
DOYANDUIT – Harga Bitcoin pada awal 2026 bergerak di kisaran USD 89.000, relatif stabil secara harian namun menunjukkan tekanan dalam skala mingguan dan bulanan.
Data kinerja menunjukkan pelemahan lebih dari 6 persen dalam sepekan dan koreksi tajam dalam enam bulan terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa pasar kripto sedang memasuki fase bear market baru.
Sejumlah analis global menilai, sinyal pelemahan kali ini tidak hanya berasal dari pergerakan harga, tetapi juga dari data makro dan on-chain.
Strategist Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, bahkan menyebut bahwa “era perdagangan Bitcoin yang agresif sudah berakhir” dan menyarankan investor untuk lebih berhati-hati di tengah perubahan struktur pasar aset berisiko.
Pandangan Bloomberg: Bitcoin Kini Bagian dari Sistem Keuangan
Bitcoin Tak Lagi Berdiri di Luar Sistem
Mike McGlone menilai daya tarik Bitcoin sebagai aset langka dan alternatif sistem keuangan mulai berubah. Menurutnya, korelasi Bitcoin dengan pasar saham semakin kuat, membuatnya rentan terhadap gejolak makro global seperti kebijakan suku bunga, inflasi, dan tensi geopolitik.
Ia menggarisbawahi beberapa faktor utama:
- Masuknya ETF Bitcoin yang memperluas akses institusi
- Volatilitas yang justru menurun di fase puncak siklus
- Lonjakan spekulasi yang menyerupai pola sebelum pasar berbalik arah
Dalam salah satu analisanya, McGlone menyebut, “Ketika emas, yang sering disebut sebagai batu bodoh, mulai mengungguli hampir semua aset, itu sering menjadi tanda bahwa pasar sedang menghadapi ketidakpastian besar.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa reli emas bisa menjadi indikator kehati-hatian terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Data CryptoQuant: Dari Realisasi Untung ke Realisasi Rugi
Pergeseran Dinamika On-Chain
Laporan CryptoQuant menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023, pemegang Bitcoin secara kolektif mulai merealisasikan kerugian. Dalam 30 hari terakhir, terjadi perubahan rezim dari fase ambil untung menuju fase jual rugi.
Beberapa poin penting dari analisis tersebut:
- Puncak realisasi keuntungan terus menurun sejak awal 2024.
- Pola ini membentuk “lower highs” yang menandakan melemahnya momentum harga.
- Sejak akhir Desember 2025, kerugian kumulatif setara puluhan ribu BTC telah terealisasi di jaringan.
Kepala riset CryptoQuant, Julio Moreno, menjelaskan bahwa perhitungan laba dan rugi didasarkan pada harga saat koin berpindah tangan dibandingkan dengan harga pada transfer sebelumnya.
“Semua transaksi terlihat di blockchain, dan kami mengombinasikannya dengan data harga dari bursa untuk menghitung profit dan loss,” ujarnya.
Cermin Siklus 2021–2022
CryptoQuant menilai pola saat ini sangat mirip dengan transisi bull market ke bear market pada periode 2021–2022. Saat itu, puncak keuntungan on-chain muncul lebih dulu, lalu perlahan menurun sebelum akhirnya digantikan oleh dominasi realisasi kerugian.
Indikator tahunan juga menunjukkan tren serupa. Total keuntungan bersih yang terealisasi kini turun ke level yang mendekati fase awal pasar bearish sebelumnya.
Menurut CryptoQuant, kondisi ini mencerminkan berkurangnya kekuatan beli dan meningkatnya kehati-hatian investor jangka panjang.
Pergerakan Bitcoin Lama: Sinyal dari Long-Term Holder
Pasokan Dormant Mulai Aktif
Data on-chain menunjukkan lonjakan pergerakan Bitcoin yang sebelumnya tidak aktif selama lebih dari dua tahun. Fenomena “revived supply” ini tercatat lebih besar dibandingkan puncak siklus 2017 dan 2021.
Analis menilai, pergerakan koin lama biasanya melibatkan pemegang besar dengan strategi jangka panjang. Ketika mereka mulai memindahkan aset, pasar sering menafsirkan adanya:
- Pengambilan keuntungan setelah siklus panjang
- Penyesuaian portofolio menghadapi risiko makro
- Reposisi aset ke instrumen yang dianggap lebih aman
Menariknya, pelepasan pasokan ini terjadi tanpa euforia ritel seperti pada puncak bull market sebelumnya. Harga tidak melonjak tajam, melainkan bergerak dalam tekanan stabil, seolah pasar sedang melakukan rotasi kepemilikan secara senyap.
Faktor Makro: Tekanan dari Aset Berisiko Global
Dampak Kebijakan dan Ketidakpastian
Tekanan terhadap Bitcoin di 2026 juga tidak terlepas dari kondisi global. Ketidakpastian perdagangan, kebijakan tarif, serta arah suku bunga di negara besar mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Ketika pasar saham melemah dan volatilitas meningkat, kripto cenderung ikut tertekan karena:
- Likuiditas global mengetat
- Investor memilih instrumen defensif
- Korelasi antar kelas aset semakin tinggi
Bitcoin tidak lagi dipandang sepenuhnya sebagai “safe haven”, melainkan sebagai bagian dari ekosistem risiko yang terhubung dengan pasar keuangan tradisional.
Apa Artinya bagi Investor di 2026?
Membaca Sinyal dengan Lebih Jernih
Berdasarkan pandangan Bloomberg dan data CryptoQuant, beberapa kesimpulan penting dapat ditarik:
- Momentum bullish jangka panjang mulai melemah.
- Aktivitas on-chain menunjukkan transisi menuju fase defensif.
- Perilaku long-term holder mengindikasikan reposisi, bukan euforia.
Bagi investor, fase seperti ini sering menjadi waktu untuk meninjau kembali manajemen risiko, alokasi aset, dan horizon investasi. Banyak pelaku pasar berpengalaman memilih strategi bertahap, bukan reaksi emosional terhadap fluktuasi jangka pendek.
Bitcoin 2026 di Uji Ketahanan
Bitcoin 2026 memasuki periode yang menantang. Peringatan dari analis Bloomberg tentang perubahan karakter Bitcoin sebagai aset, ditambah sinyal on-chain dari CryptoQuant yang menunjukkan pergeseran menuju realisasi kerugian, memperkuat indikasi bahwa pasar sedang berada di fase bear market.
Meski demikian, sejarah kripto menunjukkan bahwa setiap siklus koreksi juga membuka ruang konsolidasi dan pembentukan fondasi baru.
Dengan membaca data secara objektif dan menjaga perspektif jangka panjang, pelaku pasar dapat menavigasi fase ini dengan lebih tenang dan terukur.