
DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi I Selasa, 16 Desember 2025, dengan pergerakan mendatar di level 8.649. Posisi ini sama dengan penutupan akhir sesi sebelumnya, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar meski aktivitas transaksi tetap tinggi.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat menguat hingga menyentuh area 8.696–8.700 sebelum kembali bergerak stabil.
Data menunjukkan 341 saham menguat, 329 saham melemah, dan 287 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp19,6 triliun dan volume 29,2 miliar saham. Angka tersebut mengindikasikan likuiditas pasar masih terjaga di level yang solid.
Pergerakan Indeks Lain dan Sektor Saham
Kinerja Indeks Utama
- LQ45 menguat 0,06%
- Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,51%
- IGS30 melemah 0,44%
- MSI36 turun 0,54%
Sektor di Zona Hijau
Mayoritas sektor masih bertahan positif, antara lain:
- Energi
- Consumer non-siklikal
- Infrastruktur
- Properti
- Transportasi dan industri
- Teknologi
Sementara itu, sektor keuangan, bahan baku, kesehatan, dan konsumer siklikal masih berada di zona merah.
Top Gainers dan Losers Sesi I
Aktivitas perdagangan sesi I juga diwarnai oleh pergerakan tajam sejumlah saham, baik di jajaran pelaba (top gainers) maupun perugi (top losers). Pergerakan ini mencerminkan selektivitas investor dalam merespons sentimen sektoral dan aksi ambil untung jangka pendek.
Saham Pelaba (Top Gainers)
Sejumlah saham mencatatkan penguatan signifikan hingga dua digit pada perdagangan sesi I:
-
PT Green Power Group Tbk (LABA)
Harga: 193 rupiah | Naik 32,19% -
PT Soechi Lines Tbk (SOCI)
Harga: 404 rupiah | Naik 24,69% -
PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS)
Harga: 2.740 rupiah | Naik 22,32% -
PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM)
Harga: 2.010 rupiah | Naik 21,45% -
PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN)
Harga: 810 rupiah | Naik 19,12% -
PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)
Harga: 1.025 rupiah | Naik 17,82%
Penguatan saham-saham tersebut umumnya dipicu oleh kombinasi sentimen teknikal, rotasi dana, serta minat spekulatif jangka pendek yang cukup aktif pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah.
Saham Perugi (Top Losers)
Di sisi lain, tekanan jual masih terlihat pada beberapa saham berikut:
-
PT Citatah Tbk (CTTH)
Harga: 186 rupiah | Turun 14,68% -
PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI)
Harga: 1.860 rupiah | Turun 14,52% -
PT PP Presisi Tbk (PPRE)
Harga: 135 rupiah | Turun 14,01% -
PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO)
Harga: 640 rupiah | Turun 13,51% -
PT Victoria Insurance Tbk (VINS)
Harga: 186 rupiah | Turun 12,26% -
PT Eratex Djaja Tbk (ERTX)
Harga: 226 rupiah | Turun 11,72%
Tekanan pada saham-saham tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh aksi profit taking lanjutan dan minimnya katalis positif jangka pendek, terutama menjelang periode akhir tahun.
Analisis Analis: Rotasi Sehat Menuju Blue Chip
Analis pasar menilai kondisi IHSG saat ini masih konstruktif. Ivan Rosanova, analis dari Bina Sekuritas, menyebut IHSG perlu menembus area teknikal tertentu untuk membuka ruang penguatan lanjutan.
“IHSG perlu bertahan dan menembus area di atas 8.690 untuk membuka jalan tren naik menuju level berikutnya,” ujar Ivan.
Level Teknis IHSG
- Support: 8.493 – 8.361 – 8.250
- Resistance: 8.742 – 8.877 – 8.941
Selama bertahan di atas area support, peluang penguatan dinilai masih terbuka meski berlangsung bertahap.
Likuiditas Tinggi dan Window Dressing Akhir Tahun
Menurut Candra Pasaribu, Head of Research PT Yuanta Sekuritas Indonesia, likuiditas pasar saat ini menjadi faktor utama yang menopang IHSG.
“Likuiditas harian yang mendekati Rp20 triliun memberi ruang bagi pasar untuk tetap stabil, meski terjadi rotasi antar sektor,” jelasnya.
Ia menilai rotasi dari saham konglomerasi ke saham blue chip, khususnya perbankan, justru menyehatkan struktur pasar. Saham-saham berkapitalisasi besar dinilai memiliki valuasi yang relatif menarik setelah sempat tertekan di awal tahun.
Perbankan Jadi Penopang Utama IHSG
Sektor perbankan disebut menyumbang sekitar 20–30% pergerakan IHSG. Dengan adanya dukungan likuiditas, termasuk suntikan dana ke perbankan BUMN, tren kredit mulai menunjukkan perbaikan sejak Oktober–November 2025.
“Perbankan berpotensi memimpin penguatan karena fundamentalnya membaik dan dividen yield masih menarik,” kata Candra.
Bagi investor jangka menengah, faktor ini menjadi pertimbangan penting dalam menyusun strategi portofolio. Jika kamu tertarik mendalami sektor ini, kamu juga bisa membaca artikel lain tentang strategi memilih saham perbankan di tengah pasar volatil.
Dampak Global: China dan Suku Bunga
Perlambatan ekonomi China dinilai memberi dampak terbatas bagi Indonesia. Pasalnya, komoditas utama ekspor seperti batu bara dan CPO memiliki sensitivitas yang lebih rendah terhadap perlambatan tersebut.
Dari sisi kebijakan moneter global, pasar masih mencermati arah suku bunga The Fed dan implikasinya terhadap BI Rate. Ketidakpastian global membuat Bank Indonesia cenderung berhati-hati demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Rekomendasi Saham Pilihan Analis
Candra Pasaribu menyampaikan beberapa saham yang dinilai menarik secara selektif:
Rekomendasi Utama
- BBRI
- Range: 3.760–3.940
- Didukung fundamental kuat dan potensi dividen menarik
- BRIS
- Range: 2.280–2.430
- Sektor pembiayaan syariah dinilai masih underpenetrated
- ANTAM
- Range: 2.970–3.130
- Prospek emas dan pasar domestik jadi penopang
Ia menekankan pentingnya strategi buy on weakness, terutama bagi saham yang sudah naik signifikan. Untuk insight lanjutan, kamu juga bisa menelusuri artikel terkait manajemen risiko saat pasar mendekati akhir tahun.
Pasar Stabil, Strategi Tetap Selektif
Pergerakan IHSG yang mendatar di level 8.649 mencerminkan pasar yang sedang menata ulang arah, bukan kehilangan momentum. Likuiditas tinggi, rotasi ke saham blue chip, serta dukungan sektor perbankan menjadi sinyal bahwa struktur pasar masih sehat.
Dengan memahami dinamika ini, investor dapat menyusun strategi yang lebih rasional dan terukur. Pendekatan selektif dan disiplin tetap menjadi kunci agar keputusan investasi lebih cerdas di tengah ketidakpastian global.