
DOYANDUIT – Tekanan di pasar saham domestik kembali terasa menjelang libur panjang tengah pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,23 persen ke level 6.130 pada perdagangan 26 Mei 2026. Posisi tersebut hanya terpaut tipis dari level terendah intraday di kisaran 6.124.
Pergerakan IHSG hari ini cukup menarik diperhatikan. Pada awal sesi, indeks sempat mencoba bangkit dan menyentuh area 6.286, bahkan mendekati level psikologis 6.300.
Namun tekanan jual perlahan meningkat sejak siang hingga akhirnya membawa IHSG kembali ke zona merah cukup dalam saat penutupan perdagangan.
Banyak pelaku pasar mengaku pola seperti ini belakangan cukup sering terjadi. Ketika indeks terlihat mulai pulih di sesi awal, tekanan profit taking justru muncul menjelang penutupan.
Terutama saat pasar berada di dekat periode libur panjang atau ketika sentimen global belum benar-benar stabil.
Pergerakan Indeks Lain Ikut Melemah
Bukan hanya IHSG yang mengalami koreksi. Sejumlah indeks utama lainnya juga bergerak negatif.
Berikut ringkasannya:
| Indeks | Pergerakan |
|---|---|
| MNC36 | -1,96% |
| Jakarta Islamic Index (JII) | -1,06% |
| LQ45 | -1,71% |
Tekanan terbesar terlihat pada saham-saham big caps yang sebelumnya menjadi penopang indeks. Saham bank besar dan sektor industri menjadi pemberat utama perdagangan hari ini.
Sementara itu, sektor teknologi dan infrastruktur masih mampu bertahan tipis di zona hijau.
Sektor Industri Jadi Penekan Utama IHSG
Rotasi sektor hari ini memperlihatkan tekanan cukup dalam di sektor industri yang turun sekitar 3 persen.
Saham emiten otomotif dan konglomerasi menjadi salah satu penyebab utama pelemahan tersebut. Dalam perdagangan intraday, beberapa saham bahkan sempat turun lebih dari 8 persen sebelum memangkas pelemahannya.
Sektor konsumsi primer juga ikut terkoreksi lebih dari 2 persen.
Menariknya, kondisi ini terjadi saat sebagian investor mulai mencari sektor defensif di tengah ketidakpastian global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Di lapangan, banyak trader harian mengaku pergerakan pasar saat ini terasa lebih “tajam”. Kenaikan cepat sering langsung diikuti tekanan jual dalam waktu singkat.
Saham Grup Prajogo Pangestu Rebound
Di tengah tekanan IHSG, saham-saham grup Prajogo Pangestu justru menjadi top gainers dan mencuri perhatian pasar.
Beberapa saham yang mengalami rebound di antaranya:
- BRPT
- TPIA
- PTRO
Ketiganya sempat mengalami koreksi cukup dalam dalam beberapa hari terakhir sebelum akhirnya kembali menguat.
Volume transaksi saham grup ini juga tergolong besar. Bahkan beberapa di antaranya mencatat transaksi di atas Rp1 triliun dalam satu hari perdagangan.
Berdasarkan pengamatan pelaku pasar, rebound seperti ini cukup umum terjadi setelah saham mengalami fase oversold yang dalam.
Namun investor tetap diingatkan untuk memperhatikan area resistance karena volatilitas masih cukup tinggi.
BBCA, BMRI, dan BBRI Jadi Pemberat Indeks
Saham-saham bank besar kembali menjadi perhatian karena ikut menekan IHSG.
Berikut beberapa saham yang menjadi pemberat pasar hari ini:
| Saham | Penutupan |
|---|---|
| BBCA | 5.975 |
| BMRI | 4.130 |
| BBRI | 3.070 |
| ANTM | 2.960 |
ANTM bahkan kembali turun di bawah level psikologis 3.000 setelah sebelumnya sempat bertahan di area tersebut.
Dalam beberapa kasus, investor ritel terlihat mulai lebih berhati-hati terhadap saham berbasis komoditas, terutama setelah harga emas global ikut melemah.
Saham Pilihan yang Masih Direkomendasikan
Meski IHSG terkoreksi, sejumlah saham masih dinilai menarik untuk trading jangka pendek.
Berikut beberapa saham yang masuk rekomendasi:
1. AMMN
Saham AMMN direkomendasikan buy dengan area support di kisaran 2.900–3.000.
Secara teknikal, saham ini sempat mencoba menembus resistance awal di area 3.370 tetapi belum berhasil bertahan.
Jika berhasil breakout di atas 3.370, target berikutnya diperkirakan berada di kisaran:
- 3.700
- 3.800
- 4.000
Berdasarkan pergerakan terakhir, kenaikan AMMN dinilai lebih banyak dipicu kondisi oversold setelah koreksi panjang.
Selain itu, sentimen sektor komoditas seperti harga emas dan tembaga juga masih sangat mempengaruhi arah pergerakan saham ini.
2. BBNI
BBNI menjadi salah satu saham bank yang dinilai memiliki struktur teknikal cukup menarik.
Saham ini ditutup di level 3.840 atau turun sekitar 1,29 persen.
Area penting yang diperhatikan investor saat ini berada di level 3.900.
Jika mampu breakout, potensi kenaikan selanjutnya diperkirakan menuju:
- 4.000
- 4.100
Sejumlah analis melihat BBNI mulai membentuk tren naik jangka pendek sejak April lalu.
Namun momentum pasar yang belum stabil membuat pergerakannya masih tertahan.
3. BRIS
BRIS juga masuk radar investor karena dinilai memiliki pola pergerakan lebih baik dibanding saham perbankan lain dalam dua hari terakhir.
Kunci utama saham ini ada di level psikologis 2.000.
Jika berhasil ditembus, target lanjutan diperkirakan berada di area:
- 2.200
- 2.300
Meski sempat bergerak fluktuatif hari ini, BRIS dinilai masih menarik diperhatikan untuk trading jangka pendek.
4. ICBP
Saham konsumer seperti ICBP mulai dilirik kembali setelah mengalami koreksi panjang dari area 8.700 ke bawah 7.000.
Hari ini ICBP ditutup di level 6.875 setelah sempat kembali naik di atas 7.000 saat intraday.
Beberapa trader menilai valuasi sektor konsumer mulai terlihat murah.
Apalagi ketika sektor lain belum memiliki katalis positif yang cukup kuat.
Namun ada satu hal yang cukup diperhatikan pasar: pelemahan rupiah.
Pelemahan Rupiah Jadi Tantangan Emiten Konsumer
Emiten seperti ICBP masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Karena itu, pelemahan rupiah bisa memberi tekanan terhadap biaya operasional perusahaan.
Meski demikian, pasar berharap perusahaan sudah melakukan langkah antisipasi seperti:
- hedging mata uang,
- diversifikasi supplier,
- hingga inovasi produk agar tetap sesuai daya beli masyarakat.
Bagian yang paling menarik, saham konsumer justru mulai kembali dilirik saat sektor komoditas dan saham siklikal kehilangan momentum.
Ini menunjukkan sebagian investor mulai mencari area yang relatif lebih defensif.
Pasar Masih Bergerak Sangat Sensitif
Perdagangan saham beberapa pekan terakhir memperlihatkan pasar bergerak sangat cepat terhadap sentimen.
Mulai dari isu global, harga komoditas, kebijakan ekspor, hingga pelemahan rupiah semuanya langsung mempengaruhi arah pergerakan saham.
Dalam kondisi seperti ini, banyak trader memilih strategi jangka pendek sambil menunggu arah pasar lebih jelas setelah libur panjang.
Investor juga mulai lebih selektif memilih saham dengan valuasi murah dan tekanan koreksi yang sudah cukup dalam.