
DOYANDUIT – IHSG melemah tajam pada perdagangan Senin pagi, 2 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan dibuka turun 142,59 poin atau 1,73% ke level 8.092,90, dibandingkan penutupan sebelumnya di 8.235,48.
Pada pukul 09.43 WIB, IHSG tercatat di posisi 8.126,46, masih turun 109,02 poin atau 1,32% hari ini.
Pergerakan pagi menunjukkan volatilitas tinggi:
- Buka: 8.092,90
- Tertinggi: 8.133,69
- Terendah: 8.039,51
- Tertinggi 52 minggu: 9.174,47
- Terendah 52 minggu: 5.882,60
Tak hanya IHSG, indeks LQ45 juga turun 12,65 poin atau 1,52% ke posisi 821,71.
Dalam satu menit setelah pembukaan, IHSG sempat tertekan lebih dalam hingga melemah 1,94% ke level 8.075. Data perdagangan menunjukkan 580 saham melemah, 54 saham menguat, dan 82 stagnan.
Nilai transaksi pagi mencapai Rp708,27 miliar dengan 976,34 juta saham diperdagangkan dalam 104.578 kali transaksi. Kapitalisasi pasar tercatat Rp14.511 triliun.
Dari pengalaman beberapa pekan terakhir, tekanan eksternal memang membuat pasar domestik lebih sensitif terhadap sentimen global.
Eskalasi Timur Tengah Picu Pergeseran Dana Global
Salah satu faktor utama pelemahan IHSG hari ini adalah meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi global, terutama setelah Iran dilaporkan membatasi lalu lintas di Selat Hormuz. Jalur tersebut diketahui menjadi rute sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan volume besar gas alam.
Lonjakan risiko geopolitik mendorong investor global mengalihkan dana ke aset berbasis komoditas dan safe haven.
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus US$72 per barel, mendekati level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Kenaikan harga energi kerap menjadi katalis bagi saham sektor minyak dan gas.
Saham Big Caps Melemah, Emiten Energi Bersinar
Sejumlah saham unggulan ikut tertekan pada pembukaan perdagangan:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 2,44% ke Rp7.000
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 3,10% ke Rp250
- PT Petrosea Tbk (PTRO) terkoreksi 4,49% ke Rp5.850
Namun di tengah tekanan IHSG, saham sektor migas justru melonjak signifikan.
Penguatan Signifikan Saham Migas
Beberapa emiten energi mencatat kenaikan tajam:
- PT Elnusa Tbk (ELSA) naik 13,53% ke 965
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menguat hingga 10,80% ke 1.950
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 9,86% ke 1.895
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terapresiasi 5,29% ke 4.580
- PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) naik 5,43% ke 680
- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menguat 2,51% ke 2.450
Selama harga minyak bertahan tinggi, potensi perbaikan margin dan pendapatan emiten migas menjadi daya tarik tersendiri.
Sentimen Domestik: Data Ekonomi Jadi Perhatian
Selain faktor global, pasar juga menanti rilis sejumlah indikator ekonomi domestik, antara lain:
- S&P Global Manufacturing PMI
- Neraca perdagangan Januari 2026
- Inflasi Februari 2026
- Cadangan devisa Februari
Penurunan tarif dalam kesepakatan dagang dengan AS dari 19% menjadi 15% juga dinilai berpotensi memberi sentimen positif, khususnya bagi sektor berbasis ekspor.
Berdasarkan data terbaru tahun 2026, stabilitas indikator makro masih menjadi fondasi penting bagi daya tahan pasar saham Indonesia di tengah gejolak global.
Mengapa Saham Migas Tahan Banting saat IHSG Melemah?
Kondisi ini bukan hal baru. Ketika risiko geopolitik meningkat, sektor energi sering kali menjadi โsafe rotationโ bagi investor.
Beberapa alasan utamanya:
- Harga minyak naik โ pendapatan emiten migas berpotensi meningkat
- Margin laba membaik saat harga jual mengikuti harga global
- Permintaan energi tetap tinggi secara struktural
Lonjakan harga komoditas energi biasanya langsung tercermin pada ekspektasi kinerja kuartalan emiten terkait. Namun, investor tetap perlu mencermati volatilitas jangka pendek karena pergerakan harga komoditas sangat dipengaruhi dinamika geopolitik.
Prospek IHSG ke Depan: Waspada tapi Selektif
IHSG yang melemah 1,73% pada pembukaan mencerminkan respons cepat pasar terhadap sentimen global.
Namun secara teknikal, posisi indeks masih berada jauh di atas level terendah 52 minggu di 5.882,60.
Dalam pengalaman beberapa siklus pasar sebelumnya, fase koreksi akibat sentimen eksternal sering kali bersifat temporer, terutama jika fundamental domestik tetap solid.
Bagi investor, strategi selektif menjadi kunci:
- Perhatikan saham dengan fundamental kuat
- Cermati sektor yang diuntungkan oleh kenaikan komoditas
- Hindari keputusan emosional akibat volatilitas sesaat
IHSG hari ini memang berada di zona merah, tetapi dinamika saham migas menunjukkan bahwa peluang tetap ada di tengah tekanan pasar.