
DOYANDUIT – Pasar saham Indonesia membuka tahun 2026 dengan sentimen yang sangat positif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan perdana, Kamis (2/1/2026), ditutup menguat 1,17 persen ke level 8.748,13. Kenaikan ini langsung menjawab ekspektasi pelaku pasar yang menanti arah pergerakan IHSG di awal tahun.
Secara teknikal, IHSG dibuka di level 8.676,74, sempat menyentuh level tertinggi 8.748,13, dan bergerak di rentang 8.664,98 sebagai level terendah harian.
Dibandingkan penutupan sebelumnya di 8.646,94, penguatan ini menjadi sinyal awal kepercayaan investor terhadap prospek pasar modal Indonesia sepanjang 2026.
Kinerja positif tersebut tidak berdiri sendiri. Kombinasi sentimen global yang membaik, arus masuk dana asing, serta kondisi fundamental ekonomi domestik yang relatif solid menjadi faktor utama pendorong penguatan.
Optimisme Investor Menguat di Tengah Perbaikan Sentimen Global
Penguatan IHSG di awal tahun langsung mendapat perhatian dari para ekonom global. Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menilai lonjakan indeks pada hari pertama perdagangan 2026 sebagai sinyal jelas optimisme pasar terhadap masa depan ekonomi Indonesia.
Menurutnya, kenaikan IHSG sebesar 1,17 persen telah menetapkan “nada optimistis” bagi pasar sepanjang tahun. Ia menilai minat investor terhadap aset berisiko kembali meningkat seiring membaiknya sentimen global.
“Penguatan pasar di awal tahun sering kali menjadi indikator penting yang mencerminkan ekspektasi investor terhadap stabilitas ekonomi, arah kebijakan, serta potensi pertumbuhan suatu negara,” ujar Shan Saeed dalam keterangannya.
Sinyal tersebut dinilai semakin kuat karena ditopang oleh permintaan domestik yang tetap terjaga, baik dari konsumsi rumah tangga maupun aktivitas industri.
Proyeksi IHSG 2026: Potensi Naik 8–10 Persen
Berdasarkan konsensus pasar terkini, Shan Saeed memproyeksikan potensi kenaikan IHSG sepanjang 2026 berada di kisaran 8 hingga 10 persen. Proyeksi ini didukung beberapa faktor utama, antara lain:
- Konsumsi rumah tangga yang relatif stabil
- Permintaan domestik yang tangguh
- Meningkatnya kepercayaan investor global
- Konsistensi kebijakan ekonomi nasional
Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia juga dinilai masih berada di bawah rata-rata historisnya. Kondisi ini membuka peluang masuk bagi investor global yang selektif dengan potensi imbal hasil yang kompetitif.
Dalam pandangan banyak pelaku pasar, Indonesia kini semakin diposisikan sebagai salah satu pilar utama pasar berkembang berkualitas tinggi, tidak hanya karena potensi pertumbuhan, tetapi juga stabilitas ekonominya.
Penguatan IHSG Sejalan dengan Rally Bursa Asia
Sementara itu, Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, melihat penguatan IHSG di awal 2026 sebagai bagian dari rally regional di kawasan Asia. Kenaikan indeks saham terjadi relatif merata di berbagai bursa Asia, mencerminkan perbaikan sentimen investor kawasan.
IHSG tercatat naik sekitar 1,2 persen ke level 8.748, didorong oleh aksi beli kembali saham oleh investor setelah sebelumnya melakukan profit taking di akhir tahun 2025.
Momentum awal tahun ini dimanfaatkan investor untuk kembali masuk ke pasar, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya terkoreksi.
“Secara domestik, kondisi makroekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik,” ujar Andry.
PMI Manufaktur Masih Ekspansif, Permintaan Domestik Menopang
Dari sisi indikator ekonomi, Andry menyoroti PMI manufaktur Indonesia yang memang melandai ke level 51,2 pada Desember 2025, namun masih berada di zona ekspansi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur nasional tetap bertumbuh, meski dengan laju yang lebih moderat. Permintaan domestik tetap menjadi penopang utama, baik dari:
- Konsumsi rumah tangga
- Aktivitas industri dalam negeri
- Stabilitas sektor jasa dan manufaktur
Bagi investor, data ini memperkuat keyakinan bahwa perekonomian Indonesia masih berada di jalur pertumbuhan yang sehat.
Jika Anda ingin memahami lebih jauh bagaimana indikator PMI memengaruhi pergerakan saham sektoral, Anda bisa membaca artikel analisis ekonomi lainnya di kanal pasar modal kami.
Dana Asing Masuk Rp1,1 Triliun, Yield Obligasi Turun
Kepercayaan investor global terhadap Indonesia juga tercermin dari arus dana asing. Pada awal 2026, investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp1,1 triliun di pasar saham Indonesia.
Tidak hanya itu, minat terhadap pasar obligasi juga meningkat. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun tercatat turun ke level 6,05 persen. Penurunan yield ini mencerminkan:
- Meningkatnya minat investor
- Persepsi risiko yang semakin membaik
- Keyakinan terhadap stabilitas makroekonomi
Kombinasi masuknya dana asing dan turunnya yield obligasi memperkuat posisi Indonesia di mata investor global sebagai tujuan investasi yang relatif aman dan menarik.
Indonesia Dinilai Semakin Menarik sebagai Tujuan Investasi
Dengan penguatan pasar saham, arus masuk dana asing, serta kondisi obligasi yang kondusif, Indonesia dinilai memulai 2026 dari posisi yang relatif kuat. Menurut Andry Asmoro, faktor-faktor berikut menjadi penopang utama:
- Kebijakan ekonomi yang kredibel dan berkelanjutan
- Permintaan domestik yang solid
- Valuasi pasar yang masih atraktif
Penguatan IHSG di awal tahun ini pun dinilai bukan sekadar rally jangka pendek. Pasar melihat peluang terbentuknya fase penguatan yang lebih berkelanjutan, seiring terjaganya stabilitas ekonomi dan konsistensi kebijakan ke depan.
Bagi investor ritel, memahami dinamika awal tahun seperti ini penting untuk menyusun strategi jangka menengah. Anda juga dapat menelusuri artikel strategi investasi saham 2026 lainnya untuk memperkaya perspektif.