
DOYANDUIT – Tekanan jual investor asing masih menjadi perhatian utama di pasar saham Indonesia.
Dalam unggahan edukasi yang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya, motivator dan investor Tung Desem Waringin mengulas kondisi terkini Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengalami tekanan cukup dalam akibat keluarnya dana asing dalam jumlah besar.
Data yang ditampilkan menunjukkan bahwa hingga akhir Mei 2026, investor asing telah mencatatkan net outflow sekitar Rp64,8 triliun dari pasar saham Indonesia.
Besarnya dana yang keluar tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab utama pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada saat analisis dibuat, IHSG berada di level 5.952,46, turun 242,96 poin atau 3,92 persen dalam satu sesi perdagangan. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp22,899 triliun dengan volume perdagangan mencapai 37,996 miliar saham.
Menurut Tung Desem Waringin, banyak investor ritel sering tergoda membeli saham hanya karena harga terlihat murah setelah terkoreksi tajam. Padahal, selama tekanan jual institusi asing masih berlangsung, harga saham berpotensi terus bergerak turun.
“Uang pintar justru sedang berpesta saat darah berceceran di lantai bursa.”
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa investor berpengalaman biasanya menunggu momentum terbaik untuk masuk, bukan membeli secara emosional ketika pasar sedang panik.
Asing Sudah Keluar Besar, Tetapi Amunisi Masih Tersisa
Dalam unggahannya, Tung Desem Waringin memaparkan data bahwa investor asing memang sudah melakukan penjualan besar-besaran.
Beberapa angka yang ditampilkan antara lain:
- Net outflow pasar saham secara year to date (YTD): Rp64,8 triliun
- Net sell asing pada 29 Mei 2026: Rp8,51 triliun
- Penjualan asing pada tiga bank besar (BBCA, BBRI, BMRI) selama April 2026: sekitar Rp16,1 triliun
Namun menurutnya, angka tersebut belum berarti tekanan jual telah selesai. Investor asing masih memiliki kepemilikan yang sangat besar pada sejumlah saham blue chip Indonesia.
Berdasarkan data kepemilikan asing yang ditampilkan:
| Saham | Kepemilikan Asing | Estimasi Nilai Kepemilikan |
|---|---|---|
| BBCA | ±69,6% | ±Rp195 triliun |
| BBRI | ±58,1% | ±Rp116 triliun |
| BMRI | ±58,1% | ±Rp103 triliun |
Total kepemilikan asing yang masih tersisa pada ketiga saham perbankan tersebut mencapai sekitar Rp414 triliun.
Karena itu, Tung Desem Waringin mengingatkan investor agar tidak langsung menganggap pasar sudah mencapai titik terendah hanya karena harga saham turun cukup dalam.
Mengapa Investor Asing Menjual Saham Indonesia?
Dalam analisisnya, terdapat tiga faktor utama yang dinilai menjadi pemicu aksi jual asing.
1. Rupiah Menembus Rp18.000 per Dolar AS
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga melampaui level Rp18.000 per dolar AS membuat investor asing menghadapi risiko tambahan berupa kerugian kurs.
Ketika nilai tukar terus melemah, sebagian investor global memilih mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia dan mengalihkan dana ke instrumen berbasis dolar.
2. MSCI Rebalancing
Perubahan komposisi indeks MSCI memaksa sejumlah dana pasif global melakukan penyesuaian portofolio.
Akibatnya, saham-saham tertentu mengalami aksi jual otomatis atau yang sering disebut sebagai forced selling, meskipun fundamental perusahaan sebenarnya tidak berubah.
3. Perpindahan Dana ke Aset yang Lebih Aman
Ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya risiko pasar membuat sebagian investor institusi memilih memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Fenomena ini lazim terjadi ketika pasar global sedang berada dalam fase risk-off.
Jangan Tertipu Valuasi Murah
Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam unggahan tersebut adalah bahwa valuasi murah tidak selalu berarti saham siap naik.
Menurut Tung Desem Waringin, banyak investor tergoda membeli saham bank besar karena rasio valuasinya terlihat menarik. Namun selama porsi kepemilikan asing di saham tersebut masih dominan dan tekanan jual belum berhenti, harga saham tetap berpotensi turun lebih dalam.
Ia menegaskan bahwa rasio seperti Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) bisa kehilangan relevansi sementara ketika pasar sedang mengalami kepanikan massal.
Dalam kondisi seperti ini, arus dana menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan valuasi fundamental.
Tiga Aturan Emas Menghadapi Crash
Untuk menghadapi kondisi pasar yang bergejolak, Tung Desem Waringin membagikan tiga prinsip utama.
Tunggu Badai Mereda
Investor disarankan tidak langsung menginvestasikan seluruh modal.
Ia menyarankan mulai masuk hanya sekitar 25 persen dari modal ketika tekanan jual asing mulai berkurang.
Salah satu indikator yang digunakan adalah ketika nilai net sell asing turun di bawah Rp500 miliar per hari selama tiga hari berturut-turut.
Jangan Menangkap Pisau Jatuh
Meskipun saham bank besar memiliki fundamental kuat, investor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan average down secara agresif.
Menurutnya, investor perlu menunggu harga mulai stabil dan memasuki fase konsolidasi sebelum meningkatkan porsi pembelian.
Simpan Peluru untuk Overshoot
Pasar yang panik sering kali membuat harga jatuh jauh di bawah nilai wajarnya.
Karena itu, investor disarankan tetap menyimpan sebagian dana tunai agar memiliki fleksibilitas ketika peluang terbaik muncul.
Kapan saat yang Tepat untuk Masuk?
Tung Desem Waringin menyebut ada beberapa sinyal yang dapat diperhatikan sebelum melakukan akumulasi besar.
Indikator Pertama: Tekanan Jual Asing Mereda
Net sell asing berada di bawah Rp500 miliar per hari selama tiga hari berturut-turut.
Indikator Kedua: Bank Besar Mulai Dibeli Asing
Saham-saham seperti:
- BBCA
- BBRI
- BMRI
mulai mencatat net buy asing selama dua hingga tiga hari berturut-turut.
Indikator Ketiga: IHSG Tidak Membuat Titik Terendah Baru
IHSG tidak lagi mencetak low baru selama 5 hingga 7 hari perdagangan.
Indikator Keempat: Harga Mulai Bertahan
Harga saham mampu bertahan dan tidak lagi turun signifikan meskipun investor asing masih melakukan penjualan.
Jika seluruh indikator tersebut mulai muncul secara bersamaan, peluang bahwa tekanan jual telah mendekati akhir akan semakin besar.
Menurut analisis yang dibagikan Tung Desem Waringin, investor asing memang sudah menarik dana sekitar Rp64,8 triliun dari pasar saham Indonesia.
Namun kepemilikan asing yang masih tersisa pada saham-saham perbankan besar diperkirakan mencapai lebih dari Rp400 triliun, sehingga tekanan jual belum tentu sepenuhnya berakhir.
Karena itu, investor disarankan tidak tergoda membeli hanya karena harga terlihat murah. Strategi yang dianggap lebih aman adalah mempertahankan saham inti, masuk secara bertahap, menjaga posisi kas, dan menunggu tanda-tanda bahwa arus keluar dana asing mulai mereda.
Dalam kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, disiplin mengelola risiko dinilai lebih penting dibandingkan mengejar keuntungan jangka pendek.