IHSG Ditutup Menguat Sepekan, tetapi Tekanan Global Masih Membayangi Pergerakan Bursa

26 Juli 2026 15:00
Bagikan :
IHSG menguat 0,34 persen dalam sepekan, tetapi sentimen global masih membatasi ruang kenaikan indeks. (TradingView)

DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang berhasil mencatat penguatan selama sepekan terakhir. Namun jika melihat pergerakan pasar secara keseluruhan, investor masih menghadapi berbagai tantangan yang membuat peluang penguatan lebih lanjut belum sepenuhnya terbuka.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG ditutup di level 6.196,43 pada perdagangan Jumat (24/7/2026), naik 0,34 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di posisi 6.175,53.

Meski demikian, indeks masih bergerak jauh di bawah level tertinggi tahunannya dan belum mampu keluar dari tekanan sentimen global yang terus berkembang.

Kinerja IHSG dan Aktivitas Bursa Selama Sepekan

Selain kenaikan indeks, sejumlah indikator perdagangan di Bursa Efek Indonesia juga menunjukkan perbaikan.

Berikut ringkasan pergerakan pasar selama periode 20–24 Juli 2026:

Indikator Pekan Sebelumnya Pekan Ini Perubahan
IHSG 6.175,53 6.196,43 +0,34%
Kapitalisasi Pasar Rp10.749 triliun Rp10.870 triliun +1,13%
Volume Transaksi Harian 26,17 miliar saham 43,68 miliar saham +66,88%
Nilai Transaksi Harian Rp13,99 triliun Rp19,76 triliun +41,21%
Frekuensi Transaksi Harian 2,33 juta kali 2,67 juta kali +14,40%

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyebut peningkatan terbesar terjadi pada rata-rata volume transaksi harian yang melonjak hampir 67 persen dibanding pekan sebelumnya.

Kenaikan aktivitas perdagangan ini menunjukkan minat transaksi masih cukup tinggi, meskipun arah pasar belum sepenuhnya stabil.

Mengapa IHSG Masih Sulit Memasuki Fase Bullish?

Dari pengamatan pelaku pasar, ada beberapa faktor yang membuat IHSG belum mampu bergerak lebih agresif.

1. Konflik Timur Tengah Kembali Memanas

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian investor global.

Dalam beberapa kasus sebelumnya, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah sering memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan dunia.

Saat ini harga minyak mentah dunia kembali mendekati US$100 per barel, level yang cukup sensitif bagi pasar.

2. Kekhawatiran Inflasi Global

Naiknya harga energi membuat pasar khawatir tekanan inflasi akan kembali meningkat.

Jika inflasi bertahan tinggi, peluang bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve memangkas suku bunga menjadi lebih kecil.

Situasi ini biasanya kurang disukai pasar saham karena biaya pendanaan tetap tinggi.

3. Kebijakan Amerika Serikat yang Sulit Diprediksi

Investor juga mencermati kebijakan perdagangan terbaru Presiden Donald Trump yang memberlakukan tarif impor baru sebesar 10–12,5 persen terhadap sekitar 60 mitra dagang, termasuk Indonesia.

Kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi arus perdagangan global dan menambah ketidakpastian bagi negara berkembang.

4. Aksi Jual Investor Asing

Faktor lain yang masih menjadi beban adalah keluarnya dana asing dari pasar saham domestik.

Pada perdagangan Jumat (24/7), investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell sebesar Rp1,36 triliun.

Secara kumulatif sejak awal tahun hingga 24 Juli 2026, nilai jual bersih asing telah mencapai Rp79,09 triliun.

Bagi investor ritel, angka ini menjadi salah satu indikator penting karena sering memengaruhi arah pergerakan indeks dalam jangka pendek.

Rupiah dan Suku Bunga Masih Menjadi Sorotan

Di tengah tekanan global, nilai tukar rupiah masih bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Meski Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen, volatilitas kurs tetap menjadi perhatian pasar.

Berdasarkan pengalaman pada periode-periode sebelumnya, pelemahan rupiah biasanya meningkatkan kehati-hatian investor asing terhadap aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, stabilnya kebijakan BI setidaknya membantu meredam tekanan yang lebih dalam terhadap pasar keuangan domestik.

Prediksi IHSG Pekan Depan

Secara teknikal, pergerakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi.

Analis memperkirakan indeks berpeluang bergerak dalam rentang terbatas dengan level:

  • Support: 5.987
  • Resistance: 6.268

Artinya, selama belum mampu menembus area resistance tersebut secara meyakinkan, peluang koreksi masih terbuka.

Sejumlah sentimen yang akan menjadi perhatian investor pekan depan antara lain:

  • Hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC)
  • Keputusan suku bunga The Fed
  • Data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat
  • Data inflasi PCE kuartal II-2026
  • Pergerakan harga minyak dunia
  • Nilai tukar rupiah
  • Perkembangan konflik Timur Tengah

Hal yang Perlu Dicermati Investor

Saat pasar berada dalam kondisi penuh ketidakpastian seperti sekarang, banyak investor memilih fokus pada saham dengan fundamental kuat dan kinerja keuangan yang stabil.

Musim laporan keuangan semester I-2026 juga mulai menjadi perhatian utama karena dapat memberikan gambaran kondisi emiten di tengah tekanan ekonomi global.

Berdasarkan pengamatan pasar dalam beberapa pekan terakhir, sentimen eksternal masih lebih dominan dibanding faktor domestik.

Karena itu, pergerakan IHSG dalam waktu dekat kemungkinan masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik, arah kebijakan The Fed, serta arus dana asing.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050