JPMorgan Pangkas Target Rata-rata Emas 2026, Tapi Tetap Optimistis Jangka Panjang Naik hingga US$6.000

1 Juli 2026 11:00
Bagikan :
Harga emas global terkoreksi dari rekor tertinggi awal 2026, namun JPMorgan masih memproyeksikan potensi kenaikan jangka panjang. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Harga emas global sedang mengalami fase koreksi cukup dalam setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada awal 2026. Dari posisi mendekati US$5.600 per ounce pada Januari, harga emas kini bergerak di kisaran US$3.974 per ounce pada 1 Juli 2026 pukul 11.40 WIB.

Penurunan tersebut membuat banyak investor mulai mempertanyakan arah pergerakan logam mulia dalam beberapa bulan ke depan. Namun menariknya, di tengah pelemahan pasar saat ini, JPMorgan masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek emas dalam jangka panjang.

Bahkan, bank investasi terbesar asal Amerika Serikat itu masih melihat peluang harga emas mendekati US$6.000 per ounce pada akhir 2026.

Mengapa Harga Emas Turun pada 2026?

Koreksi harga emas tahun ini bukan terjadi tanpa alasan.

Ada beberapa faktor yang secara bersamaan menekan pasar logam mulia, mulai dari kebijakan moneter hingga perubahan perilaku investor.

1. Dolar AS Menguat

Salah satu penyebab utama datang dari penguatan dolar Amerika Serikat.

Saat dolar menguat, harga emas biasanya menghadapi tekanan karena menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

2. Imbal Hasil Obligasi Naik

Kenaikan yield obligasi pemerintah AS juga mengurangi daya tarik emas.

Berbeda dengan obligasi yang memberikan imbal hasil tetap, emas tidak menghasilkan bunga atau dividen. Ketika yield meningkat, sebagian investor memilih memindahkan dana ke instrumen pendapatan tetap.

3. Aksi Ambil Untung Investor

Setelah reli panjang sejak 2024 hingga awal 2026, banyak investor memilih merealisasikan keuntungan.

Dalam beberapa kasus, aksi jual besar-besaran seperti ini sering memicu koreksi yang lebih dalam daripada perkiraan pasar.

4. Dana Keluar dari ETF Emas

Sejumlah ETF berbasis emas juga mencatat arus keluar dana dalam beberapa bulan terakhir.

Fenomena ini menunjukkan minat investasi jangka pendek sedang melemah meski permintaan fisik di beberapa negara masih relatif stabil.

Prediksi Harga Emas Menurut JPMorgan

Meski mengakui tekanan jangka pendek masih cukup kuat, JPMorgan tidak mengubah pandangan dasarnya terhadap emas.

Bank tersebut memang memangkas rata-rata proyeksi harga emas sepanjang 2026 dari US$5.708 menjadi US$5.243 per ounce.

Namun target jangka panjangnya masih tergolong agresif.

Tabel Proyeksi Harga Emas JPMorgan

Proyeksi Harga
Rata-rata harga emas 2026 US$5.243 per ounce
Target akhir 2026 Sekitar US$6.000 per ounce
Target akhir 2027 Hingga US$6.300 per ounce
Skenario pesimistis (support) Sekitar US$4.340 per ounce

Menurut tim riset JPMorgan yang dipimpin Greg Shearer, revisi tersebut lebih disebabkan melemahnya permintaan investasi jangka pendek, bukan karena perubahan fundamental pasar emas.

Dengan kata lain, bank ini melihat koreksi saat ini sebagai fase penyesuaian, bukan akhir dari tren kenaikan.

Faktor yang Membuat JPMorgan Tetap Bullish

Ada beberapa alasan mengapa JPMorgan masih optimistis terhadap prospek emas.

Permintaan Bank Sentral Tetap Kuat

Bank sentral di berbagai negara masih aktif menambah cadangan emas.

Meskipun estimasi pembelian global tahun 2026 diturunkan menjadi sekitar 640 ton dari sebelumnya 800 ton, angka tersebut tetap tergolong besar dalam konteks historis.

Pembelian dari bank sentral sering dianggap sebagai sumber permintaan yang relatif stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi harga.

Diversifikasi dari Dolar AS

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam cadangan devisanya.

Sebagian dana dialihkan ke emas sebagai aset penyimpan nilai jangka panjang.

Tren ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak analis masih melihat potensi kenaikan harga emas dalam beberapa tahun mendatang.

Ketidakpastian Global Masih Tinggi

Konflik geopolitik, utang pemerintah yang terus meningkat, hingga ketidakpastian kebijakan moneter masih menjadi faktor pendukung harga emas.

Saat kondisi global tidak menentu, investor biasanya kembali mencari aset yang dianggap lebih aman.

Produksi Tambang Tidak Bertumbuh Cepat

Di sisi pasokan, pertumbuhan produksi emas global relatif terbatas.

Ketika permintaan meningkat sementara pasokan tidak bertambah signifikan, harga cenderung mendapatkan dukungan dalam jangka panjang.

Masalah yang Sering Membingungkan Investor zaat Harga Emas Turun

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap setiap penurunan harga sebagai tanda tren telah berakhir.

Padahal tidak selalu demikian.

Kondisi Persepsi Umum Fakta yang Sering Terjadi
Harga turun tajam Tren naik selesai Bisa jadi hanya koreksi sementara
ETF mencatat arus keluar Minat emas hilang Permintaan fisik masih kuat
Dolar menguat Emas pasti terus turun Hubungan keduanya tidak selalu linear
Investor panik Banyak yang menjual Sebagian investor justru akumulasi

Sejumlah investor bahkan mengaku melewatkan peluang kenaikan besar karena terlalu cepat keluar saat pasar sedang terkoreksi.

Tentu saja, tidak ada jaminan harga emas akan kembali naik sesuai prediksi. Namun memahami konteks pasar biasanya membantu membuat keputusan yang lebih rasional.

Apakah Saat Ini Waktu yang Tepat Membeli Emas?

JPMorgan tidak memberikan rekomendasi langsung kepada investor ritel untuk membeli atau menjual emas.

Namun riset mereka menunjukkan bahwa setelah koreksi sekitar 25% dari puncak harga awal tahun, rasio risiko dan potensi keuntungan menjadi lebih menarik dibanding saat harga berada di level tertinggi.

Meski begitu, volatilitas jangka pendek masih mungkin terjadi jika suku bunga tinggi bertahan lebih lama atau dolar AS kembali menguat.

Karena itu, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, dan jangka waktu investasi masing-masing.

Harga emas memang sedang berada dalam tekanan setelah reli panjang yang terjadi selama dua tahun terakhir. Namun menurut JPMorgan, faktor-faktor fundamental yang menopang pasar emas masih belum berubah.

Permintaan dari bank sentral, diversifikasi cadangan global, serta ketidakpastian ekonomi dunia masih menjadi alasan kuat mengapa banyak analis mempertahankan prospek positif terhadap logam mulia ini.

Bagi investor jangka panjang, fase koreksi saat ini justru menjadi periode yang menarik untuk diamati.

Pergerakan emas dalam paruh kedua 2026 kemungkinan akan menjadi penentu apakah target US$6.000 per ounce benar-benar dapat tercapai atau masih membutuhkan waktu lebih lama.

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Harga emas dapat berfluktuasi dan berisiko menimbulkan kerugian. Lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Berita Terbaru
bos paud ra kemenag
Panduan Lengkap Pengisian Dokumen Ajuan BOP RA Tahap 2 Tahun 2026 agar Cepat Diverifikasi
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah