Michael Burry Peramal Krisis 2008 Peringatkan Bubble AI, Ini Tanda-Tanda yang Mengkhawatirkan

7 Juni 2026 09:00
Bagikan :
Michael Burry dan NVIDIA dalam ilustrasi perdebatan mengenai potensi bubble AI di Wall Street.
Michael Burry menilai euforia AI saat ini memiliki sejumlah karakteristik yang mengingatkannya pada gelembung teknologi masa lalu. (DoyanDuit)

DOYANDUIT – Setiap kali Michael Burry berbicara soal gelembung aset, Wall Street cenderung berhenti sejenak dan mendengarkan.

Alasannya sederhana. Ia adalah orang yang bertaruh melawan pasar perumahan Amerika sebelum krisis finansial 2008 meledak.

Saat hampir semua analis optimistis, Burry justru melihat retakan yang belum terlihat oleh orang lain. Kini, hampir dua dekade setelah krisis tersebut, nama yang sama kembali muncul dalam diskusi investor global.

Bukan karena properti atau pun perbankan, melainkan karena AI dan tepat di pusat pusaran itu berdiri NVIDIA.

Taruhan yang Membuat Pasar Kembali Melirik Burry

Lewat posisi bearish yang diungkap ke publik, Burry diketahui memiliki put option terhadap sekitar 1 juta saham NVIDIA dengan nilai nosional mendekati US$187 juta atau sekitar Rp3,2 triliun.

Angka itu langsung memicu perdebatan. Apakah orang yang pernah memprediksi krisis 2008 kembali melihat gelembung besar berikutnya?

Atau kali ini ia terlalu cepat mengambil kesimpulan?

Yang menarik, Burry sendiri tidak pernah mengatakan AI adalah penipuan. Ia justru berkali-kali menegaskan hal yang berbeda.

“Saya tidak bilang NVIDIA adalah Enron. Ini lebih mirip Cisco.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya cukup dalam.

NVIDIA Bukan Penipuan, Tetapi Bisa Saja Terlalu Mahal

Burry membandingkan NVIDIA dengan Cisco pada era dot-com tahun 2000. Saat itu Cisco merupakan perusahaan teknologi terbaik di dunia. Produk mereka nyata. Bisnisnya sehat. Permintaan pasar sangat besar.

Masalahnya bukan pada perusahaannya. Masalahnya ada pada ekspektasi.

Ketika ekspektasi tumbuh lebih cepat daripada realitas bisnis, harga saham bisa melambung jauh di atas nilai fundamentalnya.

Cisco kemudian kehilangan sekitar 80% nilai pasar setelah gelembung dot-com pecah dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Inilah analogi yang dipakai Burry terhadap NVIDIA. Bukan tuduhan fraud.

Melainkan peringatan bahwa perusahaan hebat pun bisa menjadi investasi buruk jika dibeli pada harga yang terlalu tinggi.

Petunjuk Pertama Muncul dari Laporan Keuangan

Bagian yang paling menarik justru bukan soal valuasi. Burry memulai analisanya dari laporan keuangan NVIDIA. Di sana ia menemukan sesuatu yang menurutnya tidak biasa.

Konsentrasi pelanggan semakin ekstrem

Tiga pelanggan terbesar NVIDIA saat ini menyumbang:

Periode Porsi Piutang
2020 33%
Kuartal sebelumnya 56%
Kuartal terbaru 64%

Dalam waktu sekitar lima tahun, tingkat konsentrasi pelanggan hampir dua kali lipat. Artinya, semakin banyak pendapatan NVIDIA bergantung pada semakin sedikit pembeli.

Burry menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang sudah berada di luar batas normal atau off the charts.

Siapa Pembeli yang Menggerakkan Mesin NVIDIA?

Sebagian besar pembeli tersebut bukan perusahaan biasa. Mereka adalah hyperscaler raksasa:

  • Microsoft
  • Google
  • Amazon
  • Meta

Kelompok ini diperkirakan menyumbang sekitar 50% pendapatan data center NVIDIA. Sekilas angka itu mungkin tidak terlihat mengkhawatirkan.

Namun dalam dunia investasi, ketergantungan yang terlalu besar pada sedikit pelanggan selalu menjadi perhatian. Bayangkan jika satu pelanggan besar mengurangi pembelian.

Dampaknya bisa langsung terasa pada laporan keuangan.

Burry menghitung, jika Microsoft saja memangkas belanja chip AI sebesar 20%, maka pendapatan NVIDIA berpotensi berkurang sekitar 4,2%, atau setara US$3,4 miliar per kuartal.

Dalam rupiah, nilainya mendekati Rp59 triliun. Dari satu pelanggan saja.

Teori Bullwhip Effect yang Jarang Dibahas Investor Ritel

Ada satu istilah yang terus muncul dalam tulisan Burry.

Bullwhip Effect.

Fenomena ini sebenarnya dikenal luas dalam manajemen rantai pasok. Permintaan kecil di hilir bisa menghasilkan dampak yang jauh lebih besar di hulu.

Misalnya:

  • Konsumen mengurangi pembelian 5%
  • Distributor memangkas pesanan 10%
  • Pabrik mengurangi produksi 15%
  • Pemasok bahan baku memangkas kapasitas lebih besar lagi

Efeknya seperti cambuk yang semakin besar ketika bergerak ke belakang. Menurut Burry, kondisi serupa berpotensi terjadi dalam ekosistem AI.

Saat ini banyak perusahaan membangun pusat data dalam skala masif. NVIDIA pun merespons dengan memperbesar komitmen pasokan.

Masalahnya, jika permintaan akhirnya melambat, efek perlambatan tersebut bisa menjalar ke seluruh rantai industri sekaligus.

Ada Utang yang Tidak Terlihat di Permukaan

Inilah bagian yang membuat analisis Burry berbeda dari sekadar kritik valuasi. Ia tidak hanya melihat harga saham.

Ia juga menyoroti bagaimana ledakan AI saat ini dibiayai.

Menurut riset yang ia publikasikan, berbagai proyek AI dan data center memiliki komitmen pembiayaan yang nilainya diperkirakan mencapai sekitar US$662 miliar atau lebih dari Rp11.450 triliun.

Sebagian komitmen tersebut bersifat off-balance-sheet. Artinya tidak seluruhnya muncul secara jelas dalam angka utang yang terlihat di laporan keuangan publik.

Secara akuntansi hal tersebut legal. Namun menurut Burry, risiko ekonominya tetap ada. Dan itulah yang perlu diperhatikan investor.

“Menerbangkan Pesawat Kosong”

Dalam salah satu tulisannya yang berjudul Tracepalooza, Burry menggunakan analogi yang cukup unik. Ia menggambarkan kondisi industri AI saat ini seperti perusahaan yang “menerbangkan pesawat kosong ke mana-mana.”

Maksudnya bukan bahwa AI tidak berguna. Melainkan banyak pengeluaran yang dilakukan untuk:

  • Melatih model
  • Benchmarking
  • Uji coba
  • Kompetisi performa
  • Perebutan posisi pasar

Aktivitas tersebut memang menciptakan permintaan besar terhadap GPU. Tetapi belum tentu semuanya menghasilkan pendapatan yang sebanding dalam jangka panjang.

Menurut Burry, fase ini bersifat sementara. Ketika fase tersebut berakhir, kebutuhan pembelian chip bisa berubah drastis.

Konsep “The Bezzle”: Saat Semua Orang Merasa Lebih Kaya

Pusat dari seluruh tesis Burry sebenarnya ada pada satu istilah.

The Bezzle.

Konsep yang diperkenalkan ekonom John Kenneth Galbraith ini menggambarkan periode ketika banyak orang merasa lebih kaya daripada kondisi sebenarnya.

Pada fase ini:

  • Optimisme mendominasi pasar
  • Valuasi terus naik
  • Risiko diabaikan
  • Semua pihak percaya pertumbuhan akan terus berlanjut

Lalu suatu hari realitas mulai mengejar ekspektasi. Burry menilai sebagian belanja AI saat ini berpotensi berada dalam fase tersebut.

Bukan karena AI palsu, tapi karena pasar mulai memperlakukan permintaan yang mungkin bersifat sementara seolah-olah akan bertahan selamanya.

Menariknya, Taruhan NVIDIA Belum Membuat Burry Untung

Ada fakta yang sering terlewat dalam diskusi ini. Sampai 2026, posisi put option NVIDIA yang dimiliki Burry justru belum menjadi sumber keuntungan terbesar.

Saham NVIDIA masih bergerak relatif kuat. Yang menghasilkan profit lebih besar justru posisi bearish terhadap perusahaan lain seperti Palantir dan Oracle yang sempat mengalami koreksi lebih dalam.

Artinya, bahkan Burry sendiri belum bisa membuktikan bahwa tesisnya benar. Setidaknya belum.

Kadang Langkah Terbaik Adalah Tidak Ikut Bermain

Burry pernah menulis sebuah kalimat yang kini sering dikutip investor.

“Sometimes, the only winning move is not to play.”

Kalimat tersebut bukan ajakan untuk menjauhi saham teknologi. Bukan pula ajakan menjual NVIDIA.

Maknanya lebih sederhana.

Ketika sebuah sektor dipenuhi euforia, keputusan terbaik terkadang bukan ikut berlari bersama kerumunan, melainkan berhenti sejenak dan memastikan bahwa risiko yang ada benar-benar dipahami.

Saat ini AI jelas sedang mengubah dunia. NVIDIA juga masih menjadi pemain paling dominan di industri tersebut.

Namun sejarah pasar menunjukkan bahwa teknologi revolusioner dan harga saham yang terlalu mahal bisa terjadi secara bersamaan.

Itulah alasan mengapa pandangan Michael Burry tetap menarik untuk disimak, bahkan oleh investor yang tidak setuju dengannya.

Karena sering kali, risiko terbesar bukan berasal dari apa yang kita lihat. Melainkan dari hal-hal yang dianggap semua orang terlalu jelas untuk dipertanyakan.

Berita Terbaru
bupot tanpa transaksi
NPWP Disalahgunakan untuk Faktur Pajak Fiktif? Begini Langkah yang Harus Dilakukan
role akses penandatanganan spt
Coretax DJP Tambah Role Baru Penandatangan SPT 21/26, Data Gaji Pegawai Kini Lebih Terjaga
surat bebas pajak lazada
Cara Isi Surat Keterangan Penghasilan Bebas Pajak Lazada Terbaru, Seller Wajib Tahu Sebelum Upload
survei rumah pendidikan
Cara Mengisi Survei Rumah Pendidikan di Info GTK 2026, Panduan Lengkap untuk Guru dan Kepala Sekolah
XAUUSD_2026-08-03_13-17-31
Harga Emas Hari Ini 3 Agustus 2026: Antam Naik Rp7.000 per Gram, Emas Dunia Rebound di Atas US$4.050