
DOYANDUIT – Bitcoin mencatat tonggak sejarah baru dengan menembus level 126.000 dolar AS untuk pertama kalinya pada awal pekan ini.
Lonjakan harga tersebut dipicu oleh arus masuk besar ke dana ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat, meningkatnya minat pada aset keras di tengah ketidakpastian fiskal, serta optimisme musiman yang dikenal sebagai “Uptober”.
Pada perdagangan Selasa (7/10/2025) pukul 14.08 WIB, harga Bitcoin berada di kisaran 123.844,84 dolar AS atau turun tipis 0,43% dalam 24 jam terakhir.
Meskipun mengalami sedikit koreksi akibat aksi ambil untung, secara mingguan BTC masih mencatatkan kenaikan 8,32%, sementara dalam sebulan terakhir melonjak 12,34%. Secara tahunan, Bitcoin telah menguat hampir dua kali lipat dengan kenaikan 97,18%.
Lonjakan harga ini turut membawa kapitalisasi pasar Bitcoin menembus 2,47 triliun dolar AS, dengan volume perdagangan harian mencapai lebih dari 68 miliar dolar AS.
Pasokan yang beredar saat ini tercatat 19,93 juta BTC dari total maksimum 21 juta BTC, mempertegas kelangkaan aset ini sebagai salah satu faktor pendorong harga.
ETF Spot Perkuat Permintaan Institusional
Salah satu faktor utama di balik reli Bitcoin kali ini adalah derasnya arus dana ke ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat.
Menurut data dari SoSoValue, pada pekan yang berakhir 3 Oktober, total arus masuk bersih ke ETF Bitcoin mencapai 3,2 miliar dolar AS, jumlah terbesar kedua sejak peluncurannya awal tahun ini. Dalam satu hari perdagangan saja, yakni pada 3 Oktober, arus masuk mencapai sekitar 985 juta dolar AS.
ETF spot memungkinkan investor institusional mendapatkan eksposur terhadap Bitcoin tanpa harus memegang aset kripto secara langsung.
Skema ini memperluas akses pasar sekaligus memberi legitimasi lebih bagi Bitcoin sebagai instrumen investasi. Arus dana dalam jumlah besar ini memperkuat momentum kenaikan harga karena memperbesar permintaan di pasar sekunder.
Shutdown Pemerintah AS dan “Debasement Trade”
Selain faktor ETF, ketidakpastian fiskal di Amerika Serikat juga ikut memperkuat daya tarik Bitcoin.
Shutdown pemerintahan yang berkepanjangan telah menghentikan sejumlah publikasi data ekonomi penting dan meningkatkan risiko kebijakan. Dalam kondisi seperti ini, investor global cenderung mencari alternatif di luar mata uang fiat.
Fenomena ini dikenal sebagai “debasement trade”, di mana modal beralih dari dolar AS ke aset keras seperti emas dan Bitcoin. Pergeseran tersebut sering kali muncul ketika pasar memperkirakan adanya pelonggaran moneter atau tekanan inflasi ke depan.
Sejumlah analis menilai, kombinasi antara arus masuk institusional melalui ETF dan ketidakpastian fiskal AS telah menciptakan lingkungan ideal bagi reli Bitcoin.
Investor melihat Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian, mirip dengan emas, namun dengan potensi pertumbuhan yang lebih tinggi.

Optimisme Musiman “Uptober”
Reli Bitcoin kali ini juga bertepatan dengan momentum musiman yang secara historis menguntungkan bagi pasar kripto.
Bulan Oktober sering disebut sebagai “Uptober” karena dalam beberapa tahun terakhir, kinerja harga Bitcoin di bulan ini cenderung positif. Faktor psikologis ini turut memperkuat kepercayaan investor ritel dan institusional.
Sejak awal Oktober, harga Bitcoin telah naik lebih dari 10%, memperpanjang tren penguatan yang dimulai sejak pertengahan tahun.
Dalam enam bulan terakhir saja, Bitcoin sudah melonjak hampir 50%, mencerminkan antusiasme pasar terhadap prospek jangka menengah aset digital ini.
Aksi Ambil Untung dan Prospek ke Depan
Meskipun reli masih kuat, aksi ambil untung sempat muncul setelah Bitcoin mencapai rekor tertinggi di 126.186 dolar AS. Pergerakan ini wajar mengingat lonjakan harga yang cepat dalam waktu singkat. Namun, koreksi tipis tersebut tidak mengubah tren utama yang masih positif.
Banyak analis memperkirakan harga Bitcoin berpotensi mengalami fase konsolidasi dalam jangka pendek sebelum melanjutkan tren kenaikan.
Faktor yang akan diawasi pasar dalam waktu dekat termasuk kebijakan moneter Amerika Serikat, kondisi likuiditas global, serta arus dana lanjutan ke ETF spot.
Jika tren inflasi dan ketidakpastian fiskal berlanjut, Bitcoin berpotensi tetap menjadi pilihan utama sebagai aset lindung nilai.
Kombinasi antara kelangkaan pasokan, dukungan institusional melalui ETF, dan sentimen musiman yang positif memberi landasan yang kuat bagi reli lanjutan.