
DOYANDUIT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menorehkan pencapaian bersejarah pada perdagangan Selasa (23/9/2025). Indeks ditutup menguat 85,16 poin atau 1,06 persen ke level 8.125,20, menandai rekor penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Posisi ini melampaui rekor sebelumnya di 8.051,11 yang dicapai pada Jumat (19/9/2025), serta pencapaian 8.025,18 pada Rabu (17/9/2025). Dengan demikian, IHSG berhasil membukukan rekor ATH tiga kali hanya dalam sepekan terakhir.
Mengutip data perdagangan BEI pukul 16.00 WIB, tercatat 395 saham menguat, 252 saham melemah, dan 157 saham stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp 31,59 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 61,19 miliar saham.
Menurut catatan Bursa Efek Indonesia, capaian ini menunjukkan tingginya antusiasme investor di tengah sentimen global yang beragam.
Kontributor Utama Kenaikan IHSG
Saham-saham Top Gainers
Beberapa emiten besar menjadi motor penggerak penguatan indeks hari ini. Di antaranya:
- Bank Central Asia (BBCA) naik 1,95 persen ke level 7.875.
- Astra International (ASII) menguat 3,51 persen ke level 5.900.
- Barito Pacific (BRPT) melonjak 4,66 persen ke level 3.370.
Kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar ini menjadi faktor utama yang membawa IHSG ke level tertingginya sepanjang sejarah.
Saham-saham Top Losers
Meski indeks mencetak rekor, beberapa saham masih menahan laju penguatan, antara lain:
- Merdeka Copper Gold (MDKA) turun 2,78 persen ke 2.450.
- Surya Citra Media (SCMA) terkoreksi 2,31 persen ke 338.
- Merdeka Battery Materials (MBMA) melemah 2,79 persen ke 496.
Perbandingan dengan Pasar Regional
Menariknya, pencapaian IHSG terjadi ketika mayoritas pasar saham di kawasan Asia bergerak negatif.
- Shanghai Composite ditutup turun 0,18 persen ke 3.821,58.
- Hang Seng melemah tipis 0,70 poin ke 26.159,11.
- Strait Times justru menguat 0,23 persen ke 4.307,22.
- Nikkei 225 stagnan di level 45.493,69.
Perbedaan arah pergerakan ini menegaskan bahwa IHSG memiliki katalis domestik yang cukup kuat, terutama dari saham perbankan dan industri besar.

Rupiah Tertekan di Tengah Euforia Saham
Di sisi lain, pergerakan rupiah justru berlawanan arah dengan IHSG. Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah ke level Rp 16.688 per dollar AS, atau turun 0,46 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.611.
Posisi ini menjadi yang terlemah sejak pertengahan Mei 2025. Sementara itu, berdasarkan kurs tengah Jisdor, rupiah berada di level Rp 16.638 per dollar AS, melemah dari posisi sehari sebelumnya di Rp 16.607.
Pelemahan rupiah menandakan bahwa pasar valuta asing masih dibayangi ketidakpastian global, terutama terkait kebijakan moneter Amerika Serikat dan harga komoditas dunia.
Tren IHSG ke Depan
Dengan capaian ini, IHSG telah menorehkan rentang pergerakan tahunan dari 5.882,61 hingga 8.125,20. Kenaikan hampir 40 persen dalam setahun terakhir menjadi catatan penting bagi pelaku pasar.
Beberapa analis memperkirakan tren positif masih bisa berlanjut selama sentimen domestik kuat, terutama didorong oleh kinerja emiten berkapitalisasi besar. Namun, tekanan eksternal seperti pelemahan rupiah, pergerakan harga minyak, dan kebijakan bank sentral global tetap menjadi faktor risiko.
Sebagai catatan, perdagangan saham hari ini menegaskan bahwa pasar modal Indonesia mampu mencetak rekor meski tekanan eksternal cukup besar.
Kesimpulan
Hari perdagangan Selasa (23/9/2025) menandai momen bersejarah bagi pasar modal Indonesia. IHSG berhasil ditutup di level tertinggi sepanjang masa, yaitu 8.125,20, dengan dukungan kuat dari saham big caps seperti BBCA, ASII, dan BRPT.
Namun, euforia ini dibayangi pelemahan rupiah yang kembali menembus level Rp 16.600 per dollar AS. Dengan demikian, investor masih perlu memperhatikan faktor eksternal yang bisa memengaruhi stabilitas pasar ke depan.
Capaian IHSG hari ini menjadi sinyal positif bagi kepercayaan investor, sekaligus mencerminkan daya tahan ekonomi domestik di tengah gejolak global.