
DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level psikologis 8.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah perdagangan Bursa Efek Indonesia.
Pada Kamis, 18 September 2025 pukul 11.33 WIB, IHSG tercatat berada di 8.047,29 poin, naik sekitar 29,31% dalam enam bulan terakhir, dari posisi 7.628,61 pada 9 September lalu.
Sebelumnya, pada sesi pembukaan hari ini, IHSG dibuka di level 8.065,74, sempat menyentuh titik tertinggi intraday di 8.068,01, dan bergerak di kisaran rendah 8.005,60.
Penutupan perdagangan sebelumnya berada di 8.025,18, dengan rentang pergerakan dalam setahun terakhir antara 5.882,61 hingga 8.068,01.
Kapitalisasi pasar turut terkerek hingga Rp 14.524 triliun, dengan nilai transaksi harian mencapai Rp 13,32 triliun dari 28,86 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,73 juta kali transaksi.
Efek Langsung Pemangkasan Suku Bunga BI
Kenaikan IHSG ini terjadi sesaat setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan pemangkasan suku bunga acuannya sebanyak 25 basis poin menjadi 4,75%.
Gubernur BI Perry Warjiyo juga mengumumkan penurunan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%.
Sejak awal tahun, BI sudah memangkas suku bunga sebanyak empat kali — pada Januari, Mei, Juli, dan Agustus — dari level 6,00% pada Desember 2024 menjadi 5,00% saat ini.
Kebijakan ini disambut positif oleh pelaku pasar karena pemangkasan suku bunga umumnya membuat biaya pinjaman lebih murah, meningkatkan likuiditas, dan mendorong permintaan terhadap aset berisiko seperti saham.
Sektor Perbankan dan Teknologi Memimpin Kenaikan
Lonjakan Saham Perbankan
Saham-saham perbankan menjadi motor utama penguatan IHSG. Bank Permata (BNLI) dan Bank Tabungan Negara (BBTN) mencatat kenaikan tertinggi, sementara Bank Central Asia (BBCA) dan Bank CIMB Niaga (BNGA) masih terkoreksi tipis.
Respons positif ini mencerminkan ekspektasi bahwa penurunan suku bunga akan menurunkan biaya dana (cost of fund) dan meningkatkan permintaan kredit.
Sektor Teknologi Ikut Terangkat
Sektor teknologi memimpin penguatan dengan kenaikan 2,09%, diikuti sektor kesehatan yang naik 1,57%. Saham Multipolar Technology (MLPT) milik konglomerat James T. Riady bahkan melambung 20% menyentuh batas auto reject atas (ARA), melanjutkan tren positif selama tiga hari berturut-turut.
MLPT tercatat parkir di level 131.025 pada akhir sesi pertama dan menyumbang 9,6 poin terhadap penguatan IHSG. Kenaikan signifikan saham teknologi ini menunjukkan minat investor yang semakin luas, tidak hanya terpusat pada sektor keuangan.
Dukungan Sentimen Global
Selain sentimen domestik dari keputusan BI, pelaku pasar juga memantau perkembangan global. Keputusan The Federal Reserve (The Fed) mengenai suku bunga yang akan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia menjadi perhatian utama.
Ekspektasi pelaku pasar bahwa The Fed akan mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga menjadi katalis positif tambahan bagi bursa Asia, termasuk Indonesia.
Kondisi global yang lebih kondusif seperti meredanya ketegangan geopolitik dan stabilisasi harga komoditas juga membantu meningkatkan minat investor asing terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Risiko yang Tetap Perlu Diwaspadai
Meski IHSG berhasil menembus level psikologis 8.000, pelaku pasar diimbau tetap berhati-hati. Beberapa risiko yang patut diwaspadai antara lain:
Potensi Koreksi Teknis
Kenaikan tajam dalam waktu singkat dapat memicu aksi ambil untung (profit taking), sehingga koreksi teknikal bukan hal yang mustahil dalam waktu dekat.
Aliran Modal Asing yang Fluktuatif
Arus keluar dana asing (capital outflow) dapat kembali menekan IHSG sewaktu-waktu, terutama jika The Fed mengambil kebijakan yang lebih ketat dari ekspektasi pasar.
Ketidakpastian Ekonomi Domestik
Perubahan kebijakan fiskal, pergerakan nilai tukar rupiah, serta inflasi domestik tetap menjadi faktor yang dapat mengganggu sentimen pasar.
Lonjakan IHSG menembus level 8.000 menjadi tonggak penting bagi pasar modal Indonesia. Pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia menjadi pemicu utama, diikuti penguatan saham-saham perbankan dan teknologi.
Dukungan sentimen global turut memperkuat optimisme investor. Meski begitu, kehati-hatian tetap diperlukan. Investor disarankan memantau potensi koreksi, aliran modal asing, serta perkembangan ekonomi domestik untuk mengelola risiko dengan bijak.