
DOYANDUIT – Mendapatkan Rp100 juta pertama dari pasar keuangan kerap dianggap sebagai target besar. Namun menurut Sulianto Indria Putra, angka tersebut justru relatif kecil jika ditempatkan dalam konteks pasar finansial.
Ia menilai bahwa pencapaian Rp100 juta pertama lebih ditentukan oleh keterampilan dan pendekatan yang tepat, bukan faktor keberuntungan.
Sulianto memulai perjalanan investasinya sejak kelas 10 SMA dengan modal awal Rp10 juta dari orang tua. Dari sana, ia mengembangkan portofolio di berbagai instrumen, termasuk saham, reksa dana, emas digital, dan kripto, hingga membangun aset bernilai ratusan miliar rupiah di usia muda.
Menurutnya, target Rp100 juta pertama di pasar finansial masih berada pada zona yang sepenuhnya bisa dicapai melalui penguasaan skill dasar.
Menentukan Modal dan Target Secara Rasional
Dikutip dari akun YouTubenya, langkah awal yang ditekankan adalah mengidentifikasi modal yang dimiliki. Modal ini bisa sangat beragam, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga puluhan juta rupiah.
Dalam contoh yang ia gunakan, modal Rp5 juta dengan target Rp100 juta berarti membutuhkan pertumbuhan sekitar 20 kali lipat.
Ia menegaskan bahwa secara teknis, pencapaian tersebut mungkin terjadi di crypto, tetapi semakin besar target pertumbuhan, semakin tinggi risiko yang menyertainya.
“Semakin besar reward yang dicari, risiko pasti ikut naik. Tapi risiko tinggi tidak selalu berarti reward tinggi,” katanya.
Karena itu, ia menyarankan agar target pertumbuhan disesuaikan dengan kondisi modal dan kesiapan mental.
Pentingnya Sumber Modal Tambahan
Bagi mereka yang belum memiliki modal atau hanya memiliki modal sangat kecil, Sulianto menilai trading bukan titik awal. Ia menyarankan membangun sumber penghasilan terlebih dahulu, terutama yang tidak membutuhkan modal besar.
Pendekatan ini bertujuan agar dana yang digunakan di pasar finansial berasal dari penghasilan tambahan, bukan dari kebutuhan utama.
Beberapa prinsip yang ditekankan:
- Hindari sumber penghasilan yang membutuhkan modal besar
- Prioritaskan income dengan cost basis rendah atau nol
- Gunakan penghasilan tersebut sebagai modal bertahap
Menurutnya, memperbesar modal sering kali lebih efektif dibanding memaksakan target penggandaan ekstrem dari modal kecil.
Manajemen Risiko sebagai Fondasi
Sebelum masuk ke strategi teknikal, Sulianto menekankan pentingnya manajemen risiko. Ia menyarankan setiap trader memiliki dana darurat setara 12 bulan kebutuhan hidup sebelum aktif trading.
Dalam praktiknya:
- Risiko per transaksi disarankan di kisaran 5–7% untuk modal sekitar Rp10 juta
- Kerugian harian harus dibatasi
- Tidak menetapkan target profit harian
“Profit jangan dibatasi, tapi loss harus dibatasi,” ujarnya.
Ia juga menekankan penggunaan trailing stop dan disiplin terhadap batas kerugian. Untuk diketahui, trailing stop adalah fitur order otomatis dalam trading yang menyesuaikan level stop-loss secara dinamis mengikuti pergerakan harga pasar ke arah yang menguntungkan, guna mengunci profit sambil tetap melindungi dari potensi kerugian.
Pemanfaatan Alat Bantu Manajemen Risiko
Untuk membantu perhitungan risiko dan ukuran posisi, ia merekomendasikan penggunaan kalkulator manajemen risiko yang tersedia secara gratis di platform charting.
Fungsi utama alat ini meliputi:
- Menghitung ukuran posisi
- Menyesuaikan leverage
- Menentukan batas risiko per transaksi
Pendekatan ini bertujuan mencegah kesalahan manajemen risiko yang sering terjadi pada trader pemula.
Strategi Dasar Trading dengan Moving Average
Setelah fondasi risiko dipahami, barulah strategi teknikal diterapkan. Sulianto menyederhanakan pendekatan trading dengan menggunakan indikator moving average, khususnya exponential moving average (EMA).
Moving average berfungsi sebagai harga rata-rata dari sejumlah candle sebelumnya, tergantung pada parameter yang dipilih. Semakin besar time frame, semakin valid sinyal yang dihasilkan.
Ia menekankan bahwa:
- Time frame kecil mengandung banyak noise
- Time frame besar cenderung lebih stabil
- Analisis multi-time frame meningkatkan akurasi
Membaca Tren Menggunakan Moving Average
Secara sederhana:
- Harga di atas moving average → tren bullish
- Harga di bawah moving average → tren bearish
- Harga bolak-balik di sekitar garis → sideways
Untuk tren jangka panjang, ia menyarankan penggunaan EMA 50 atau EMA 100. Sementara untuk jangka pendek, EMA 10–20 lebih relevan.
Golden Cross dan Death Cross
Ia juga menjelaskan konsep double moving average:
- Golden cross terjadi saat MA pendek memotong MA panjang ke atas
- Death cross terjadi saat MA pendek memotong MA panjang ke bawah
Golden cross sering digunakan sebagai sinyal masuk, sedangkan death cross menjadi sinyal keluar dalam pendekatan trend following.
Pendekatan ini menekankan mengikuti tren utama, bukan melawan arah pasar.
Keterbatasan Strategi di Pasar Sideways
Sulianto mengingatkan bahwa strategi moving average paling efektif saat pasar berada dalam tren kuat. Pada kondisi sideways, sinyal silang dapat muncul berulang kali dan memicu kerugian kecil beruntun.
Karena itu, ia menyarankan:
- Menghindari trading agresif saat pasar datar
- Mengonfirmasi kondisi tren terlebih dahulu
Moving Average sebagai Support dan Resistance Dinamis
Selain tren, moving average juga berfungsi sebagai support dan resistance dinamis. Ia menjelaskan bahwa harga sering kali memantul atau tertahan di area moving average, terutama jika didukung pola candlestick seperti engulfing.
Pendekatan ini digunakan baik untuk posisi long maupun short, dengan penempatan stop loss di atas atau bawah candle konfirmasi.
Probabilitas dan Konsistensi
Dalam penutup penjelasannya, Sulianto menekankan bahwa trading adalah permainan probabilitas. Tidak semua posisi akan menghasilkan profit.
“Kalau dari lima transaksi, tiga profit dan dua rugi, selama rasio risiko-terhadap-imbal hasilnya benar, hasil akhirnya tetap positif,” katanya.
Ia menilai bahwa tingkat kemenangan 60–70% sudah cukup untuk membangun keunggulan statistik, tanpa perlu mencari strategi yang sempurna.
Pendekatan menuju Rp100 juta pertama dari crypto, menurut Sulianto Indria Putra, bukan soal spekulasi cepat, melainkan kombinasi modal yang realistis, manajemen risiko disiplin, dan strategi sederhana yang konsisten.
Dengan memahami struktur ini, pelaku pasar dapat mengambil keputusan yang lebih terukur dan rasional.