
DOYANDUIT – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa pagi (7/4/2026) kembali melemah dan belum mampu mempertahankan level psikologis 7.000. Hingga pukul 09.24 WIB, IHSG tercatat berada di level 6.951,23, turun 38,20 poin atau sekitar 0,55%.
Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan pasar masih cukup kuat, meskipun sebelumnya sempat muncul harapan rebound teknikal.
Dengan posisi ini, IHSG semakin menjauh dari level 7.000 yang menjadi batas psikologis penting bagi investor.
Tekanan IHSG Masih Berlanjut: Apa Penyebabnya?
Pelemahan IHSG hari ini tidak berdiri sendiri. Jika melihat pergerakan sebelumnya, pasar memang sudah berada dalam tren koreksi sejak awal pekan.
1. Dominasi Sektor yang Melemah
Mayoritas sektor masih mengalami tekanan, terutama:
- Infrastruktur
- Barang konsumsi primer
- Kesehatan
- Teknologi
- Keuangan
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan bersifat cukup merata, bukan hanya pada sektor tertentu.
2. Aksi Jual Investor Asing Masih Membayangi
Salah satu faktor utama yang terus menekan IHSG adalah aksi jual bersih (net sell) investor asing yang cukup besar.
Saham-saham perbankan seperti:
- BBRI
- BMRI
- BBCA
masih menjadi target utama aksi jual, yang secara langsung memberikan tekanan signifikan pada indeks.
Analisis Teknikal IHSG: Rebound Tertunda, Waspadai Support
Secara teknikal, peluang rebound IHSG masih ada, namun kini semakin terbatas karena tekanan lanjutan di awal sesi perdagangan.
Mengacu pada analisis BNI Sekuritas:
“IHSG berpotensi rebound ke area 7.020–7.050, namun selama belum menembus level tersebut, risiko koreksi masih terbuka.”
Level Penting yang Perlu Diperhatikan
- Support kuat: 6.850 – 6.900
- Resistance terdekat: 7.020 – 7.050
Dengan posisi IHSG di 6.951 saat ini, indeks sudah mendekati area support. Jika level ini ditembus, potensi penurunan lanjutan bisa semakin besar.
Aktivitas Pasar: Tekanan Masih Dominan
Data perdagangan sebelumnya menunjukkan dominasi tekanan jual:
- Lebih dari 400 saham melemah
- Sekitar 250 saham menguat
- Sisanya stagnan
Volume transaksi juga tergolong tinggi, menandakan bahwa pelaku pasar masih aktif melakukan repositioning portofolio.
Berdasarkan pengalaman di pasar, kondisi seperti ini sering menjadi fase transisi sebelum terjadi pembalikan arah—namun belum tentu langsung terjadi dalam waktu dekat.
Rekomendasi Saham: Strategi Speculative Buy
Di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif, strategi yang digunakan cenderung bersifat selektif dan jangka pendek.
Saham Pilihan Hari Ini
Dikutip dari IDX Channel, berikut beberapa saham yang masih menarik untuk dipantau:
1. ESSA
- Buy: Rp655–665
- Target: Rp680–685
- Cut loss: < Rp650
2. MEDC
- Buy: Rp1.580–1.600
- Target: Rp1.630–1.650
- Cut loss: < Rp1.560
3. TPIA
- Buy: Rp3.900–3.990
- Target: Rp4.050–4.150
- Cut loss: < Rp3.870
4. ADMR
- Buy: Rp1.720–1.800
- Target: Rp1.865–1.900
- Cut loss: < Rp1.700
5. AADI
- Buy: Rp10.750–10.875
- Target: Rp11.000–11.275
- Cut loss: < Rp10.625
6. LSIP
- Buy: Rp1.440–1.460
- Target: Rp1.480–1.500
- Cut loss: < Rp1.435
Saham yang Masih Diborong Asing
Menariknya, di tengah tekanan IHSG, investor asing masih melakukan pembelian selektif.
Beberapa saham yang mencatat net buy antara lain:
- PTRO
- ADRO
- ASII
Selain itu, saham berbasis komoditas dan energi juga masih menjadi incaran, sejalan dengan tren global yang masih mendukung sektor tersebut.
IHSG Masih Rawan, Tapi Peluang Tetap Ada
Dengan posisi IHSG di 6.951, pasar saat ini berada dalam fase kritis. Tekanan masih dominan, terutama dari aksi jual asing dan lemahnya mayoritas sektor.
Namun, peluang rebound tetap terbuka jika:
- IHSG mampu bertahan di area support
- Ada perubahan arus dana asing
- Sentimen global membaik
Strategi terbaik saat ini adalah tetap disiplin, tidak agresif, dan fokus pada saham yang memiliki momentum kuat.