BI Kurangi Lelang SRBI, Likuiditas Bank Mulai Diberi Ruang Lebih Besar

10 September 2026 11:00
Bagikan :
Ilustrasi | Bank Indonesia mengurangi frekuensi lelang SRBI untuk menjaga keseimbangan stabilitas rupiah dan likuiditas perbankan. (Gemini AI)

DOYANDUIT – Bank Indonesia (BI) mulai memberi ruang lebih besar bagi likuiditas domestik dengan mengurangi frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sejak sekitar Juni 2026, lelang SRBI dilakukan satu kali dalam sepekan, dari sebelumnya sekitar dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Perubahan tersebut dinilai menjadi bagian dari penyesuaian bauran kebijakan BI di tengah kondisi rupiah yang relatif lebih stabil. Di sisi lain, bank sentral tetap mempertahankan SRBI sebagai salah satu instrumen yang dapat digunakan ketika tekanan terhadap rupiah kembali meningkat.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, menilai pengurangan frekuensi lelang tidak bisa diartikan bahwa kebutuhan stabilisasi rupiah telah berakhir.

“Lebih tepat melihatnya sebagai bagian dari rekalibrasi bauran kebijakan BI sesuai dengan perkembangan kondisi pasar,” kata Faiz, Rabu (9/9/2026).

Likuiditas perbankan mendapat ruang lebih besar

Berkurangnya frekuensi lelang SRBI secara langsung membuat penyerapan likuiditas melalui instrumen tersebut ikut menurun.

Artinya, sebagian likuiditas yang sebelumnya berpotensi terserap ke SRBI dapat tetap berada di dalam sistem perbankan. Kondisi ini secara marginal dinilai positif karena dapat membantu mengurangi tekanan biaya pendanaan bank.

Faiz menyebut kondisi tersebut menjadi relevan karena pertumbuhan kredit perbankan masih relatif kuat dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Meski likuiditas perbankan secara agregat masih dinilai memadai, kondisi masing-masing kelompok bank tidak sepenuhnya sama. Karena itu, BI perlu menjaga agar kebijakan penyerapan likuiditas tidak justru mempersempit ruang perbankan dalam menyalurkan kredit.

BI juga dapat menggunakan instrumen lain untuk mengatur kondisi likuiditas.

“Karena itu, BI juga mengoptimalkan instrumen lain seperti Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan repo untuk mendukung penyaluran likuiditas dan memperkuat transmisi kebijakan moneter,” ujar Faiz.

SRBI tetap penting untuk menjaga rupiah

Meski frekuensi lelang dikurangi, SRBI belum kehilangan fungsinya dalam bauran kebijakan moneter BI.

Instrumen tersebut tetap dapat dioptimalkan ketika tekanan terhadap rupiah meningkat. Salah satu perannya adalah menyerap likuiditas sekaligus menjaga daya tarik aset berbasis rupiah bagi investor, termasuk investor nonresiden.

Dengan kata lain, pengurangan lelang bukan berarti BI melepas perhatian terhadap nilai tukar.

Faiz melihat ruang untuk kembali meningkatkan penerbitan SRBI tetap terbuka apabila kondisi eksternal dan pergerakan rupiah membutuhkan respons lebih kuat.

“Karena itu, ruang untuk mengurangi penerbitannya akan tetap bergantung pada perkembangan rupiah dan kondisi eksternal,” jelasnya.

Investor bisa mengalihkan dana ke SBN

Dampak kebijakan tersebut tidak hanya terasa di sektor perbankan. Berkurangnya pasokan SRBI juga berpotensi memengaruhi alokasi portofolio investor di pasar keuangan domestik.

Selama ini, SRBI dengan tenor relatif pendek dan imbal hasil yang kompetitif menjadi salah satu pilihan bagi investor. Ketika pasokannya berkurang, sebagian permintaan berpotensi bergeser ke Surat Berharga Negara (SBN) maupun instrumen pasar uang lainnya.

Perubahan alokasi tersebut secara marginal dapat memberikan sentimen positif bagi pasar SBN karena investor memiliki ruang untuk mengalihkan dana ke instrumen tersebut.

Namun, pergerakan imbal hasil SBN tidak hanya ditentukan oleh pasokan SRBI. Kondisi pasar global, kebutuhan penerbitan SBN pemerintah, hingga persepsi risiko investor tetap menjadi faktor yang ikut menentukan.

Ada risiko crowding out

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, melihat pengurangan lelang SRBI juga berkaitan dengan fungsi awal instrumen tersebut sebagai alat untuk membantu menjaga stabilitas rupiah.

“(Lelang dikurangi) benar karena instrumen SRBI diluncurkan untuk menstabilkan Rupiah. Saat ini secara mtd (month to date), saham dan SBN sudah mencatatkan net inflow yang mendukung stabilitas Rupiah,” jelas Faisal.

Menurut dia, langkah tersebut sekaligus dapat mengurangi dampak crowding out, yakni kondisi ketika instrumen tertentu menyerap dana yang seharusnya dapat mengalir ke sektor perbankan.

Dengan penerbitan SRBI yang lebih rendah, likuiditas di perbankan diharapkan menjadi lebih leluasa. Pada akhirnya, ruang likuiditas tersebut dapat mendukung penyaluran kredit dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Bukan berarti BI berhenti menjaga rupiah

Arah kebijakan BI saat ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk menjaga keseimbangan. Di satu sisi, bank sentral perlu memastikan rupiah tetap menarik di tengah dinamika pasar global. Di sisi lain, likuiditas domestik harus cukup untuk menopang fungsi intermediasi perbankan.

Karena itu, SRBI tetap disiapkan sebagai instrumen yang fleksibel. Ketika tekanan terhadap rupiah meningkat, penerbitan dapat kembali menjadi salah satu opsi untuk menyerap likuiditas dan memperkuat daya tarik aset rupiah.

Sebaliknya, ketika kondisi nilai tukar lebih terkendali, pengurangan pasokan SRBI memberi kesempatan lebih besar bagi likuiditas untuk berputar melalui sistem perbankan.

Arah tersebut membuat kebijakan lelang SRBI tidak semata-mata soal berapa kali instrumen diterbitkan dalam sepekan, tetapi juga mengenai bagaimana BI mengatur keseimbangan antara stabilitas rupiah, likuiditas perbankan, pasar keuangan, dan pertumbuhan ekonomi.

Berita Terbaru
32043
Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027, Total 26 Hari
harga emas
Harga Emas Dunia Tertekan, Pasar Makin Yakin The Fed Naikkan Suku Bunga
Screenshot 2026-09-15 101601
Anggota DPD RI Kenang Rapat Terakhir dengan Purbaya, Bawa Harapan 6 Program Besar dari Pengangkatan PPPK Paruh Waktu hingga Utang Daerah Dibayar Negara
suahazil nazara
Profil Suahasil Nazara: Guru Besar UI yang Kini Kelola APBN Rp4.000 Triliun, Hartanya Rp138 Miliar
menkeu ri
Empat Dugaan di Balik Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari Kursi Menteri Keuangan