
DOYANDUIT – Kuartal ketiga tahun 2025 menandai fase penting dalam pergeseran pasar aset kripto global. Beberapa whale Bitcoin melakukan aksi jual besar-besaran, salah satunya dengan melepaskan 24.000 BTC senilai sekitar $2,7 miliar.
Aksi ini memicu penurunan harga Bitcoin hingga $4.000 hanya dalam hitungan jam, sekaligus menyebabkan lebih dari $715 juta posisi leverage dilikuidasi di berbagai bursa.
Fenomena ini menunjukkan rapuhnya struktur pasar Bitcoin, terutama ketika likuiditas menurun pada akhir pekan. Kondisi ini menjadi pemicu investor institusional untuk mengalihkan modal ke aset lain yang dianggap lebih stabil dan menjanjikan, yaitu Ethereum.
Seperti dijelaskan dalam laporan CoinMetrics dan Glassnode, penurunan dominasi Bitcoin hingga di bawah 60% selalu menjadi indikator awal “altcoin season”, yakni periode ketika altcoin, khususnya Ethereum, memperoleh pangsa pasar yang lebih besar.
Ethereum Jadi Tujuan Modal Baru
Lonjakan Adopsi Institusional
Berbeda dengan Bitcoin, Ethereum justru mengalami percepatan adopsi institusional sepanjang 2025. ETF Ethereum yang terdaftar di Amerika Serikat berhasil menghimpun lebih dari $27,6 miliar aset pada Q3, mendongkrak harga ETH ke kisaran $4.373.
Beberapa analis bahkan memproyeksikan target ambisius ETH mencapai $20.000 pada 2028, seiring semakin kokohnya perannya dalam tokenisasi dan ekosistem DeFi.
Rasio ETH/BTC juga meningkat dari 0,03 menjadi 0,05 sepanjang 2025, menandakan pergeseran besar-besaran modal dari Bitcoin ke Ethereum.
Salah satu transaksi mencolok adalah konversi 2.000 BTC senilai $221 juta menjadi 49.850 ETH. Hingga Agustus 2025, whale tersebut telah mengakumulasi 691.358 ETH atau setara dengan $3 miliar.
Teknologi dan Model Deflasi
Ethereum berhasil menarik minat berkat keunggulan fundamentalnya. Upgrade jaringan seperti Dencun dan Pectra memangkas biaya transaksi Layer-2 hingga 90%, menjadikan DeFi lebih efisien dan ramah pengguna. Akibatnya, total value locked (TVL) di ekosistem Ethereum melonjak ke $223 miliar.
Selain itu, mekanisme staking dengan imbal hasil 3,8–5,5% jauh lebih menarik dibandingkan yield Bitcoin yang stagnan di kisaran 1,5–2%.
Kondisi ini mendorong institusi besar seperti Galaxy Digital dan BitGo untuk mengakumulasi ETH senilai lebih dari $456,8 juta melalui sembilan dompet kustodian.

Dampak Makroekonomi dan Implikasi
Konteks Regulasi dan Ekonomi
Faktor eksternal turut memperkuat posisi Ethereum. Regulasi seperti GENIUS Stablecoin Act di AS serta kebijakan moneter longgar yang diperkirakan akan muncul pada pemerintahan baru menempatkan Ethereum sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.
Sementara itu, data on-chain menunjukkan perbedaan mencolok: saldo Bitcoin di bursa justru meningkat, indikasi tekanan jual, sedangkan persediaan Ethereum di bursa terus menurun, menandakan akumulasi jangka panjang.
Ethereum sebagai Store of Value Baru
Dengan Sharpe ratio 1.0 di periode Q1–Q3 2025, Ethereum menunjukkan performa risiko-terkoreksi yang lebih baik dibandingkan Bitcoin. Banyak analis melihat Ethereum bukan hanya sekadar aset spekulatif, tetapi juga store of value modern yang mendukung tokenisasi, stablecoin, hingga ekosistem keuangan terdesentralisasi.
Seperti disampaikan seorang analis di Bloomberg Intelligence, “Ethereum kini memiliki posisi unik: tidak hanya sebagai mata uang digital, tetapi juga infrastruktur keuangan global yang mendukung likuiditas institusional.”
Kesimpulan
Aksi jual besar whale Bitcoin di Q3 2025 menjadi pemicu pergeseran modal ke Ethereum. Lonjakan ETF, staking yield yang menarik, serta inovasi jaringan memperkuat posisi Ethereum sebagai aset yang lebih tahan banting terhadap volatilitas.
Jika tren ini berlanjut, Ethereum bukan hanya pesaing, melainkan berpotensi menjadi pilar utama ekosistem keuangan digital global dalam dekade mendatang.