
DOYANDUIT – Perdagangan Jumat, 28 November 2025 ditutup di zona merah. IHSG melemah 37,15 poin atau 0,43% ke level 8.508,71, sementara indeks LQ45 ikut terkoreksi 0,74% ke posisi 845,76.
Tekanan ini terutama dipicu aksi profit taking setelah IHSG sempat mencetak rekor baru di pertengahan pekan.
Pergerakan intraday juga menunjukkan dinamika kuat: IHSG sempat dibuka menguat, tetapi bergerak ke teritori negatif sejak sesi pertama dan bertahan di zona merah hingga pasar ditutup.
Sentimen investor menurun karena pasar sedang menanti rilis sejumlah data ekonomi penting awal pekan depan.
Kinerja BEI Sepekan: Transaksi Melejit dan Kapitalisasi Pasar Mengembang
Meski penutupan Jumat melemah, performa BEI sepekan penuh (24–28 November 2025) justru bergerak positif. Data resmi BEI mencatat:
- IHSG menguat 1,12% dibanding pekan sebelumnya.
- IHSG naik dari 8.414,352 menjadi 8.508,706.
- Nilai transaksi harian rata-rata melonjak 41,87% menjadi Rp30,31 triliun (dari Rp21,37 triliun).
- Volume perdagangan meningkat 28,57%, menjadi 50,50 miliar lembar saham.
- Frekuensi transaksi harian naik 12,38%, mencapai 2,61 juta kali transaksi.
- Kapitalisasi pasar tumbuh 1,53%, menembus Rp15.626 triliun (dari Rp15.391 triliun).
Namun, pergerakan investor asing dalam sepekan masih memberikan catatan kehati-hatian: pada Jumat, 28 November saja, asing mencatat net sell Rp1,02 triliun. Secara year-to-date, total net sell asing telah mencapai Rp29,58 triliun.
Lonjakan transaksi dan kapitalisasi pasar menunjukkan bahwa likuiditas domestik sangat kuat. Ini berarti sekalipun asing keluar, pasar masih ditopang oleh investor lokal, baik ritel maupun institusi, yang cukup agresif.
Sektor Menguat & Melemah: Energi Memimpin, Teknologi Tertekan
IHSG yang koreksi pada Jumat tak merata di semua sektor. Peta sektoral menunjukkan dinamika berikut:
Sektor yang Menguat:
- Energi: +1,16%
- Properti: +0,82%
- Infrastruktur: +0,56%
Sektor energi kembali memimpin penguatan seiring naiknya harga komoditas global. Properti dan infrastruktur juga menunjukkan minat beli karena prospek pembangunan menjelang tahun fiskal baru.
Sektor yang Melemah:
- Teknologi: –1,91% (penurunan terdalam)
- Kesehatan: –0,58%
- Barang baku: –0,57%
Sektor teknologi menjadi pemberat indeks karena aksi ambil untung yang cukup agresif. Kondisi ini sesuai tren global di mana teknologi sedang berada dalam fase konsolidasi.
Di sisi emiten, saham-saham seperti NASI, STAR, PSKT, PADI, dan ROCK memimpin penguatan. Sementara BHAT, ESTI, BOGA, ESIP, dan CBUT mengalami penurunan terdalam.
Aktivitas perdagangan hari itu mencapai 2,34 juta transaksi dengan nilai Rp20,37 triliun, dan volume 41,12 miliar lembar saham, menunjukkan pasar tetap aktif meski IHSG melemah.
Sentimen Makro: Data Penting Pekan Depan Jadi Sorotan
Investor kini bersiap dengan agenda rilis data ekonomi domestik yang sangat padat:
Data yang akan dirilis awal pekan depan:
- PMI Manufaktur
- Neraca perdagangan Oktober 2025, diperkirakan surplus US$3,8 miliar
- Inflasi November 2025, diproyeksikan 0,3% (mtm) dan 2,8% (yoy)
- Cadangan devisa (5 Desember 2025)
Data-data ini akan sangat menentukan sentimen pasar. Neraca perdagangan yang surplus dan inflasi terkendali berpotensi menguatkan IHSG.
Faktor eksternal juga memengaruhi:
Dari Asia, inflasi Jepang pada Oktober turun menjadi 2,7% (dari 2,8%). Sementara inflasi inti naik menjadi 2,8%.
Angka ini masih di atas target Bank Sentral Jepang (2%) sehingga membuka kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Jika Jepang benar-benar menaikkan suku bunga, arus modal global bisa mengalir ke Yen dan menekan aset berisiko di emerging markets, termasuk Indonesia.
Pasar Asia pada sore hari juga bervariasi:
- Nikkei: –0,07%
- Shanghai: +0,34%
- Hang Seng: +0,34%
- Straits Times: +0,32%
Fluktuasi regional ini memberi sinyal bahwa pasar Asia masih dalam fase pencarian arah menjelang rilis data global.
Proyeksi IHSG Pekan Depan: Dua Skenario Besar
1. Skenario Optimis: Peluang Rebound
Jika inflasi, PMI, dan neraca perdagangan menunjukkan hasil positif, IHSG berpotensi kembali menguat. Dengan likuiditas yang tinggi, indeks diperkirakan:
- Support kuat: 8.400 – 8.500
- Resistance berikutnya: 8.600 – 8.700
Minat beli domestik yang solid akan menjadi motor utama, terutama di sektor energi, perbankan, dan properti.
2. Skenario Waspada: Koreksi Lanjutan
If net sell asing berlanjut dan data ekonomi kurang sesuai harapan, IHSG bisa kembali tertekan:
- Potensi turun ke area 8.320 – 8.380
- Sektor teknologi dan barang baku bisa kembali menjadi pemberat
- Risiko dari global markets (termasuk potensi kenaikan suku bunga Jepang & AS) perlu dicermati
Akhir November 2025 menunjukkan bahwa IHSG tidak hanya bergantung pada sentimen jangka pendek, tetapi juga pada fondasi ekonomi domestik yang masih cukup kuat.
Walaupun Jumat ditutup melemah, data BEI sepekan memperlihatkan pasar dalam kondisi sehat: transaksi melonjak, kapitalisasi pasar bertambah, dan minat investor domestik tetap kuat.