
DOYANDUIT – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026. Berdasarkan data terbaru pukul 04.16 UTC, 1 dolar Amerika Serikat tercatat setara Rp17.402.
Level tersebut memperpanjang tren pelemahan rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir terus menjadi perhatian pelaku pasar dan investor domestik.
Di saat pasar masih dibayangi kekhawatiran, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Purbaya Yudhi Sadewa justru tetap menyampaikan optimisme terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah juga datang bersamaan dengan koreksi pasar saham domestik. Setelah sempat menguat beberapa hari, IHSG kembali bergerak melemah akibat aksi ambil untung investor dan keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia.
Rupiah Melemah, Pasar Tunggu Kepastian
Pelemahan rupiah kali ini dinilai bukan hanya dipengaruhi faktor global seperti geopolitik Timur Tengah, penguatan dolar AS, atau kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Pelaku pasar juga menyoroti persoalan domestik, terutama menyangkut arah kebijakan ekonomi dan kepercayaan investor asing terhadap pasar Indonesia.
Dalam beberapa bulan terakhir, arus modal asing tercatat cenderung keluar dari pasar saham maupun obligasi domestik. Kondisi itu membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar.
Optimisme Pemerintah Masih Dijaga
Meski pasar bergejolak, pemerintah tetap mempertahankan narasi optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Purbaya sebelumnya menanggapi proyeksi Bank Dunia yang memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026. Menurutnya, kondisi ekonomi domestik masih cukup kuat dan target pertumbuhan pemerintah tetap realistis.
Pemerintah menilai stabilitas ekonomi masih bisa dijaga lewat konsumsi domestik, proyek strategis nasional, serta penguatan investasi jangka panjang.
Namun pasar tampaknya masih menunggu langkah konkret.
Investor menyoroti sejumlah faktor, mulai dari efisiensi anggaran pemerintah, ketidakpastian regulasi daerah, hingga efektivitas program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Bagi sebagian investor asing, proyek dengan periode balik modal panjang dianggap memiliki risiko tinggi, apalagi di tengah situasi global yang belum stabil.
Pemerintah Mulai Cari Sumber Dana Alternatif
Untuk mengurangi tekanan terhadap kebutuhan dolar AS, pemerintah juga mulai membuka opsi pendanaan alternatif lewat penerbitan obligasi global non-dolar, termasuk denominasi yuan.
Langkah itu dinilai sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS di tengah tingginya volatilitas pasar global.
Meski begitu, tantangan terbesar pemerintah saat ini bukan hanya menjaga rupiah tetap stabil, tetapi juga memulihkan kepercayaan investor.
Sebab di tengah pasar yang mudah berubah, sentimen sering kali bergerak lebih cepat dibanding data ekonomi resmi.
Untuk sementara, pelaku pasar masih cenderung wait and see sambil menunggu arah kebijakan global dan langkah lanjutan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.