
DOYANDUIT – Peluncuran token Linea yang telah lama dinantikan akhirnya terjadi pada 11 September 2025, menandai tonggak penting bagi jaringan layer-2 Ethereum tersebut.
Token ini diluncurkan bersamaan dengan airdrop besar-besaran yang membagikan sekitar 9,36 miliar token ke 749.000 dompet yang memenuhi syarat. Banyak pihak menyambutnya dengan antusias, terlebih karena beberapa bursa kripto besar langsung mengumumkan listing token ini.
Namun, euforia tersebut hanya bertahan sekejap. Harga token Linea sempat melonjak hingga $0,1723, tetapi kemudian anjlok tajam hingga menyentuh titik terendah $0,02238 hanya dalam hitungan jam.
Saat artikel ini ditulis, Linea diperdagangkan di kisaran $0,02347, turun sekitar 85% dari harga tertinggi harian (ATH), dengan kapitalisasi pasar $364,74 juta dan volume perdagangan $971,6 juta menurut data CoinMarketCap.
Hantaman “Sell-Off” Besar-Besaran
Peran Whale dalam Aksi Jual Massal
Anjloknya harga Linea tak lepas dari aksi jual besar-besaran yang dilakukan para whale, yakni pemegang token dalam jumlah besar.
Begitu token ini masuk bursa, banyak whale langsung melepas token mereka demi mengamankan keuntungan cepat, memicu efek domino di pasar. Lonjakan suplai token yang tiba-tiba membuat harga ambruk drastis.
Fenomena semacam ini bukan hal baru dalam dunia kripto. Saat sebuah token baru diluncurkan dan harganya melonjak karena hype, para whale seringkali menjadi pihak pertama yang merealisasikan keuntungan, meninggalkan investor ritel dalam ketidakpastian.
Masalah Teknis yang Memicu Kepanikan
Selain faktor aksi jual, peluncuran Linea juga diwarnai masalah teknis. Beberapa pengguna melaporkan biaya transaksi tinggi serta gangguan performa jaringan yang sempat terhenti selama 46 menit tepat sebelum Token Generation Event (TGE).
Gangguan ini menurunkan kepercayaan pasar, membuat banyak pengguna memilih menjual token mereka lebih cepat.
Kontroversi Listing dan Teori “Kutukan Binance”
Di tengah kejatuhan harga ini, muncul teori konspirasi populer di komunitas kripto yang disebut “kutukan Binance”. Menurut teori ini, token-token yang baru saja listing di Binance cenderung mengalami penurunan harga 90–95% setelah peluncuran.
Linea, yang juga terdaftar di bursa besar termasuk Binance, disebut-sebut menjadi korban pola serupa.
Namun, teori ini belum terbukti secara ilmiah. Penurunan harga pasca-listing kemungkinan besar lebih disebabkan oleh mekanisme pasar: lonjakan minat awal yang mendorong harga naik, diikuti aksi ambil untung (profit-taking) massal saat token tersedia luas di bursa.
Dalam kasus Linea, kombinasi airdrop besar, hype awal, masalah teknis, dan aksi whale tampaknya menjadi penyebab utama penurunan tajam tersebut.

Sorotan pada Mekanisme Airdrop Linea
Mekanisme distribusi token Linea sendiri turut memicu perdebatan. Banyak komunitas menilai airdrop ini lebih menguntungkan pengguna Binance Alpha dan pemegang BNB ketimbang para pengguna yang secara aktif membangun ekosistem (farmer).
Beberapa pihak bahkan menyamakan Linea dengan meme coin karena dianggap belum memiliki utilitas yang jelas pada saat peluncuran.
Salah satu pengguna X (sebelumnya Twitter) menulis, “Kami membangun di Linea selama berbulan-bulan, tapi malah yang diuntungkan adalah pengguna Binance. Ini mengecewakan.”
Sentimen seperti ini memperburuk tekanan jual karena sebagian penerima airdrop langsung melepas token mereka begitu menerimanya.
Harapan dari Ucapan Joseph Lubin
Meski situasi terlihat suram, masih ada secercah harapan bagi para pemegang Linea. Joseph Lubin, pendiri Consensys dan tokoh penting di balik Linea, memberikan sinyal bahwa akan ada insentif lebih lanjut bagi pemegang token.
Dalam unggahannya di X, ia menulis bahwa memegang Linea bisa membuka peluang baru karena, “MetaMask dan Linea sedang menyiapkan sesuatu bersama untuk mewujudkannya.”
Pernyataan ini memunculkan spekulasi bahwa mungkin akan ada bentuk reward tambahan atau integrasi khusus antara Linea dan MetaMask di masa depan.
Walau belum ada rincian resmi, sinyal ini membuat sebagian investor memilih menahan token mereka sambil menunggu perkembangan berikutnya.
Jendela Klaim Masih Terbuka
Perlu diketahui, jendela klaim airdrop Linea akan terbuka selama 90 hari sejak peluncuran. Token yang tidak diklaim setelah periode tersebut akan dikembalikan ke Linea Consortium Ecosystem Fund.
Artinya, masih ada waktu bagi penerima airdrop untuk memutuskan apakah ingin langsung menjual atau menahan token mereka.
Antara Risiko dan Peluang
Kejatuhan harga Linea hingga 85% dalam 24 jam menjadi pengingat nyata bahwa dunia kripto sarat volatilitas dan risiko. Peluncuran token baru, apalagi disertai airdrop besar, kerap menciptakan lonjakan permintaan sesaat yang diikuti tekanan jual besar-besaran.
Meski demikian, potensi pemulihan masih terbuka jika tim pengembang berhasil memberikan utilitas nyata dan insentif jangka panjang bagi pemegang token.
Bagi investor, peristiwa ini menegaskan pentingnya riset mendalam dan manajemen risiko sebelum terjun dalam proyek kripto baru. Sebab dalam dunia yang bergerak cepat seperti ini, euforia bisa berubah menjadi kepanikan hanya dalam hitungan jam.