
DOYANDUIT – Industri kripto kembali mencetak sejarah. Berdasarkan laporan terbaru Henley & Partners bekerja sama dengan New World Wealth, dunia kini memiliki 36 triliuner dan 241.700 miliader kripto, dengan total nilai pasar lebih dari $3,3 triliun. Angka ini mencatat pertumbuhan 45% dalam setahun terakhir.
Menariknya, lebih dari 60% kekayaan tersebut berasal dari Bitcoin, aset digital yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung ekosistem kripto.
Dari 36 triliuner kripto, 17 di antaranya memperoleh kekayaan dari Bitcoin, didorong pertumbuhan harga yang mencapai 55% secara tahunan.
Kenaikan ini beriringan dengan adopsi global yang semakin luas. Diperkirakan 590 juta orang di seluruh dunia kini memiliki aset kripto, atau sekitar 7,4% dari populasi global.
Dari jumlah itu, 295 juta adalah pemilik Bitcoin, meningkat 7% dibanding tahun sebelumnya.
Bitcoin Jadi Pusat Pertumbuhan
Bitcoin bukan hanya sekadar aset digital, tetapi juga simbol perubahan paradigma keuangan. JAN3 CEO Samson Mow menekankan perbedaan mendasar antara sistem uang tradisional dan kripto.
“Over any long-time horizon, fiat currency has one destiny: infinity. Bitcoin, on the contrary, has the opposite: 21 million,” ujarnya.
Menurut Mow, keterbatasan suplai Bitcoin menjadikannya aset langka yang kontras dengan mata uang fiat yang dapat dicetak tanpa batas. Ia menyebut kondisi ini sebagai “the defining paradox of our age”, sebuah paradoks yang menantang dominasi sistem keuangan tradisional.
Hanya 0,4% dari Miliuner Global
Meskipun angka miliader kripto terdengar besar, dalam skala global sebenarnya masih relatif kecil. Laporan UBS menunjukkan bahwa dari sekitar 60 juta miliader di seluruh dunia, hanya 0,4% yang berasal dari kripto.
Dominic Volek, Group Head of Private Clients Henley & Partners, menyatakan fenomena ini menciptakan tantangan baru bagi pemerintah dan lembaga keuangan.
“While roughly $14.4 trillion worth of wealth crossed national borders in 2024, the entire architecture of modern finance assumes that money has a home address — but cryptocurrency doesn’t,” kata Volek.
Ia menambahkan, kripto telah mengubah cara orang menyimpan kekayaan. Jika sebelumnya kekayaan selalu terkait lokasi, kini cukup dengan 12 kata sandi, seseorang dapat mengakses miliaran dolar Bitcoin dari mana saja di dunia.
Indeks Adopsi Kripto: Negara Paling Progresif
Selain memetakan kekayaan, laporan ini juga memperkenalkan Crypto Adoption Index. Indeks ini menilai negara berdasarkan aspek publik, infrastruktur, inovasi, regulasi, dan pajak.
Beberapa temuan penting:
- Singapura, Hong Kong, dan Amerika Serikat berada di posisi teratas secara keseluruhan.
- AS unggul dalam adopsi publik.
- Hong Kong memimpin dalam hal infrastruktur.
- Singapura dinilai paling inovatif.
- Australia dan Singapura dianggap memiliki regulasi terbaik.
- Monako dan UEA menonjol dalam kebijakan pajak yang ramah investor.
Tak hanya itu, negara-negara tersebut juga menawarkan program investment migration, yakni fasilitas bagi investor kripto kaya raya untuk mendapatkan izin tinggal atau bahkan kewarganegaraan alternatif.

Dampak bagi Ekosistem Keuangan Global
Fenomena miliader kripto ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan lebih dari setengah miliar pengguna, kripto bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan kelas aset baru yang mengubah cara kekayaan diciptakan dan dikelola.
Pemerintah dan regulator kini dihadapkan pada tantangan baru. Bagaimana menyeimbangkan inovasi teknologi dengan stabilitas ekonomi? Bagaimana merumuskan kebijakan pajak untuk kekayaan yang “tanpa alamat”?
Di sisi lain, bagi investor, laporan ini memperlihatkan bahwa peluang masih terbuka lebar. Meski jumlah miliuner kripto bertambah pesat, kontribusinya terhadap kekayaan global masih relatif kecil. Artinya, fase pertumbuhan industri ini kemungkinan belum mencapai puncaknya.
Laporan Henley & Partners menegaskan bahwa kripto telah memasuki fase arus utama (mainstream). Pertumbuhan triliuner dan miliarder kripto yang signifikan, dominasi Bitcoin dalam mencetak kekayaan, serta peningkatan jumlah pengguna global menjadi indikator kuat arah masa depan industri ini.
Dengan negara-negara seperti Singapura, Hong Kong, dan Amerika Serikat memimpin dalam adopsi, ekosistem kripto global tampaknya akan terus berkembang.
Namun, pertanyaan besar tetap ada: bagaimana dunia keuangan tradisional akan beradaptasi menghadapi realitas baru ini?