analis memperkirakan IHSG bergerak di rentang 6.850 hingga 7.100 di tengah perdagangan yang relatif singkat menjelang long weekend. Aktivitas investor juga terlihat lebih hati-hati sejak awal sesi, terutama pada saham-saham berbasis komoditas dan perbankan.
Pelaku pasar juga mulai menunggu arah investor asing setelah beberapa hari terakhir terjadi outflow di pasar modal domestik.
OJK: Outflow Dipengaruhi Faktor Global
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar bersama Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan arus dana keluar dari pasar modal Indonesia lebih dipengaruhi kondisi global dibanding faktor domestik.
Pernyataan itu disampaikan usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Istana Merdeka, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurut Friderica, tekanan pasar tidak lepas dari situasi geopolitik dan geoekonomi global, termasuk kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat yang masih bertahan lebih lama dari perkiraan pasar.
“Kalau terjadi outflow memang karena kondisi geopolitik dan geoekonomi global,” ujar Friderica.
Meski begitu, OJK menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menahan tekanan jangka panjang.
Di tengah tekanan pasar tersebut, regulator mengaku terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan investor global.
MSCI Jadi Sorotan Investor Asing
Salah satu perhatian utama pasar saat ini datang dari evaluasi indeks global MSCI. Investor asing disebut masih mencermati reformasi pasar modal Indonesia, terutama terkait transparansi data pemegang saham.
OJK menyebut sejumlah langkah sudah dilakukan, antara lain:
- Membuka data pemegang saham hingga level 1%
- Memperjelas klasifikasi investor
- Mengungkap ultimate beneficial owner
- Mendorong free float saham di atas 15%
Langkah itu dilakukan setelah muncul sejumlah catatan dari investor global sejak awal tahun.
Di kalangan pelaku pasar, isu MSCI memang cukup sensitif. Tidak sedikit investor ritel yang mengaku kesulitan membaca arah pasar karena pergerakan saham unggulan beberapa pekan terakhir terlihat mudah berubah hanya karena sentimen eksternal.
Namun OJK menilai kondisi tersebut bersifat sementara.
“Pergerakan pasar mulai kembali berbasis fundamental,” kata Friderica.
Konflik AS-Iran Mulai Reda, Harga Minyak Jatuh
Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara disebut semakin dekat menuju kesepakatan awal penghentian konflik di kawasan Teluk.
Iran dikabarkan sedang meninjau proposal terbaru dari Amerika Serikat yang disampaikan melalui Pakistan sebagai mediator utama.
Sejumlah sumber menyebut Washington dan Teheran tengah membahas memorandum satu halaman berisi 14 poin sebagai langkah awal penghentian konflik. Sementara isu besar seperti program nuklir Iran akan dibahas pada tahap lanjutan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan peluang kesepakatan mulai terbuka meski belum masuk tahap final.
Sentimen damai itu langsung mengguncang pasar energi.
Harga minyak dunia anjlok tajam ke level terendah dalam dua pekan karena pasar mulai menghitung potensi normalisasi pasokan energi global.
Pergerakan Harga Minyak
| Jenis Minyak | Harga Penutupan | Perubahan |
|---|---|---|
| Brent Juli 2026 | USD 111,27 per barel | Turun 7,83% |
| WTI Juni 2026 | USD 95,08 per barel | Turun 7,03% |
Penurunan harga minyak ikut mendorong penguatan pasar saham global dan menekan imbal hasil obligasi.
Wall Street dan Bursa Eropa Menguat
Optimisme pasar global terlihat jelas di Wall Street.
Indeks S&P 500 dan NASDAQ kembali mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah, didorong sentimen meredanya konflik Timur Tengah serta reli saham teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Penutupan Bursa Global
| Indeks | Posisi | Perubahan |
|---|---|---|
| S&P 500 | 7.365 | Naik 1,46% |
| NASDAQ | 25.838 | Naik 2,03% |
| Dow Jones | 49.910 | Naik 1,24% |
| STOXX 600 | 623,2 | Naik 2,2% |
Bursa Eropa juga ikut reli. Investor global mulai kembali masuk ke aset berisiko setelah kekhawatiran gangguan pasokan energi perlahan mereda.
Saham MDKA Private Placement, TPIA Cetak Lonjakan Laba
Dikutip dari IDX Channel, dari dalam negeri, sejumlah emiten juga menjadi perhatian pasar.
PT Merdeka Copper Gold Tbk berencana melakukan private placement sebanyak 2,44 miliar saham baru atau maksimal 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Manajemen menyebut aksi korporasi itu dilakukan untuk memperkuat struktur modal dan mendukung ekspansi bisnis.
Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk mencatat lonjakan laba bersih menjadi USD 146,13 juta pada kuartal I-2026 setelah tahun sebelumnya masih rugi.
Pendapatan perseroan melonjak hingga 286,4% secara tahunan menjadi USD 2,40 miliar, terutama ditopang bisnis energi.
Di sektor properti, PT Alam Sutera Realty Tbk membukukan kenaikan pendapatan 14,7% menjadi Rp650,9 miliar.
Namun laba bersih perseroan justru turun akibat menyusutnya margin penjualan lahan yang selama ini menjadi penopang utama keuntungan perusahaan.
Pasar Masih Menunggu Kepastian Global
Pelaku pasar masih menunggu kepastian dari sejumlah agenda global dalam beberapa hari ke depan, termasuk arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan hasil evaluasi indeks MSCI.
Di tengah volatilitas yang masih tinggi, investor cenderung selektif. Pergerakan IHSG diperkirakan tetap sensitif terhadap sentimen eksternal, terutama jika muncul perkembangan baru dari Timur Tengah atau arus dana asing kembali keluar dari pasar domestik.