IHSG Dibuka Naik Hampir 1%, Tapi Pasar Saham Indonesia Masih Dibayangi Tekanan Asing

25 Mei 2026 10:00
Bagikan :
IHSG dibuka naik hampir 1 persen pada perdagangan awal pekan, tetapi tekanan global dan aksi jual asing masih membayangi pasar. (TradingView)

DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Senin, 25 Mei 2026 dengan penguatan cukup tajam. Pada awal sesi I, IHSG naik 60,75 poin atau 0,99% ke posisi 6.222,80.

Sebanyak 405 saham tercatat menguat, 119 melemah, dan 435 saham bergerak stagnan.

Nilai transaksi pagi hari mencapai Rp743,8 miliar dengan volume perdagangan 1,43 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 92.590 kali.

Kenaikan ini sebenarnya cukup melegakan setelah IHSG sempat mengalami tekanan berat dalam beberapa pekan terakhir.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, indeks berhasil rebound 1,1% ke level 6.162,04 setelah sebelumnya terus mengalami koreksi beruntun.

Namun di lapangan, suasana pasar masih terasa hati-hati. Banyak investor ritel mengaku pergerakan pasar sekarang sulit ditebak. Pagi terlihat hijau, siang mulai melemah, lalu sore mendadak rebound lagi.

Pola seperti ini mulai sering muncul sejak tekanan global dan pelemahan rupiah makin besar.

Pekan Pendek, tetapi Sentimen Pasar Sangat Padat

Perdagangan pekan ini berlangsung lebih singkat karena ada libur Idul Adha pada 27–28 Mei 2026. Meski hanya berlangsung beberapa hari, sentimen yang memengaruhi pasar justru cukup besar.

Fokus utama investor masih tertuju pada perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat yang kini memasuki bulan keempat.

Pasar mulai sedikit lega setelah muncul tanda-tanda kemajuan negosiasi damai antara kedua negara.

Amerika Serikat dan Iran disebut mulai membuka pembicaraan terkait penghentian perang dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Meski begitu, negosiasi masih alot. Kedua negara masih berselisih soal stok uranium Iran dan rencana pungutan kapal di Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump bahkan menegaskan jalur tersebut harus tetap terbuka untuk pelayaran internasional.

Kenapa Selat Hormuz Sangat Penting?

Bagian ini sebenarnya cukup krusial bagi pasar saham Indonesia. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia.

Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut nyaris berhenti total. Akibatnya harga minyak dunia melonjak kembali ke atas 100 dollar AS per barel.

Bagi Indonesia, kondisi ini cukup berbahaya. Kenaikan harga minyak bisa memperlebar defisit transaksi berjalan, menaikkan subsidi energi, hingga memicu inflasi baru.

Pasar saham biasanya sangat sensitif terhadap situasi seperti ini.

Investor Asing Masih Keluar dari Bursa Indonesia

Meski IHSG berhasil rebound, tekanan terbesar sebenarnya masih datang dari aksi jual investor asing. IHSG saat ini masih berada dalam fase rapuh karena sangat sensitif terhadap sentimen domestik maupun global.

Penguatan indeks pekan lalu lebih banyak ditopang saham siklikal dan komoditas seperti:

  • MDKA
  • INCO
  • BRPT

Sementara saham perbankan besar yang biasanya menjadi penopang utama IHSG justru masih tertahan. Hal ini menunjukkan penguatan indeks belum solid karena arus dana besar tidak merata.

Dalam beberapa kasus, penguatan indeks memang hanya ditopang beberapa saham berkapitalisasi besar.

Rupiah Melemah Jadi Beban Tambahan

Tekanan lain datang dari pelemahan rupiah. Saat ini nilai tukar rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.700 per dollar AS.

Menurut Hendra, depresiasi rupiah yang terlalu cepat membuat investor asing makin agresif melakukan net sell. Return saham Indonesia menjadi kurang menarik ketika nilai mata uang terus melemah.

Situasi ini juga membuat banyak pelaku pasar memilih wait and see. Apalagi pasar mulai memperkirakan The Fed kemungkinan tidak jadi memangkas suku bunga tahun ini.

Artinya, dana asing cenderung bertahan di aset dollar AS dibanding masuk ke emerging market seperti Indonesia.

Kebijakan Pemerintah Ikut Jadi Sorotan

Selain sentimen global, pasar juga sedang mencermati kebijakan baru pemerintah terkait ekspor komoditas strategis.

Pemerintah memutuskan seluruh ekspor komoditas strategis nantinya akan dilakukan melalui BUMN khusus ekspor PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Penerapan penuh kebijakan ini dijadwalkan mulai 1 Januari 2027, mundur dari rencana awal September 2026. Mulai bulan depan, mekanisme transisi mulai berjalan.

Perusahaan masih boleh menjual langsung ke pembeli, tetapi dokumentasi ekspor wajib melalui BUMN. Di pasar, kebijakan ini menimbulkan cukup banyak pertanyaan.

Terutama karena aturan turunannya belum sepenuhnya jelas. Investor khawatir kebijakan tersebut bisa memengaruhi kinerja perusahaan eksportir dalam jangka panjang.

FTSE Russell Keluarkan Empat Saham Indonesia

Sentimen lain datang dari hasil quarterly review FTSE Global Equity Index Series (GEIS) edisi Juni 2026.

FTSE Russell mengeluarkan empat saham Indonesia dari indeks mereka tanpa ada penambahan emiten baru.

Berikut daftar saham yang keluar:

Saham Kategori
DSSA Large Cap
DAAZ Micro Cap
HILL Micro Cap
MLIA Micro Cap

Perubahan ini efektif berlaku mulai 22 Juni 2026 setelah penutupan perdagangan 19 Juni 2026.

Biasanya perubahan indeks seperti ini cukup memengaruhi arus dana asing, terutama dari investor institusi global yang mengikuti indeks FTSE.

IHSG Masih Berpotensi Menguji Level 6.000

Area 6.000 menjadi level psikologis yang sangat penting bagi IHSG dalam jangka pendek.

Jika tekanan rupiah berlanjut dan foreign flow belum kembali stabil, indeks masih berpotensi terkoreksi lagi menuju area tersebut.

Secara historis, fase panic selling biasanya baru mulai mereda ketika saham big caps sudah masuk area diskon ekstrem.

Menariknya, beberapa investor institusi mulai terlihat melakukan bargain hunting diam-diam di saham tertentu. Kondisi seperti ini biasanya disebut fase bottoming process. Bukan bull market baru.

Ciri utamanya adalah volatilitas tinggi dan pergerakan indeks yang naik turun tajam.

Saham yang Dinilai Menarik saat Pasar Volatil

Meski kondisi pasar belum stabil, ada beberapa saham yang mulai dianggap menarik karena valuasinya murah tetapi fundamentalnya masih cukup baik.

Berikut saham yang banyak dicermati:

Saham Alasan Menarik Target Harga
IMPC Valuasi murah dan laba tumbuh Rp2.000
UNVR Recovery play dan efisiensi mulai membaik Rp1.960
ULTJ Defensif, laba stabil, dividen tinggi Rp1.800
SCMA Transformasi digital mulai terlihat Rp254

Pendekatan stock picking saat ini jauh lebih penting dibanding sekadar memilih sektor.

Investor juga mulai disarankan menggunakan strategi bertahap atau dollar cost averaging dibanding trading agresif harian.

Investor Ritel Dinilai Bisa Jadi Penopang IHSG

Jumlah investor domestik sebenarnya terus bertambah. Namun masalah utamanya, banyak investor ritel masih bergerak berdasarkan emosi dan momentum jangka pendek.

Saat pasar naik terjadi FOMO. Ketika turun, panic selling langsung muncul. Di komunitas saham, situasi ini cukup sering terlihat beberapa bulan terakhir.

Karena itu edukasi soal investasi jangka panjang dan manajemen risiko mulai dianggap jauh lebih penting. Pasar juga membutuhkan investor domestik yang bisa menjadi pembeli stabil saat asing keluar.

Jika pola ini mulai terbentuk, volatilitas IHSG dinilai bisa menjadi lebih sehat dalam jangka panjang.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050