
DOYANDUIT – Banyak operator sekolah dan wali kelas bingung ketika data kokurikuler sudah diinput di E-Rapor, tetapi tidak muncul saat rapor dicetak.
Dalam sebagian besar kasus, masalahnya bukan pada proses penilaian, melainkan pada tahap pengaturan awal yang belum lengkap.
Mulai dari tema kokurikuler, kelompok kegiatan, hingga deskripsi kokurikuler harus disiapkan dengan benar agar seluruh data dapat terbaca sistem saat proses cetak rapor.
Mengapa Kokurikuler Tidak Muncul di Rapor?
Berdasarkan pengalaman sejumlah operator sekolah, bagian yang paling sering terlewat justru ada pada pengaturan awal oleh administrator.
Guru sudah mengisi nilai, tetapi kelompok kokurikuler belum dibuat. Ada juga yang sudah membuat kelompok, namun belum menghubungkan kegiatan dengan profil lulusan.
Akibatnya, sistem tidak dapat menghasilkan deskripsi atau menampilkan data pada rapor akhir.
Beberapa penyebab yang sering ditemukan antara lain:
- Tema kokurikuler belum dibuat.
- Kegiatan kokurikuler belum diinput.
- Profil lulusan belum ditetapkan.
- Anggota kelompok belum ditambahkan.
- Nilai kokurikuler belum disimpan.
- Deskripsi kokurikuler belum dibuat atau digenerate.
Langkah Pertama: Setting Data Kokurikuler oleh Admin
Sebelum guru dapat mengisi nilai, administrator sekolah harus menyiapkan seluruh struktur kokurikuler terlebih dahulu.
1. Login ke Akun Administrator
Masuk ke aplikasi E-Rapor menggunakan akun administrator sekolah.
Pastikan aplikasi sudah menggunakan versi terbaru karena beberapa fitur kokurikuler mengalami pembaruan pada versi tertentu. Pengguna yang memakai versi lama kadang menemukan menu yang berbeda atau tidak lengkap.
2. Membuat Tema Kokurikuler
Masuk ke menu Data Kokurikuler lalu pilih Daftar Tema.
Di tahap ini admin dapat menambahkan tema kegiatan yang akan digunakan sekolah selama satu semester.
Contoh tema:
- Hidup Sehat Berkarakter
- Literasi dan Numerasi
- Peduli Lingkungan
- Kesehatan
Setiap tema dapat digunakan oleh beberapa kelas sesuai kebutuhan sekolah. Administrator biasanya perlu berkoordinasi dengan wali kelas agar tema yang dibuat sesuai dengan program yang benar-benar dilaksanakan di lapangan.
3. Menambahkan Kegiatan Kokurikuler
Setelah tema dibuat, pilih menu Kokurikuler.
Tentukan:
- Tema
- Fase
- Nomor urut kegiatan
- Nama kegiatan
- Tujuan kegiatan
Contohnya:
| Kegiatan | Tujuan |
|---|---|
| Senam Pagi | Membiasakan hidup sehat dan disiplin |
| Pojok Baca Kelompok | Menumbuhkan budaya literasi |
| Kerja Bakti Kelas | Melatih tanggung jawab dan kepedulian |
Satu tema dapat memiliki beberapa kegiatan dalam satu semester.
Menentukan Profil Lulusan pada Setiap Kegiatan
Tahap ini sering terlupakan.
Setelah kegiatan dibuat, admin perlu memilih Ubah Profil Lulusan lalu menambahkan capaian yang sesuai.
Misalnya:
- Kesehatan
- Kemandirian
- Kepemimpinan
- Gotong Royong
Dalam beberapa kasus, data kegiatan sudah tersimpan tetapi tidak memiliki profil lulusan. Saat kondisi ini terjadi, hasil penilaian sering tidak terbaca secara optimal pada laporan akhir.
Cara Menambah Profil Lulusan
- Klik Opsi.
- Pilih Ubah Profil Lulusan.
- Klik Tambah Capaian.
- Pilih profil yang sesuai.
- Simpan perubahan.
Membuat Kelompok Kokurikuler
Setelah kegiatan selesai disusun, admin harus membuat kelompok kokurikuler.
Menu ini digunakan untuk menghubungkan:
- Tingkat kelas
- Fase
- Koordinator
- Daftar kegiatan
- Anggota peserta didik
Langkahnya:
- Buat kelompok sesuai fase.
- Tentukan wali kelas atau koordinator.
- Tambahkan seluruh kegiatan yang sudah dibuat.
- Masukkan anggota kelompok sesuai kelas.
- Simpan data.
Menariknya, banyak pengguna baru sadar bahwa kelompok kokurikuler menjadi “jembatan” utama antara kegiatan dan penilaian guru.
Jika bagian ini belum dibuat, guru biasanya tidak menemukan data yang harus dinilai.
Cara Guru Mengisi Nilai Kokurikuler
Setelah pengaturan admin selesai, barulah guru dapat melakukan penilaian.
Masuk ke akun guru lalu pilih menu Nilai Kokurikuler.
Metode 1: Input Manual
Guru dapat mengisi capaian siswa satu per satu langsung di sistem.
Biasanya metode ini digunakan jika jumlah siswa tidak terlalu banyak atau ketika hanya ada sedikit revisi nilai.
Metode 2: Import Excel
Cara ini lebih praktis untuk kelas besar.
Langkahnya:
- Unduh format Excel yang tersedia.
- Isi nilai ketercapaian siswa.
- Simpan file.
- Unggah kembali ke E-Rapor.
Kategori ketercapaian biasanya terdiri dari:
- Berkembang
- Cakap
- Mahir
Berdasarkan pengalaman operator sekolah, metode impor jauh lebih cepat dibanding input manual terutama ketika harus mengolah banyak kelas sekaligus.
Jangan Lupa Membuat Deskripsi Kokurikuler
Setelah nilai selesai diisi, masih ada satu tahap penting yang sering terlewat.
Masuk ke menu Deskripsi Kokurikuler.
Pilih:
- Kelas
- Fase
- Kelompok
Kemudian lakukan salah satu cara berikut:
- Menulis deskripsi secara manual.
- Menggunakan fitur Generate Otomatis dari Nilai Kokurikuler.
Fitur otomatis biasanya menjadi pilihan favorit karena dapat menghemat waktu, terutama saat mendekati jadwal pembagian rapor.
Troubleshooting Kokurikuler Tidak Muncul di Rapor
| Masalah | Penyebab | Solusi |
|---|---|---|
| Kokurikuler tidak muncul | Tema belum dibuat | Tambahkan tema kokurikuler |
| Nilai tidak bisa diisi | Kelompok belum dibuat | Buat kelompok sesuai fase |
| Deskripsi kosong | Belum generate deskripsi | Gunakan fitur generate otomatis |
| Kegiatan tidak tampil | Belum ditambahkan ke kelompok | Tambahkan kegiatan pada kelompok |
| Data siswa tidak muncul | Anggota belum dimasukkan | Tambahkan seluruh peserta didik |
Cara input kokurikuler di E-Rapor sebenarnya tidak sulit jika urutannya dilakukan dengan benar. Proses dimulai dari administrator yang membuat tema, kegiatan, profil lulusan, dan kelompok kokurikuler.
Setelah itu guru dapat mengisi nilai, baik secara manual maupun melalui impor Excel, lalu membuat deskripsi agar data tampil saat rapor dicetak. Seluruh tahapan tersebut menjadi kunci agar hasil kokurikuler benar-benar muncul pada rapor siswa.
Jika Anda sering mengalami kendala serupa di E-Rapor, ada baiknya memeriksa kembali pengaturan kelompok dan deskripsi kokurikuler sebelum melakukan cetak rapor. Dua bagian ini menjadi sumber masalah yang paling sering ditemukan di sekolah.