IHSG Ditutup Menguat ke 5.695 pada 1 Juli 2026, Saham Energi dan Infrastruktur Jadi Penopang Utama

1 Juli 2026 18:00
Bagikan :

 

IHSG ditutup naik 0,92 persen ke level 5.695,12 didukung penguatan sektor energi dan barang baku. (TradingView)

DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan Rabu, 1 Juli 2026, di zona hijau setelah menguat 51,93 poin atau 0,92 persen ke level 5.695,12.

Kenaikan ini terjadi di tengah kombinasi sentimen global yang cenderung positif dan sejumlah tantangan ekonomi domestik yang masih membayangi pasar.

Pergerakan positif tersebut sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga mengakhiri perdagangan dengan penguatan.

Bagi pelaku pasar, kondisi ini menjadi sinyal bahwa minat terhadap aset berisiko mulai membaik meskipun ketidakpastian global belum sepenuhnya hilang.

Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak cukup dinamis dengan level tertinggi mencapai 5.737,74 dan terendah di 5.607,45.

Aktivitas Perdagangan Cukup Ramai

Data perdagangan menunjukkan aktivitas investor masih relatif tinggi.

Indikator Nilai
Penutupan IHSG 5.695,12
Kenaikan +51,93 poin
Persentase Kenaikan +0,92%
Frekuensi Transaksi 1,54 juta kali
Volume Perdagangan 17,06 miliar saham
Nilai Transaksi Rp10,26 triliun
Saham Naik 391
Saham Turun 263
Saham Stagnan 305

Dari data tersebut terlihat bahwa jumlah saham yang menguat jauh lebih banyak dibandingkan yang mengalami penurunan. Ini menunjukkan sentimen pasar cenderung positif meskipun belum merata di seluruh sektor.

Sektor Energi dan Barang Baku Jadi Motor Penggerak

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sebagian besar sektor berhasil mencatatkan penguatan.

Sektor dengan Kenaikan Tertinggi

  • Barang baku: +2,81%
  • Energi: +2,63%
  • Infrastruktur: +1,39%

Kinerja sektor energi masih menjadi perhatian investor karena sejumlah saham berbasis komoditas menunjukkan pergerakan yang cukup agresif dalam beberapa sesi terakhir.

Menariknya, data heatmap sektor menunjukkan kelompok mineral non-energi melonjak 4,35 persen dalam sehari. Sementara sektor utilitas bahkan mencatat kenaikan 7,62 persen, menjadi salah satu sektor dengan performa terbaik pada perdagangan hari ini.

Sektor yang Masih Tertekan

Tidak semua sektor menikmati penguatan.

Beberapa sektor justru masih berada di zona merah, antara lain:

  • Transportasi dan logistik: -0,69%
  • Barang konsumen primer: -0,35%
  • Keuangan: -0,33%

Pelemahan sektor keuangan cukup menarik perhatian karena sejumlah saham bank besar justru masih menjadi kontributor utama transaksi harian.

Saham-Saham yang Menjadi Sorotan Investor

Beberapa emiten mencatat nilai transaksi dan volume perdagangan yang besar.

Berikut sejumlah saham yang menjadi perhatian pasar:

Saham Perubahan
CUAN +16,98%
RAJA +10,28%
BRPT +7,39%
TLKM +3,83%
AMMN +3,55%
DSSA +3,14%
ANTM +0,77%

Sementara itu, saham perbankan besar bergerak lebih bervariasi.

  • BBRI turun 2,20%
  • BBNI turun 1,90%
  • BMRI turun 1,04%
  • BBCA masih mampu naik 0,90%

Dalam beberapa kasus, investor mengaku masih cenderung berhati-hati terhadap sektor perbankan menjelang rilis data ekonomi global dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Bursa Asia Ikut Menguat

Penguatan IHSG juga mendapat dukungan dari sentimen regional.

Beberapa indeks utama Asia ditutup menguat:

  • Nikkei Jepang: +0,60%
  • Shanghai Composite: +0,44%
  • Shenzhen: +0,39%

Sedangkan indeks Strait Times Singapura masih melemah tipis sebesar 0,11 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa investor di kawasan Asia masih merespons positif perkembangan geopolitik yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir.

Investor Menunggu Hasil Pembicaraan AS dan Iran

Salah satu sentimen yang paling diperhatikan pasar saat ini adalah perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Pelaku pasar menantikan hasil pembicaraan yang berlangsung di Doha, Qatar, terkait upaya penyelesaian konflik yang telah berlangsung cukup lama.

Meski pembicaraan terus berjalan, pasar masih mencermati sikap Iran terkait penguasaan jalur maritim strategis yang menjadi salah satu isu penting dalam negosiasi.

Pengalaman pasar menunjukkan bahwa setiap perkembangan positif dalam konflik geopolitik biasanya langsung memicu peningkatan minat terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang seperti Indonesia.

Data Ekonomi Domestik Masih Menjadi Tantangan

Di balik kenaikan IHSG, sejumlah indikator ekonomi Indonesia justru menunjukkan sinyal perlambatan.

PMI Manufaktur Masuk Zona Kontraksi

S&P Global melaporkan PMI Manufaktur Indonesia turun menjadi 46,9 pada Juni 2026 dari sebelumnya 50,0 pada Mei.

Angka di bawah 50 menandakan aktivitas manufaktur sedang mengalami kontraksi.

Ini merupakan level terendah sejak Juni 2025 dan menjadi kontraksi kedua yang terjadi sepanjang tahun 2026.

Inflasi Juni Meningkat

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2026 sebesar:

  • 0,44% secara bulanan (mtm)
  • 1,79% secara year to date (ytd)
  • 3,34% secara tahunan (yoy)

Kenaikan inflasi dipengaruhi oleh faktor musiman, meningkatnya biaya bahan baku, serta penyesuaian harga bahan bakar.

Neraca Perdagangan Berbalik Defisit

BPS juga melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026.

Angka tersebut menjadi sorotan karena merupakan defisit pertama setelah Indonesia menikmati surplus perdagangan selama sekitar enam tahun terakhir.

The Fed Masih Menjadi Faktor Penentu

Di sisi global, pasar juga belum bisa mengabaikan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed.

Spekulasi tersebut menguat menjelang rilis data tenaga kerja AS yang dijadwalkan keluar pada 2 Juli 2026.

Jika data tenaga kerja menunjukkan kondisi ekonomi AS masih kuat, peluang kenaikan suku bunga dapat kembali meningkat. Situasi seperti ini biasanya membuat investor global lebih selektif dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang.

Kenaikan IHSG ke level 5.695 pada 1 Juli 2026 menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih mampu bertahan di tengah berbagai tekanan ekonomi domestik. Penguatan sektor energi, barang baku, dan infrastruktur menjadi faktor utama yang menjaga sentimen positif.

Meski demikian, investor masih perlu mencermati sejumlah risiko, mulai dari arah kebijakan The Fed, perkembangan negosiasi AS-Iran, hingga kondisi ekonomi Indonesia yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Saat ini, pasar terlihat bergerak lebih selektif, sehingga pemilihan sektor dan saham menjadi faktor yang semakin penting.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050