
DOYANDUIT – Pernah mendengar istilah “Kandang Monyet” yang belakangan ini viral di media sosial, terutama dalam diskusi seputar TikTok.
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi komentar di platform tersebut yang sering kali dianggap tidak logis, seragam, dan kurang mendalam.
Banyak netizen merasa bahwa diskusi di TikTok sulit berkembang menjadi percakapan yang lebih berkualitas karena didominasi oleh komentar-komentar yang hanya mengikuti tren atau agenda tertentu.
Istilah “Kandang Monyet” muncul sebagai kritik terhadap akun-akun yang terlihat seperti buzzer atau akun yang hanya mengikuti narasi tertentu tanpa menyajikan argumen yang kuat.
Misalnya, dalam isu politik atau sosial, banyak akun yang hanya berkomentar “Indonesia baik-baik saja” tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, yang membuat diskusi terasa dangkal dan repetitif.
Terlebih lagi saat ini banyak pengguna yang mencari cuan give away dari TikTok dengan konten joged-joged konyol.
Fenomena “Kandang Monyet” Menurut Para Netizen
Kritik terhadap pola komentar di TikTok banyak muncul dari pengguna platform lain, seperti X (sebelumnya Twitter) dan Quora.
Mereka melihat bahwa TikTok lebih banyak dipenuhi oleh konten yang bersifat hiburan, seperti joget, pamer kecantikan, dan flexing barang mewah, dibandingkan dengan diskusi yang berbobot.
Salah satu pengguna Quora, Ryn Jalan-Jalan, membagi tipe pengguna TikTok menjadi beberapa kategori:
- Pecinta Hiburan: Mereka yang menikmati konten joget, pamer kecantikan, dan flexing.
- Penikmat Edukasi: Mereka yang aktif mengikuti konten edukatif dari kreator seperti Bang Ari, Gz, Gerald Vincent, Raymond Chind, dan Farhan M.
- Komentator Kritis: Mereka yang menggunakan video tanggapan (VT) untuk membalas komentar yang dianggap kurang berbobot.
Namun, karena konten hiburan lebih banyak diminati, algoritma TikTok lebih sering merekomendasikan konten jenis ini, yang menyebabkan penggunaannya cenderung kurang mendukung literasi dan diskusi mendalam.
Cita, seorang pengguna Quora lainnya, menambahkan bahwa bahkan figur publik seperti Najwa Shihab pernah mendapat serangan di TikTok hanya karena mengkritik pemerintah.
Diskusi yang sehat sering terganggu oleh komentar yang tidak berbasis fakta atau hanya sekadar mengikuti opini mayoritas tanpa mempertimbangkan argumen lain.

TikTok, Platform Hiburan atau Perdebatan?
Tidak bisa dipungkiri bahwa TikTok memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir penggunanya. Konten yang sering Anda lihat dan interaksi yang Anda lakukan akan membentuk rekomendasi konten di masa mendatang.
Jika Anda lebih banyak berinteraksi dengan konten edukasi, maka algoritma akan menampilkan lebih banyak konten serupa. Sebaliknya, jika Anda sering menonton konten hiburan, maka itulah yang akan lebih banyak muncul.
Namun, dominasi konten hiburan di TikTok menyebabkan sebagian besar netizen menganggap bahwa platform ini kurang mendukung literasi digital.
Seperti yang diungkapkan oleh pengguna Quora lainnya, Mulyono, banyak pengguna TikTok yang kurang kritis dalam menyikapi isu-isu yang sedang berkembang. Hal ini menyebabkan munculnya konten dan komentar yang sering kali menyesatkan atau tidak berbobot.
Yefta Lee, seorang pengguna lainnya, bahkan menyebut bahwa “TikTok dipenuhi oleh jogetan tidak jelas seperti monyet,” sebagai bentuk sindiran terhadap konten-konten yang viral tanpa substansi.
Kesimpulan
TikTok menawarkan berbagai konten, dari hiburan hingga edukasi, tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Namun, penting bagi pengguna untuk lebih kritis dalam mengonsumsi informasi dan tidak hanya menerima begitu saja apa yang muncul di linimasa mereka.
Jika Anda ingin mendapatkan manfaat lebih dari TikTok, cobalah untuk lebih aktif mencari dan berinteraksi dengan konten edukatif.
Dengan demikian, Anda bisa membentuk algoritma yang lebih sesuai dengan minat Anda dan tidak terjebak dalam arus tren yang hanya mengedepankan hiburan semata.***