
DOYANDUIT – Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) adalah inisiatif dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Dikti Ristek) yang bertujuan untuk memfasilitasi pengembangan usaha mahasiswa yang telah memiliki prototipe produk atau sudah menjalankan usaha.
Program ini juga menjadi kelanjutan bagi mahasiswa yang telah mengikuti Program Wirausaha Merdeka (WMK) dan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K).
Contoh Proposal Budidaya yang Lolos Pendanaan
1. Budidaya Ikan Lele oleh Mahasiswa Universitas Malikussaleh
Proposal berjudul “Budidaya Ikan Lele” yang diketuai oleh Afwandi S, mahasiswa Prodi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh, berhasil lolos pendanaan P2MW tahun 2023.
Bersama dua rekannya dari Prodi Teknik Sipil dan Agroekoteknologi, mereka mengembangkan usaha budidaya ikan lele sebagai solusi ketahanan pangan lokal.
2. MUSHITAA: Baglog Jamur Tiram Putih
Usaha “MUSHITAA” yang bergerak di bidang produksi baglog dan budidaya jamur tiram putih berhasil mendapatkan pendanaan P2MW tahun 2022.
Usaha ini didirikan oleh mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan tujuan mengolah limbah kayu albasia menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
3. Budidaya Ikan Lele oleh Mahasiswa Universitas Yudharta Pasuruan
Proposal budidaya ikan lele yang diajukan oleh mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Yudharta Pasuruan juga berhasil mendapatkan pendanaan P2MW.
Usaha ini fokus pada pemberdayaan mahasiswa untuk memulai usaha dan meningkatkan kemandirian.
4. BOKASHI: Composting Organik dengan Pemanfaatan Limbah Dapur Rumah Tangga
Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengembangkan usaha budidaya melalui pembuatan kompos organik dengan memanfaatkan limbah dapur rumah tangga.
Proposal ini berhasil mendapatkan pendanaan sebesar Rp 9.000.000.
5. DISSA: Pemanfaatan Limbah Kulit Bawang Merah dan Bawang Putih sebagai Pupuk Organik Cair
Masih dari UMP, tim lain mengembangkan usaha budidaya dengan memanfaatkan limbah kulit bawang merah dan bawang putih sebagai pupuk organik cair. Proposal ini mendapatkan pendanaan sebesar Rp 11.500.000.
6. Budidaya Ulat Hongkong Produksi Serbuk Ulat untuk Kesehatan dan Nutrisi Hewan
Mahasiswa Universitas Kuningan (Uniku) mengembangkan usaha budidaya ulat Hongkong untuk produksi serbuk ulat yang digunakan sebagai nutrisi hewan. Proposal ini berhasil lolos pendanaan P2MW tahun 2024.
7. Budidaya Burung Puyuh dengan Memanfaatkan Sampah Organik untuk Berkelanjutan Ekonomi Masyarakat Darma
Tim lain dari Uniku mengembangkan usaha budidaya burung puyuh dengan memanfaatkan sampah organik, bertujuan untuk mendukung ekonomi berkelanjutan masyarakat di daerah Darma.
8. Penggunaan Maggot Cycle sebagai Pengurai Limbah Sisa Makanan dengan Teknologi Biokonversi Melalui Maggot Lalat BSF
Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengembangkan usaha budidaya dengan memanfaatkan maggot lalat Black Soldier Fly (BSF) untuk mengurai limbah sisa makanan melalui teknologi biokonversi.
Proposal ini berhasil mendapatkan pendanaan P2MW tahun 2024.
9. Sconic: Pemanfaatan Scoby sebagai Produk Pupuk Organik Cair
Masih dari ULM, tim mahasiswa mengembangkan usaha budidaya dengan memanfaatkan Scoby (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) sebagai bahan untuk membuat pupuk organik cair.
10. MushroomMaze: Labirin Budidaya Jamur Tiram
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka (FST UT) mengembangkan usaha budidaya jamur tiram dengan konsep labirin, yang diberi nama “MushroomMaze”. Proposal ini berhasil lolos pendanaan P2MW tahun 2024.

Rekomendasi Masalah Aktual untuk Proposal Budidaya 2025
Dalam menyusun proposal Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) kategori budidaya, penting untuk mengidentifikasi permasalahan yang relevan dan aktual di masyarakat.
Permasalahan yang diangkat tidak hanya menjadi latar belakang dari ide usaha, tetapi juga menentukan urgensi, inovasi, dan kebermanfaatan dari solusi yang ditawarkan.
Berikut adalah beberapa isu aktual yang dapat dijadikan dasar dalam menyusun proposal budidaya:
1. Krisis Ketahanan Pangan Skala Lokal
Meskipun produksi beras nasional meningkat, beberapa wilayah masih menghadapi ketidakcukupan konsumsi pangan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Provinsi Aceh mencapai 9,10%, sementara di Sumatera Utara sebesar 7,54%.
Hal ini menunjukkan perlunya upaya peningkatan produksi pangan lokal melalui budidaya ikan lele, puyuh, atau maggot sebagai solusi berbasis komunitas.
2. Tingginya Volume Sampah Organik Rumah Tangga
Indonesia menghasilkan sekitar 64 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 12% atau 7,68 juta ton merupakan sampah plastik . Sebagian besar sampah organik rumah tangga belum dimanfaatkan secara optimal.
Pemanfaatan limbah dapur, kulit bawang, dan ampas buah sebagai bahan baku pupuk organik atau pakan ternak berbasis maggot dapat menjadi solusi inovatif dalam pengelolaan sampah.
3. Kurangnya Edukasi dan Praktik Pertanian Berkelanjutan
Perubahan iklim dan degradasi lingkungan menuntut praktik pertanian yang berkelanjutan. Namun, masih banyak petani dan generasi muda yang belum memahami konsep pertanian ramah lingkungan.
Pemerintah Indonesia telah meluncurkan program FAST (Food and Agriculture Sustainability Transformation) untuk mendorong pertanian berkelanjutan.
Proposal budidaya yang mengedepankan edukasi dan konservasi dapat berkontribusi dalam mengatasi masalah ini.
4. Pemanfaatan Limbah Industri Agro yang Belum Optimal
Sektor industri agro di Indonesia tumbuh sebesar 5,20% pada tahun 2024 dan menyumbang 8,89% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional .
Namun, limbah dari industri pengolahan kayu dan pertanian seringkali belum dimanfaatkan secara maksimal. Limbah seperti serbuk kayu atau sekam padi dapat dijadikan media tanam jamur, kompos, atau bahan baku budidaya lainnya.
5. Keterbatasan Akses dan Modal untuk Budidaya Skala Mikro
Banyak masyarakat, terutama mahasiswa atau pemuda desa, yang memiliki minat untuk memulai usaha budidaya namun terkendala oleh akses modal dan pengetahuan teknis. Pemerintah melalui program Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) berupaya mengatasi kesulitan modal bagi pelaku usaha mikro.
Proposal yang menawarkan solusi budidaya dengan biaya rendah, efisien, dan mudah direplikasi dapat membantu mengatasi keterbatasan ini.
Dengan mengangkat permasalahan yang nyata dan relevan, proposal Anda akan menunjukkan respons terhadap tantangan di masyarakat.
Pastikan untuk menyajikan data, kutipan, atau hasil observasi lapangan guna memperkuat narasi masalah dalam proposal.***