
DOYANDUIT – Dalam banyak penjelasannya, Gus Baha menegaskan bahwa kekayaan bukan tujuan akhir hidup seorang muslim.
Namun, kondisi ekonomi yang cukup sering kali menjadi alat penting untuk menjaga keberlangsungan ibadah dan ketenangan beragama.
Ia mengingatkan bahwa kemiskinan ekstrem bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga bisa berdampak serius pada kehidupan spiritual seseorang.
“Fakir itu bisa mendekatkan pada kekufuran, bukan karena orang miskin itu salah, tetapi karena kemiskinan sering memaksa orang berada dalam sistem yang tidak ramah terhadap ibadah,” ujar Gus Baha dikutip dari kanal YouTube Pintu Ngaji.
Menurut pengamatan Gus Baha, banyak persoalan agama justru muncul bukan karena lemahnya iman, tetapi karena tekanan ekonomi yang membuat seseorang kehilangan pilihan.
Ciri Orang yang Derajat Hidupnya Akan Naik
Menjaga Ibadah Saat Diberi Kesempatan
Salah satu ciri naiknya derajat hidup, menurut Gus Baha, adalah ketika seseorang tetap menjaga ibadah saat mendapatkan kesempatan, kekuasaan, atau kelapangan rezeki.
Ia merujuk makna ayat tentang orang-orang yang diberi kedudukan di bumi, tetapi justru:
- Menegakkan salat
- Menunaikan zakat
- Menjaga keteraturan sosial
“Orang yang benar-benar naik derajatnya itu bukan yang lalai saat punya kuasa, tetapi yang justru makin tertib ibadahnya.”
Dalam pandangan ini, kaya bukan berarti bebas nilai, melainkan bertambah tanggung jawab.
Tidak Anti Harta, Tidak Diperbudak Dunia
Gus Baha juga mengkritik cara berpikir yang memusuhi kekayaan secara membabi buta. Ia menilai, sikap seperti itu sering kali lahir dari pemahaman zuhud yang keliru.
“Punya harta atau kedudukan itu penting supaya seseorang bisa membentengi agamanya. Bukan untuk pamer, tetapi agar ibadahnya tidak diganggu.”
Ia mengutip pandangan ulama klasik bahwa seseorang minimal memiliki kecukupan ekonomi (adna mal) atau posisi sosial (adna jah) agar dapat menjaga agamanya dengan aman.
Amar Makruf Nahi Mungkar Tidak Bisa Asal Niat
Perlu Kekuatan Sosial dan Sistem
Dalam ceramahnya, Gus Baha menegaskan bahwa amar makruf nahi mungkar bukan sekadar soal keberanian, tetapi juga soal kesiapan dan kekuatan sosial.
“Amar makruf nahi mungkar itu urusan. Kalau dilakukan tanpa kekuatan, yang terjadi bukan perbaikan, tetapi kesia-siaan.”
Ia menjelaskan bahwa sejarah para nabi menunjukkan satu pola penting: tidak ada nabi yang diutus tanpa perlindungan sosial.
“Allah tidak pernah mengutus seorang nabi kecuali dari kalangan yang punya perlindungan sosial, agar dakwahnya tidak langsung dihancurkan oleh kekerasan.”
Pesan ini penting di era modern, ketika semangat beragama sering kali terjebak pada ekspresi emosional tanpa perhitungan dampak.
Mengapa Kaya Bisa Memudahkan Ibadah?
Kekayaan Memberi Ruang Aman Beragama
Berdasarkan banyak kisah nyata yang ia sampaikan, Gus Baha melihat bahwa kemiskinan ekstrem kerap memaksa seseorang bekerja di lingkungan yang tidak ramah terhadap ibadah.
“Kalau terlalu miskin, seseorang sering tidak bisa menentukan waktu salatnya sendiri. Hidupnya bergantung pada sistem orang lain.”
Sebaliknya, kondisi ekonomi yang cukup memungkinkan seseorang:
- Mengatur waktu ibadah
- Menjaga pendidikan agama anak
- Tidak mudah ditekan secara keyakinan
Pembahasan ini relevan jika dikaitkan dengan artikel kami tentang hubungan ekonomi dan kebebasan beribadah dalam konteks masyarakat modern.
Menabung Tidak Mengurangi Kesalehan
Pelajaran dari Kisah Nabi Khidir
Gus Baha menolak anggapan bahwa orang saleh tidak boleh menabung atau merencanakan masa depan.
Ia sering mengangkat kisah Nabi Khidir yang menjaga harta anak yatim agar tidak dirampas orang zalim.
“Zuhud itu bukan membenci harta. Nabi Khidir justru menjaga harta anak yatim agar masa depan mereka selamat.”
Menurutnya, menabung demi keberlangsungan hidup anak dan agama justru merupakan bentuk tanggung jawab, bukan cinta dunia.
Tanggung Jawab Orang Tua dan Masa Depan Anak
Gus Baha juga mengingatkan bahwa sikap terlalu pasrah terhadap kemiskinan bisa berdampak panjang pada generasi berikutnya.
“Boleh jadi hari ini kamu masih bisa salat dengan nyaman. Tapi kalau kamu terlalu pasrah dengan kemiskinan, anakmu nanti belum tentu seberuntung itu.”
Karena itu, bercita-cita hidup cukup tidak mengurangi nilai zuhud selama niatnya benar dan jalannya halal.
Kaya Itu Sarana, Bukan Tujuan
Ciri orang akan menjadi kaya menurut Gus Baha bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari naiknya derajat hidup yang ditandai dengan:
- Kemandirian dalam beribadah
- Kematangan sosial
- Kemampuan menjaga agama dalam berbagai kondisi
“Silakan bercita-cita punya harta, asal tujuannya supaya ibadah lebih mudah dan agama lebih terjaga.”
Kekayaan, dalam pandangan ini, adalah alat untuk melindungi nilai, bukan menggantikannya.